
**Bolehkah ku lelah? Boleh kah kubersandar dibahumu dan menceritakan segala keluh kesah yang membuncah dada?
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹**
Ara terbangun saat mendengar teriakkan sang Ibu dan adiknya Mey.
"Suara tangis siapa itu?". Ara bergegas turun dari tempat tidur nya dan setengah berlari keluar dari kamar.
Suara itu dari arah kamar kedua orangtuanya.
"Ayah". Teriak Ara saat melihat sang Ayah tergelatak dilantai. Wati dan Mey sudah menangis memeluk Ferarer.
"Apa yang terjadi Bu?". Tanya Ara dengan tangis yang pecah.
"Tidak tahu Nak. Ayah tiba-tiba saja jatuh". Sahut Wati sambil menangis.
Ara segera menelpon ambulance untuk menjemput Ayahnya. Tidak lama kemudian ambulance datang didepan rumah Ara.
Ferarer diangkat oleh dua perawat laki-laki dan memasukkan nya kedalam mobil ambulance.
"Mey, temanin Ibu kedalam Ambulance, Kakak akan menyusul pakai motor!". Tintah Ara.
"Tapi Kakak belum pulih? Bagaimana nanti jika Kakak kesakitan, luka Kakak juga belum kering?". Ucap Mey dengan tangisannya.
"Kakak baik-baik saja Mey. Cepat susul dan masuk kedalam Ambulance". Suruh Ara.
Akhirnya Mey mengikuti perintah Kakak nya meskipun tak tega melihat Ara naik motor, tapi Kakaknya itu sangat keras kepala.
Ara masuk kedalam rumah. Dia meminum obat anti nyeri, karena luka diperutnya terasa sakit saat dia berlari tadi. Ara mengambil jaket untuk menutupi tubuh munggilnya.
Ara terkejut saat melihat Roger sudah berada dibelakang nya "Ada apa Kak?". Tanya Ara pada Kakaknya. Dia ingin sekali mencikik leher Kakaknya itu tapi tidak tega.
"Minta uang". Roger membentangkan telapak tangannya meminta uang pada Ara.
Ara berdecih dia menatap tajam kearah Roger dengan tatapan marah dan penuh emosi.
"Minggir Kak, aku mau pergi". Ara menggeser tubub Roger dengan paksa, karena Kakak nya itu terus saja menghalanginya.
"Ara". Teriak Roger mengejar Ara dan menarik tangan adiknya dengan kasar.
"Cepat berikan aku uang". Desak Roger mencengkeram dengan kasar tangan Ara.
"Lepaskan Kak". Sentak Ara berusaha melepaskan tangannya. Namun tangan kekar Roger tak mampu dia tepis.
"Hiks, lepaskan Kak. Ayah sedang dirumah sakit apa Kakak tidak punya rasa belas kasihan sama sekali? Jika Kakak tidak mau membantu setidaknya jangan menghalangi ku". Lirih Ara dengan isak tangisnya.
Hati Roger kembali berdenyut saat melihat Ara menangis, tanpa Roger sadari pegangan tangannya terlepas dari tangan Ara.
Ara langsung pergi meninggalkan Roger dan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ara sangat pelan membawa motor, sebab perut bekas operasi nya sangat sensitif sedikit saja terkena getaran pasti sakit dan pedih.
Air mata Ara luruh begitu saja hati dan jiwanya serasa lelah. Belum satu masalah selesai sudah datang lagi satu masalah.
Ara sangat takut jika terjadi sesuatu pada Ayahnya. Hanya Ayahnya yang selalu paham kondisi Ara. Hanya Ayahnya yang selalu bisa membuat Ara tersenyum dan Ara sangat mencintai Ayahnya.
Ara memmarkir motornya diparkiran rumah sakit. Ara sedikit berlari memasuki koridor rumah sakit, karena sudah tengah malam jadi suasana rumah sakit begitu sepi.
"Bu". Panggil Ara pada Wati dan Mey yang mennangis saling berpelukan.
"Nak". Wati juga ikut memeluk Ara.
"Bagaimana kondisi Ayah?". Tanya Ara membalas pelukkan Ibu nya.
"Ayah masih diperiksa oleh Dokter Kak". Sahut Mey mewakili.
Ara, Mey dan Wati masih menunggu diruang tunggu dengan wajah cemas. Sebab dari tadi Dokter masih terus memeriksa keadaan Ferarer.
Pintu terbuka. Segera ketiga wanita itu mendekat pada Dokter.
