Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 12. Terlambat lagi.



**Jangan membuatku semakin patah. Sudah cukup luka kudapatkan yang membuat ku menjadi payah. Kini setidaknya jadilah obat, agar luka yang terasa tak membekas dan hilang entah kemana.


Happy Reading 🌹🌹🌹**


Ara menyusuri koridor rumah sakit bersama Mey. Seperti malam-malam yang lalu mereka anak menginap dirumah sakit untuk menjaga Ayah mereka.


Mereka masuk kedalam ruang perawatan Ferarer. Pria paruh baya yang sudah menginjak umur kepala lima itu, terbaring dengan lemah, beberapa selang mengalir dibagian tubuhnya.


"Bu, sebaiknya Ibu dan Mey istirahat saja biar Ara yang menjaga Ayah". Ucap Ara lembut.


"Tapi Nak.......".


"Tidak apa Bu. Ibu dari tadi siang menjaga Ayah, pasti Ibu lelah. Istirahat saja ya". Ujar Ara "Mey, kau juga istirahat besok masih ada ujian 'kan?". Timpal Ara.


"Iya Kak, Mey masih ada ujian". Sahut Mey.


Ara menatap wajah lelah Ayahnya. Ara tak menyangka jika selama ini Ayahnya menutup semua rasa sakit hanya karena tidak mau membuat dirinya khawatir.


"Maafkan Ara Ayah". Lirih Ara. Dia mengenggam tangan keriput itu. Tangan lemah yang tak bisa bergerak, tangan yang enggan membuka matanya.


"Ayah bangun, Ayah dengar Ara 'kan?". Gumam Ara, lagi dan lagi air mata murahan nya mengalir dipipi mulus gadis cantik itu.


Ara kembali menangis dalam diam, ditatapnya wajah Mey dan Wati yang sudah terlelap ditikar yang mereka bawa dari rumah. Rintihan tangis Ara diiringi dengan monitor pendetak jantung Ayahnya, yang selalu berbunyi dan menampakkan kinerja jantung Ferarer.


Entah kenapa hidupnya begitu berbeda dari orang lain. Saat orang lain atau gadis seusianya sibuk menghabiskan waktu hangout atau sekedar nongkrong dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tapi Ara berbeda, dia tidak bisa menikmati masa mudanya dengan hura-hura, seperti kebanyakan gadis muda lainnya. Hidupnya adalah milik keluarga nya, jadi dia bertanggungjawab terhadap keluarga yang harus dia beri makan.


Pagi tiba, Ara mengeliat dan melihat jam sudah pukul 6 pagi. Dengan wajah panik Ara segera membangun kan Mey, dan mereka pulang kerumah.


Ara harus memasak dibantu Mey, keduanya tampak kompak mengerjakan semua pekerjaan rumah. Setelah memasak Ara membersihkan diri dan menyiapkan bekal untuk Mey dan Wati dirumah sakit.


Ara sarapan sedikit dan meminum obatnya, hari ini dia tidak bawa bekal karena dia masak hanya sedikit dan cukup untuk Mey dan waktu.


Mereka kembali kerumah sakit, dan setelah dari rumah sakit Ara segera mengantar Mey ke sekolah nya. Motor Ara mogok, dia menyeretnya kebengkel dan harus menunggu sekitar hampir setengah jam sebelum motor itu bisa dijalankan kembali.


Kini Ara tengah memarkir motornya diparkiran perusahaan. Ara melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 8 pagi.


Ara memejamkan matanya, karena pasti setelah ini dia akan disemprot habis-habisan oleh atasannya. Ara melangkah dengan pelan sembari menyeret kakinya dengan paksa. Sepertinya bekas operasi diperut nya infeksi karena Ara merasakan sakit yang luar biasa.


Dilapangan semua orang masih terdiam menunggu Ara. Tampak kemarahan diwajah Kayhan dan Nathan, hampir satu jam mereka berdiri tapi Ara belum juga menampakkan dirinya.


Martha terlihat gelisah, dia mulai khawatir pada sahabat nya itu pasti ada sesuatu yang disembunyikan Ara, tidak biasanya gadis berbadan munggil itu terlambat apalagi sudah dua kali begini.


Semua karyawan tampak kesal dan marah, ingin sekali mereka memakan Ara habis-habisan karena gadis itu mereka dihukum semua.


Ara melangkah masuk dan menuju lapangan, semua mata menuju kearah nya. Ara berusaha tenang mentralkan emosinya, setelah ini entah apa hukuman yang akan dia terima.


"Maaf Tuan". Ara menunduk tangannya meremas ujung roknya dengan kuat, bukan karena malu tapi bekas operasi nya terasa begitu sakit.


"Apa begini pekerjaan mu?". Tanya Kayhan dingin menatap Ara dengan sinis. Kayhan adalah orang displin dia paling tidak suka jika ada orang yang tidak mau ikut peraturan nya.


