
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Seem sedang duduk dibalkon kamarnya, menikmati bintang malam yang bertaburan dilangit malam. Kota London terlihat indah jika malam hari, membuat perasaan Seem seketika tenang.
Seem menatap sebuah lukisan yang dia pasang dalam bingkai. Setelah mendengar kemarahan Aira padanya dan pada Kayhan, seketika perasaan Seem terbuka. Cinta memang tidak harus memiliki bukan? Bukankah cinta yang tulus akan mengikhlaskan dan melepaskan? Apa yang dikatakan Aira benar. Mungkin jika Seem menemukan Ara, dia bisa saja memiliki raga dan tubuh Ara tapi dia tidak akan bisa memiliki hati dan jiwa Ara.
Seem mengelus lukisan yang ada ditangannya. Lukisan wajahnya yang sempat dilukis Ara, saat mereka duduk ditaman. Seem menatap wajah serius Ara melukis wajah nya, jari lentik itu terlihat sangat lihai sehingga bisa membuat wajah yang ada disana sangat mirip dengannya.
“Ternyata benar, bahwa cinta tidak harus memiliki Ra. Terima kasih sudah pernah membuatku jatuh cinta dan terima kasih juga sudah menjadi obat dari phobia yang aku derita. Sekarang aku benar-benar sembuh tapi apa kau tahu Ra? Jika hatiku tak benar-benar sembuh, apalagi sekarang aku takkan bisa melihatmu sama sekali”.
“Aku bahagia kau menjadi milik Kay, meski ada luka dihati. Namun saat kau memilih orang lain entah kenapa aku terluka, aku paham bagaimana perasaan Kay, tapi memang benar bahwa cinta tidak selalu memiliki bukan?”.
“Aku pikir kamu adalah cinta sejati yang Tuhan kirimkan untuk menyembuhkan lukaku, namun nyatanya aku hanya terlalu berpikir dan banyak berharap. Aku pikir kamu adalah obat yang akan membalut segala luka-lukaku, tapi nyatanya kau adalah pisau yang terus menancap hingga menurihkan luka-luka kecil yang sangat perih”.
“Aku tak menyalahkanmu Ra, karena kau memang tidak bersalah dan bahkan kau tidak tahu jika aku sangat mencintaimu. Aku menyalahkan diriku sendiri yang terlalu mencintaimu, padahal aku sadar bahwa aku takkan pernah bisa ada dihatimu”.
“Saat aku melihat betapa Kay mencintaimu, aku mulai sadar aku bukan satu-satunya pria yang jatuh cinta padamu. Aku mulai sadar untuk tak berharap banyak, namun tetap saja aku egois ingin memilikimu dan merebutmu dari Kay”.
“Ra”. Seem menangis dalam diam. Hatinya bagai ditusuk ribuan pisau ketika mengingat semua ucapan Aira, saat Aira mengatakan bahwa dia tidak berhak atas Ara. Seem tak bisa berkata apa-apa, karena apa yang diucapkan Aira benar bahwa dia bukan siapa-siapa Ara. Dia hanya orang asing dan Kakak ipar yang kebetulan jatuh cinta pada istri adiknya.
“Kenapa melepaskanmu tak semudah yang kubayangkan Ra”.
Seem mengambil kotak lalu memasukkan lukisan itu kedalam kotak. Tak pernah Seem bayangkan bahwa dia akan menyerah dan perjuangannya berakhir sampai disini. Dia sempat berambisi untuk mendapatkan Ara dan menemukan gadis itu. Dia akan menikahi Ara dan menjadikan gadis itu miliknya. Namun lihatlah sekarang dia dipaksa menyerah setelah merasa bahwa Ara adalah wanita yang tepat menjadi penyembuh luka.
Seem selalu berharap jika Ara adalah malaikat yang Tuhan kirim untuknya menjadi penyembuh luka dan menjadi teman hidup yang terbaik untuk Seem. Ara, adalah gadis pertama yang membuatnya patah hati kian hebat, saat kekasihnya berkhianat Seem tak pernah merasakan terluka separah ini. Namun, saat mengetahui Ara menikah dengan adiknya Kayhan, hatinya sangat sakit. Sekarang dia harus benar-benar kehilangan Ara dan melepaskan gadis itu demi kebahagiaannya.
Namun, Seem yang jatuh cinta pada Ara membuat pria itu tak bisa mengelak dari perasaannya. Dia tidak mau menyalahkan Ara-nya, namun hatinya selalu ingin Ara mengerti bahwa dia sangat mencintai gadis itu. Seem ingin Ara jadi miliknya tapi dia tidak bisa memaksa. Ara takkan pernah mencintainya karena gadis pujaannnya itu mencintai adiknya sendiri.
Kehilangan Ara membuat Seem tak ingin mengenali dirinya sendiri, gadis itu hanya hadir sesaat dalam hidupnya namun untuk melupakan gadis itu mengapa dia sangat kesulitan.
Ditempat lain……..
Kayhan mengambil lukisan diatas mejanya. Lukisan hadiah ulang tahun dari istrinya Ara. Lukisan yang membuatnya tahu jika istrinya memiliki bakat luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang lain termasuk dirinya. Kayhan sampai menangis terharu saat Ara memberikan lukisan itu padanya. Dia sangat berharap apa yang dilukisan Ara menjadi kenyataan, dimana dia dan Ara akan hidup bahagia dan memiliki empat.
Bibir Kayhan bergetar menatap lukisan itu, lagi-lagi dia menangis, ternyata kehilangan tak sebercanda ini. Dia kembali teringat bagaimana dulu dia mengintrogasi Ara saat gadis itu terlambat yang disebabkan oleh kematian Ayahnya, seminggu kemudian Ibunya menyusul dan lagi beberapa minggu kemudian adiknya yang menyusul pergi.
“ARA”.
Kayhan terduduk dikursi kebesarannya. Untung saja Cody tidak ada diruangan jadi tidak ada yang melihatnya menangis serapuh itu.
“Ara, kadang aku ingin tertawa sekencang-kencangnya. Menatap matamu dan menyakini bahwa kau sedang bercanda. Aku benar-benar tidak percaya. Bagaimana mungkin kau yang menabur janji, kini kau cabut sendiri. Kau seperti orang yang tidak mengenalku. Kau biarkan aku tertinggal dengan perasaan yang kau tanggalkan. Katamu, aku adalah belahan dari jiwamu dari cinta yang kau miliki. Tapi sesaat kemudian kau membuatku merasa tak diinginkan”.
“Kenapa Ra? Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan kita? Mengapa melepaskanmu tak semudah yang kukata? Mengapa hanya untuk memulai hidup yang baru tanpamu rasanya aku tak bisa?”. Rintihan Kayhan sambil memeluk lukisan istrinya.
“Setelah hari-hari yang sedih berlalu. Bulan-bulan pahit memulihkan diriku. Aku menyadari satu hal; yang bukan untukku, sekeras apapun kupaksakan, tetap saja takkan menjadi milikku. Yang kuperjuangkan sekuat usahaku, jika kau tak memperjuangkanku sepenuh hatimu, tetap saja kita akan berlalu. Hidup terlalu pendek untuk dihabiskan dengan kesedihan berkepanjangan. Aku belajar menerima diri; bahwa aku memang bukan orang yang kau inginkan. Kelak, suatu hari nanti kau juga harus belajar menyadari. Bahwa kau sudah kulupakan dan bukan orang yang penting kemudian. BoyCandra”.
Bersambung......
Kayhan ❤️ Kimara