"Dok, bagaimana keadaan Ayah saya?". Cecar Ara pada Dokter Nickho.
Dokter Nickho menghela nafas berat "Mari Ara ikut saya, ada yang ingin saya jelas kan". Ajak Nicho lembut.
"Baik Dok". Sahut Ara "Bu, Mey kalian masuklah dan jaga Ayah. Biar Ara yang bicara dengan Dokter Nickho". Perintah Ara.
"Baik Nak".
"Baik Kak".
Ara mengikuti Nickho masuk keruangannya.
"Silahkan duduk Ra". Ucap Nickho mempersilahkan Ara duduk.
"Terima kasih Dok". Ara duduk dibangku yang sudah disediakan didepan meja Nickho.
"Bagaimana kondisi mu Ra? Kenapa kau sudah berlari-lari kau tahu kan bekas operasi itu masih belum kering?". Cecar Nicho yang membuat Ara heran, bukannya mengatakan tentang penyakit Ayahnya malah mempertanyakan hal yang tidak penting.
"Saya sudah sehat Dok". Sahut Ara singkat "Apa penyakit Ayah?". Tanya Ara.
Nickho menghela nafas kasar "Asam lambung Ayah mu sudah akut Ra dan sudah bernanah. Dia koma, lambung akutnya sudah memasuki stadiun akhir". Jelas Nickho.
Jeduarrrr bagai tersambar petir disiang bolong Ara, merasakan dunianya hancur dalam seketika. Ara bisa membayangkan dunia nya tak lagi utuh saat mendengar penjelasan Dokter Nickho.
"Lalu apa yang saya lakukan Dok?". Tanya Ara.
"Kita hanya berdoa, supaya Ayahmu bisa segera sembuh dan bangun dari koma nya". Jawab Nickho.
"Hiks, hiks, hiks". Ara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air mata yang ingin Ara tahan supaya tidak jatuh didepan Nickho, kini pecah begitu saja. Dadanya benar-benar terasa sesak dan sulit bernafas. Ara takut jika terjadi sesuatu pada Ayah nya. Ayahnya segalanya untuk Ara.
Nickho berdiri dari duduknya dan menghampiri Ara. Merengkuh tubuh dan jiwa lemah itu kedalam dekapannya. Hati Nickho ikut berdenyut saat melihat Ara menangis. Dia teringat bagaimana menderita nya Ara saat sebelum di Operasi, dimana penyakit itu benar-benar terlihat menyiksa tubuh Ara.
"Menangislah jika itu bisa membuat dirimu merasa lebih baik". Peluk Nickho.
Ara melingkarkan tangan munggilnya ditubuh Nickho. Saat ini Ara memang butuh pelukkan dan sandaran. Ara butuh seseorang yang mau menjadi tempat untuknya berkeluh kesah, namun tak Ara dapatkan pada Kakaknya. Kakak yang seharusnya mengayomi dan membimbing Ara, menjadi panutan dan tempat Ara bersandar, bahkan tak peduli sama sekali.
"Hiks, hiks, hiks, hiks". Tangis Ara semakin pecah dalam dekapan Nickho. Dekapan yang benar-benar ingin Ara dapatkan setiap saat
Nickho mengelus punggung Ara dengan lembut. Nickho turut menitikkan air mata melihat betapa rapuhnya gadis yang ada didalam pelukkannya ini. Nickho sangat mengenal Ara karena selama dua Minggu Ara di rawat, Nickho lah yang menjadi Dokter siaga menjaga dan merawat gadis cantik itu.
Nickho melepaskan pelukkannya dan mengusap air mata Ara.
"Sudah, jangan menangis lagi ya Ara harus lebih kuat untuk menghadapi semuanya. Saya akan selalu menemani Ara kapan saja. Jika Ara butuh sandaran dan pelukkan atau teman cerita datanglah, saya akan dengan senang hati menyambut kedatangan Ara". Ucap Nickho tulus.
Ara masih terisak dan juga terharu mendengar ucapan Nickho.
"Terima kasih Dok".
"Jangan panggil aku Dokter, aku sekarang adalah teman mu". Nickho mengusap lembut rambut panjang gadis itu.
"Iya Kak Nickho". Ara memaksakan senyum. Nickho tersenyum simpul saat Ara memanggilnya Kakak. Usia mereka memang terpaut sangat jauh.
Nickho kembali memeluk Ara berusaha memberikan kekuatan pada gadis rapuh itu.
**Bersambung.......
Salam hangat
Ara ❤️ Kay**