Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 146. My Daddy is Crazy Rich CEO



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Zeno, Zero". Naro menguncang pelan tangan kedua adiknya.


"Iya Kak". Kedua nya sontak terbangun


"Sttttt, jangan keras-keras nanti Mommy terbangun". Keduanya mengangguk.


"Ada apa Kak?". Tanya Zeno yang masih terlihat mengantuk.


"Ayo ikut Kakak". Ucap Naro setengah berbisik "Pelan-pelan Zeno". Protes Naro.


"Hehe, Iya Kak maaf". Zeno cenggegesan.


Ketiga bocah itu keluar dengan mengendap-endap. Bahkan mereka berjalan pelan sekali takut suara kaki terdengar oleh Mommy dan adiknya.


"Ayo". Zeno dan Zero hanya mengangguk mengikuti kemana sang Kakak akan membawa mereka.


Mereka masuk kedalam ruang kerja Jovan. Disana banyak komputer mahal berjejer rapih. Jovan memang memiliki perusahaan IT jadi wajar saja jika dia memiliki banyak komputer mahal disana.


"Hidupkan komputer nya". Perintah Naro.


"Baik Kak". Kedua bocah itu menghidupkan komputer Jovan dengan lihai.


"Zero, retas rekaman CCTV diruangan kerja Ayah".


"Baik Kak".


Ketiga bocah itu mengotak-atik komputer Jovan. Mereka tampak ahli bahkan menekan tombol tanpa melihat angka atau huruf yang tertera.


"Search nama Kayhan Mahendra Bagaskara".


"Baik Kak". Mereka berdua menurut saja.


"Dek, lihat sini". Naro memanggil kedua adiknya.


Zeno dan Zero mengangguk dan menghampiri Naro yang menunjuk layar komputer nya.


"Ini Daddy kita". Naro menunjuk wajah Kayhan yang terdapat dilayar komputer nya


"Kenapa sangat mirip dengan kita Kak?". Tanya Zeno polos.


"Ck, kau lupa kita anaknya Zeno". Seru Zero menoel kepala adiknya.


"Aww. Kak". Protes Zeno mengusap kepalanya .


"Crazy rich CEO". Naro membaca keterangan yang terdapat tentang identitas Ayah mereka


"Ck, itu saja tidak tahu. Dasar anak kecil". Sindir Zero pada adiknya


"Kakak juga masih kecil". Celetuk Zeno tak mau kalah.


Zero mencibik kesal "Crazy Rich itu orang terkaya. Punya banyak uang. Punya banyak perusahaan". Jelas Zero.


"Berarti kita punya Daddy yang kaya". Senyum Zeno sumringah.


Sedangkan Naro masih fokus dengan komputer didepannya tanpa memperdulikan perdebatan kedua saudara kembar nya. Dia memang paling dingin diantara keduanya.


Naro masih mengotak-atik keyboard komputer nya. Dia mencari tahu tentang Ayahnya. Keluarga Ayahnya dan juga semua tentang Ayahnya. Naro tak mau melewatkan satu informasi pun.


"Lihat ini. Kenapa mirip sekali dengan Kak Ado?". Seru Zero menunjuk layar komputer Naro


"Iya Kak". Timpal Zeno yang juga melihat gambar dilayar komputer Naro.


"Seem Mahendra Bagaskara". Ucap Naro membaca identitas nya.


"Apa mungkin dia Ayah Kak Ado?". Ujar Zero


"Bisa jadi. Wajah mereka sangat mirip". Sahut Naro.


"Berarti kita saudara dengan Kak Ado. Daddy dengan Ayah Kak Ado saudara kandung?". Gumam Zeno.


Naro dan Zero mengangguk kompak "Tapi kenapa Mami Shella bilang Ayah Kak Ado sudah meninggal?". Zeno tampak berpikir lagi.


"Sudah jangan dipikirkan itu bukan urusanmu". Ketus Zero.


"Iya juga ya bukan urusanku. Kenapa aku jadi kepo begini". Zeno mengaruk tengguk nya yang tidak gatal.


"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini Kak?". Tanya Zero pada Kakaknya.


"Tidak ada". Sahut Naro singkat. Tapi tangannya masih mengotak-atik keyboard komputer nya.


"Apa kita tidak cari Daddy saja?". Saran Zeno. Langsung mendapat tatapan tajam dari Naro.


"Ck, Kak kondisikan matamu". Celetuk Zeno. Dia bergidik ngeri melihat tatapan sang Kakak.


"Jangan pernah mencarinya. Dia yang harus mencari kita. Ingat dia sudah menuduh Mommy berselingkuh dengan Ayah". Tegas Naro pada kedua adiknya.


Zeno dan Zero mengangguk paham. Percakapan mereka seperti percakapan orang dewasa yang membahas pekerjaan. Jika ada yang melihat pasti tidak percaya.


Bersambung........


Kayhan ❤️ Kimara