Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 46. Sedikit demi sedikit



Sedikit lagi kita bisa mencapai puncaknya. Bertahan lah, sebentar lagi saja. Aku berjanji akan menunjukkan kepadamu ribuan bintang yang sedang berbaris rapih diatas langit malam.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Roger dengan serius membolak-balik dokumen yang ada ditangan nya.


"Ini sudah benar kan?". Tanyanya pada sang sekretaris.


"Sudah benar Tuan, semua rincian biaya tertera dimasing-masing gambar. Silahkan Tuan cek". Sahut sang sekretaris sambil menunjuk kearah dokumen yang ada ditangan Roger.


"Baik kau boleh keluar". Ucap Roger dingin, mulai risih dengan tingkah kecentilan sektaris barunya.


Selama tiga bulan perjalan, Roger berhasil mencapai setiap target nya. Dimana mereka menciptakan aplikasi baru yang meluncur beberapa bulan lalu sehingga dirinya diangkat menjadi wakil direktur, dibawah naungan Jovan.


Pria tampan itu sudah membuktikan kesuksesan nya. Terbukti dalam waktu tiga bulan dia bisa mencapai target dan bahkan aplikasi yang diciptakan oleh Roger, naik pesat menjadi incaran para bidang IT.


"Bagaimana, semua beres?". Tanya Jovan masuk kedalam ruang Roger. Dia bangga pada sahabat nya itu.


"Seperti yang sudah kita prediksi". Sahut Roger "Aku yakin aplikasi ini akan buming. Karena selain bisa meretas data perusahaan, aplikasi ini juga memiliki kelebihan ganda"". Jelas Roger.


Jovan manggut-manggut mendengar penjelasan Roger. Kedua nya memang berbakat dibidang IT.


"Ya sudah, kita makan siang dicaffe Jolenta saja yuk". Ajak Jovan. Jolenta saudara kembar Jovan. Mereka kembar tiga, satu perempuan tinggal di Belanda dan sudah menikah dan memiliki anak.


"Baiklah". Sahut Roger.


Mereka berdua masuk kedalam mobil dan menuju caffe Jolenta. Selain memiki caffe Jolenta juga memiliki perusahaan bersama JK group, yang bergerak dibidang property.


Jovan dan Roger turun dari mobil, sontak saja menjadi pusat perhatian para pengunjung caffe. Apalagi wajah Jovan yang sangat mirip dengan Jolenta, hanya saja model dan gaya rambut nya yang berbeda.


"Hai Roger". Sapa Jolenta saat mereka berdua sudah masuk kearah caffe.


"Hei Jo". Mereka berdua saling berpelukkan "Apa kabar?". Tanya Roger melepaskan pelukkannya.


"Seperti yang kau lihat". Sahut Jolenta sambil mengedipkan bahunya "Mari duduk". Ajak Jolenta.


"Cih, saudara nya sendiri tidak ditawari". Sindir Jovan, mereka berdua memang seperti anjing kucing jika bertemu, namun saling menyayangi.


"Hei saudara kembar ku yang tidak tampan, hampir saja aku melupakanmu. Ahh salah aku tidak melihatmu tadi". Ejek Jolenta memeluk Jovan "Aku merindukanmu hiks".


"Cih, jijik". Jovan melepaskan pelukkan Jolenta dan Roger hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kedua kembar itu.


Roger cukup mengenal Jolenta yang juga sahabat dekatnya saat SMA. Namun, setelah lulus sekolah Jolenta memilih melanjutkan study di Australia, sedangkan Roger dan Jovan tetap stay di Indonesia.


"Kalian mau pesan apa? Tidak usah bayar, hari ini gratis". Celetuk Jolenta membangga.


"Harusnya memang selalu gratis Jo, tidak boleh pelit pada saudara kembar sendiri". Sindir Jovan.


"Aku menawari Roger Van. Bukan menawari mu". Cibir Jolenta.


Roger menggeleng kepala melihat tingkah Kaka adik itu, tapi seru juga melihat mereka berdebat. Bagaimana jika mereka mencintai gadis yang sama, pasti lebih seru saat melihat keduanya bertengkar.


Pesanan yang mereka pesan pun datang.


"Oh ya Ger, Van. Perkenalkan ini sahabatku Kayhan. Dia bekerja disini". Ucap Jolenta.


Roger dan Jovan mengangkat pandangan nya dan betapa mereka terkejut saat melihat Kayhan membawa makanan untuk mereka dan yang lebih membuat mereka terkejut, Kayhan memakai baju pelayan.


Kayhan hanya mengangguk dengan wajah datar sambil meletakkan makanan diatas meja.


"Silahkan dinikmati Tuan". Ucap Kayhan ramah, dia sama sekali tidak peduli dengan tatapan bingung Roger dan Jovan. Mereka memang tidak akrab, Roger mengenal Kayhan sejak Kayhan menikah dengan adiknya Ara.


"Kayhan tunggu". Cegah Roger saat Kayhan ingin mellengang pergi dari sana.


Kayhan berbalik "Ada yang bisa saya bantu?". Tanya Kayhan alisnya naik turun ketika melihat wajah Roger yang seperti menyelidik.


"Bisa bicara?". Kayhan hanya mengangguk.


