
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Ara dan Aldo menutup galeri mereka. Hari ini hanya menyusun lukisan-lukisan yang mereka bawa dari Belanda. Karena mereka akan cukup lama berada di Negara ini. Sampai Nara selesai mengikuti lomba melukis itu.
“Bunda, kita singgah sebentar di Mall. Ado ingin membeli beberapa buku sekolah”. Ucap Aldo.
“Iya sayang. Bunda juga ingin membelikan sepatu untuk mereka bereempat”. Ucap Ara
“Iya Bunda”. Senyum Aldo
Mobil yang Ara kendarai berhenti tepat diparkiran Mall. Ara dan Aldo keluar dari mobil dan melangkah masuk kedalam untuk mencari sesuatu yang ingin mereka beli.
“Bunda, Ado kesana ya”. Aldo menujuk took buku.
“Iya sayang”.
Aldo melangkah menuju rak buku. Dia akan membeli beberapa buah buku untuk awal masuk, karena pindahan dari luar negeri tentu banyak peraturan yang berbeda dari sekolah lamanya di Belanda.
Brakkkkkkkkkkkkkkkk’
Tidak sengaja Aldo menabrak sesuatu yang terasa sangat besar
“Maaf Tuan”. Aldo mengambil bukunya yang terjatuh dilantai.
“Tidak apa-apa”. Aldo berdiri dibantu oleh pria itu.
Deg deg deg deg deg
Pandangan keduanya bertemu. Aldo diam mematung menatap pria dewasa didepannya ini.
“Kenapa mirip denganku?”. Batin pria itu.
“Kenapa dia mirip aku?”. Batin Aldo.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Entah apa yang membuat keduanya saling tatap, seperti pertemuan yang sudah lama ternantikan.
“Ado”. Panggilan itu membuyarkan kedua pria tampan yang tengah saling melihat itu.
“Iya Bunda”. Aldo segera mengalihkan pandangannya kearah Ara yang berjalan menghampirinya dengan membawa empat paper bag ditangannya.
“Ada apa?”. Ara tersenyum hangat kearah putra angkatnya tanpa melihat pria yang membelakanginya.
“Sia…….”. Suara Ara seketika tersekat ketika melihat pria yang berdiri disamping Aldo
“A-ara”.
“Kak Seem”.
Ya pria itu adalah Seem. Dia sedang mencari beberapa buku referensi bisnis.
“Ara”.
“Kak Seem”.
Seem tak mampu lagi mengucapkan kata-kata. Jantungnya berdebar saat melihat Ara dan perasaan itu kembali tumbuh. Tuhan, sungguh Seem tak menyangka bertemu dengan gadis yang dia cari selama kurang lebih enam tahun
“Ara”.
Gleeeeeeeeeppppppp
Seem langsung memeluk Ara. Sungguh dia merindukan gadis kecil ini. Gadis yang membuatnya sembuh dari Gynopobia. Gadis yang tidak tergila-gila dengannya. Tidak peduli status gadis ini janda bekas adiknya, bagi Seem bertemu Ara adalah hal terindah dalam hidupnya.
“Kak Seem”. Ara juga membalas pelukkan Seem. Bahkan tanpa sadar tangannya melingkar dipingang mantan kakak iparnya itu.
“Ara, hiksss”. Seem menangis bahagia. Dia menghilangkan jutaan gengsinya demi melepas rindu pada Ara. Dia tidak ingin menyia-nyiakan pencariannya selama lima tahun. Dia ingin rindunya ini terobati.
“Ara”. Seem masih memeluk Ara dengan isak tangis bahagia.
Sedangkan Aldo mematung ditempatnya. Pria yang begitu mirip dengannya kini memeluk Bunda-nya dengan isakkan tangis yang terdengar. Bahkan mereka menjadi pusat perhatian pengunjung ada yang memotret secara diam-diam. Namun tetap tak pedulikan oleh Seem.
Seem, Ara dan Aldo duduk disebuah caffe. Tak ada yang berbicara duluan. Jika Seem sibuk menatap Ara yang sedang menyesap minumannya. Maka Aldo sibuk menatap Seem dengan tatapan tak terbaca. Dia menyelidik wajah pria yang terlihat bahagia melihat Ibu angkatnya itu.