Empat orang pria seusia tengah duduk saling terdiam. Jolenta, melihat ketiga orang itu secara bergantian. Dalam hati bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka? Terutama Roger, Jolenta sangat mengenal Roger tipe pria keras dan sulit diatur selalu membuat masalah. Anehnya bisa bertobat sejak keluar dari penjara.


"Apa yang terjadi?". Tanya Roger pada adik iparnya "Bagaimana keadaan Ara?". Sambung Roger.


Kayhan menarik nafas dalam. Setiap kali mengingat perlakukan keluarganya terhadap Ara, dada Kayhan terhadap sesak melihat penderitaan istrinya.


Lalu Kayhan menceritakan semua masalah yang tengah dia alami. Sebenarnya Kayhan tak suka menceritakan masalah rumah tangganya kepada orang lain meskipun itu Kakak iparnya sendiri. Namun karena Roger terus mendesak dan mencecar Kayhan dengan berbagai pertanyaan akhirnya Kayhan menceritakan semuanya.


"Brengsekkkk". Pekik Roger tangan pria itu terkepal dan rahangnya mengeras kuat. Andai saja ada Bagaskara ditempat itu sudah pasti dia akan menghabisi tua bangka tidak tahu diri itu.


"Lalu bagaimana kondisi Ara?". Sambung Jovan, tanpa sadar tangan pria itu mengepal kuat ketika Kayhan menceritakan semuanya.


Kayhan menatap ke arah Jovan saat menanyakan tentang istrinya. Apa maksud pria ini?


"Dia baik-baik saja bersama ku". Jawab Kayhan dingin dan penuh penekanan.


"Kay, apa sebaiknya kalian tinggal bersamaku saja? Aku tidak mau Ara menderita". Timpal Roger.


Kayhan menatap Roger tidak suka "Tidak perlu! Kami bahagia tinggal dirumah kecil, dan istriku dia mempermasalahkannya". Jawab Kayhan dingin. Bukan Kayhan tak menghargai jika Roger ingin membantunya. Tapi Kayhan tidak mau bergantung pada orang lain. Dia ingin seperti istri kecilnya yang mandiri dan tidak pernah minta-minta.


"Tapi......".


"Biarkan aku menyelesaikan masalahku dengan istriku. Bukan aku ingin menolak bantuanmu, tapi Ara baik-baik saja bersamaku. Dia wanita hebat yang tidak pernah mengeluh. Biarkan kami berjuang bersama, dan kuharap kau mempercayaiku. Masalah keluargaku, aku tidak peduli. Bagiku Ara segalanya. Aku rela bekerja apa saja untuk untuknya, asalkan aku dan dia tetap bersama". Jelas Kayhan memotong ucapan Roger.


Roger menghela nafas kasar "Baiklah, izinkan aku menemui kalian nanti dikontrakkan. Aku ingin bertemu Ara". Pinta Roger penuh harap.


"Baik, nanti aku akan mengirim alamat nya". Kayhan berdiri "Jika tidak ada lagi, aku permisi masih banyak pekerjaan yang harus kukerjakan". Tanpa menunggu jawaban dari mereka Kayhan mellengang pergi dari sana.


Jolenta masih tidak mengerti apa yang terjadi pada mereka? Bahkan Jolenta terkejut saat tahu jika Kayhan sudah menikah. Jolenta cukup terharu dan bangga mendengar cerita Kayhan yang rela meninggalkan keluarganya demi bahagia bersama istrinya. Dan rela kehilangan harta benda dan jabatan, agar bisa selalu bersama istrinya. Sungguh kisah cinta yang membuat Jolenta iri.


Jovan, pria itu terdiam seribu bahasa. Hatinya berdenyut saat Kayhan menceritakan betapa menderitanya Ara. Banyak kejadian yang menimpa gadis itu tapi dia selalu terlihat baik-baik saja.


"Apa yang akan kau lakukan?". Tanya Jovan pada Roger


Roger menghela nafas "Tidak ada! Ara adalah gadis yang keras kepala, dia tidak akan menerima bantuan ku. Apalagi dia sudah berkeluarga". Sahut Roger sambil menyenderkan punggungnya "Bagaskara benar-benar keterlaluan". Wajah Roger berubah merah padam saat mengingat nama Bagaskara "Jika aku tahu dari awal mereka akan menyiksa Ara, lebih baik aku tidak merestui pernikahan Ara dan Kayhan". Sambung Roger lagi.


Jovan tak menanggapi, dia juga bingung harus bagaimana. Ara memang gadis keras kepala, dan Jovan cukup mengenal gadis itu dengan baik. Karena ketika SMA dia sering berkunjung kerumah Roger mengerjakan tugas sekolah.


"Biarkan saja lah Ger. Benar kata Kayhan, tidak seharusnya kau ikut campur, lagian ini masalah rumah tangga mereka. Biarkan mereka yang selesaikan". Ucap Jolenta menagahi. Meskipun dia tidak tahu dan tidak mengenal Ara, tapi dia yakin gadis itu memang keras kepala dan juga sepertinya cukup menarik. Batu es seperti Kayhan saja bisa dicairkan olehnya.


**Bersambung.......


Salam hangat.


Kayhan ❤️ Kimara**