“Apa dia Ayah ku? Kenapa wajahnya sangat mirip denganku?”. Batin Aldo
“Jadi, kemana saja kau selama ini? Aku mencarimu hampir ke seluruh dunia?”. Seem ikut menyesap minuman dalam gelasnya.
“Maaf Kak, aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Belum waktunya kakak tahu”. Ucap Ara tak nyaman, takut jika Seem tahu keadaan dirinya selama menghilang.
Seem tersenyum gemes “Kau tidak mempercayaiku?”. Sindir Seem. Gadis didepannya ini tak berubah masih saja tertutup. Sedangkan Aldo hanya menjadi pendengar saja.
“B-bukan begitu Kak. Tidak semua harus kakak tahu”. Kilah Ara mencari alasan.
Seem beralih menatap Aldo “Siapa dia?”. Tanya Seem melihat Aldo. Aldo hanya menunjukkan ekspresi dinginnya.
“Putra angkatku. Anak dari temanku”. Jawab Ara apa adanya.
Seem menyelidik wajah Aldo yang begitu mirip dengannya. Dia penasaran siapa Ayah dari bocah itu? Kenapa mirip sekali dengan wajahnya?
“Jangan melihatku begitu Tuan”. Sindir Aldo dingin.
Seem terkesiap mendengar suara dingin dari pria kecil itu. Tatapan mata dan cara bicaranya benar-benar mirip dengannya.
“Ado”. Ara mengelus lembut tangan Aldo “Tidak boleh begitu. Hormati orang yang lebih tua darimu”. Tegur Ara.
Aldo mengangguk dan tersenyum hangat “Maaf Bunda”. Aldo membalas elusan tanganya Ara.
“Minta maaf padanya bukan pada Bunda”. Perintah Ara lembut.
“Maafkan aku Tuan”. ucap Aldo memaksakan senyum diwajahnya.
Seem benar-benar kagum melihat Ara mendidik anak angkatnya. Bocah itu seketika menurut dengan apa yang Ara katakan.
“Apa kakak sudah lama disini?”. Tanya Ara
“Baru kemarin”. Sahut Seem singkat.
Mereka kembali terdiam. Suasana canggung terasa begitu mencengkram. Seem yang masih belum percaya karena bisa bertemu Ara, terus menahan gejolak bahagia dalam hatinya.
“Bunda, sepertinya sudah sore. Ayo kita kembali”. Aldo beranjak dari duduknya.
“Iya sayang”. Ara mengambil tas munggilnya “Kak, aku pamita ya. Kakak jaga kesehatan”. Ara mengecup punggung tangan Seem.
Membuat Seem membeku ditempatnya sudah lama tak ada orang yang sopan padanya
“Hati-hati”.
Ara dan Aldo meninggalkan Seem yang menatap mereka dengan intens. Seem memegang dadanya, jantungnya kembali berdebar dengan kencang.
“Akhirnya kau kembali gadis kecil”. Senyum Seem bahagia. Lalu dia juga beranjak dari sana.
Didalam mobil. Aldo masih terdiam memikirkan pria yang dia temui tadi.
“Ado”. Ara mengenggam tangan Aldo “Ada apa? Cerita pada Bunda?”. Ucap Ara tersenyum lembut.
Aldo menatap Ibu angkatnya “Apa Bunda merasa, jika Paman yang kita temui tadi sangat mirip denganku?”.
Ara langsung terkesiap dan baru juga sadar “Iya Bunda, baru ingat”. Ucap Ara mengingat wajah Seem memang sangat mirip dengan Aldo.
“Apa dia Ayah kandungku Bunda? Tapi bukankah kata Mami Ayah sudah meninggal?”. Gumam Aldo.
“Ado, tenang ya. Nanti ada waktunya Ado akan tahu semuanya. Jangan bebani pikiranmu dengan masalah yang belum pantas kau pikirkan”. Ara menyenderkan kepala Aldo dalam dekapannya “Siapapun Ayah kandung Ado, dia pasti pria baik”. Sambung Ara.
Aldo membalas pelukkan wanita ini “Iya Bunda. Terima kasih sudah mengerti perasaan Ado”. Ucap Aldo memeluk Ara dengan erat. Dia berusaha menenangkan hatinya. Saat bertemu pria tadi entah kenapa jantungnya kembali berdebar kencang, merasa ada ikatan batin yang kuat antara dia dan pria yang dia temui tadi.
Bersambung....
LoveUsomuch ❤️