"Ini untuk yang kedua kalinya Nona Ara, anda terlambat. Anda seperti nya benar-benar tidak serius bekerja". Ucao Kayhan mengejek Ara. Gadis itu hanya menunduk "Lihat mereka! Sudah hampir satu jam berdiri dan menunggu tapi hanya kata maaf yang bisa kau ucapkan". Sentak Kayhan membentak Ara.


Ara terjingkrak kaget saat mendengar teriakan Kayhan, tangannya spontan mengelus dadanya akibat terkejut.


"M-maaf Tuan". Ara hanya bisa menunduk ketakutan meihat wajah merah Kayhan.


Nathan tak kalah kesal, padahal Ara adalah karyawan paling kompeten diperusahaan dia juga selalu on time dan disiplin, tapi sudah dua kali dirinya terlambat dan membuat masalah.


Martha menatap Ara dengan kasihan. Martha yakin jika Ara sedang menyembunyikan sesuatu, Martha mengenal Ara, gadis itu memang tertutup dia tidak mau menceritakan masalahnya pada orang lain sekalipun itu sahabatnya sendiri.


Cody, hanya bisa menghela nafas saat melihat Kayhan membentak Ara. Ada rasa kasihan dihati Cody melihat wajah takut Ara. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu?


"Gaji kamu saya potong 50% dan hari ini bersihkan semua toilet yang ada diperusahaan". Tintah Kayhan tak terbantahkan.


Ara mengangguk paham sambil menahan tangisnya "Kalian tidak akan mengerti bagaimana menjadi aku? Sekalipun aku menceritakan nya mereka hanya akan mentertawai gadis miskin seperti ku?". Batin Ara kembali kebarisan dengan wajah menunduk.


Barisan dibubarkan, Ara melangkah dengan pelan sambil memegang perutnya.


"Ra". Ara menoleh dan tersenyum hangat.


"Iya Ta?".


"Apa kau baik-baik saja?". Terlihat Martha begitu khawatir.


Ara tersenyum "Aku baik-baik saja Ta". Senyum Ara.


"Ra jika ada masalah cerita lah padaku". Ucap Martha sambil memperhatikan wajah Ara "Apa Paman, bibi dan Mey baik-baik saja?". Cecar Martha "Atau kau bertengkar lagi dengan Kak Roger?". Cecar Martha lagi.


Ara terkekeh mendengar kecerewatan sahabatnya itu. Martha memang sudah mengenal orangtua Ara dan begitu juga sebaliknya. Mereka berdua bersahabat sejak SMP, dan persahabatan mereka terjalin dengan baik. Mereka terpisah saat Martha melanjutkan pendidikan nya disalah satu Universitas. Sedangkan Ara memilih bekerja karena keterbatasan ekonomi Ara harus melepaskan semua impian nya itu.


"Tidak ada Ta. Semua baik-baik saja". Senyum Ara "Ya sudah kalau begitu, aku lanjut bersihkan toilet dulu". Pamit Ara


"Biar aku ban.....".


"Tidak perlu Ta. Aku bisa sendiri, sebaik kau kembali ke meja mu". Potong Ara yang tidak mau merepotkan sahabat nya lagi. Martha sudah terlalu banyak menolongnya dan Ara tidak mau jika harus berhutang budi pada sahabat nya itu.


Sedangkan diruangan Kayhan. Kayhan masih tampak kesal. Entah kenapa dia sangat kesal melihat Ara suka terlambat, gadis itu seperti tidak serius bekerja padahal dia memiliki kemampuan diatas rata-rata.


"Cody".


"Iya Tuan?". Sahut Cody


"Panggilkan Nathan".


"Baik Tuan". Cody segera berlalu dari ruangan Kayhan dan memanggil Nathan.


Tidak lama kemudian Nathan datang bersama Cody.


"Ada apa?". Tanya Nathan tanpa basa-basi dan langsung duduk di sofa ruang kerja Kayhan.


"Aku mau kau buat surat peringatan 2 untuk gadis itu". Ucap Kayhan.


Nathan langsung menoleh kearah Kayhan "Tidak bisa begitu Kau, kita tidak tahu apa alasan dia terlambat". Sanggah Nathan, bagaimana bisa ada diberikan surat peringatan dua, Ara adalah karyawan kompeten didivisinya.


"Kau mau dia terus terlambat seperti dua hari ini?". Ketus Kayhan.


"Bukan begitu Kay! Kita tidak tahu apa alasan Ara terlambat". Bantah Nathan lagi. Walaupun dia juga kesal tapi dia masih punya rasa kasihan.


"Dan dia tidak mau menjelaskan kenapa dia terlambat". Timpal Kayhan dengan wajah kesal dan juga dingin. Kayhan tahu bahwa Nathan menyukai Ara terlihat dari cara sahabat nya itu memperhatikan Ara.


"Kita berikan dia kesempatan. Jika besok dan seterusnya dia masih terlambat juga baru kita kasih surat peringatan". Saran Nathan yang masih ingin mempertahankan Ara.


"Terserah padamu". Ketus Kayhan.


**Bersambung.............


Salam hangat


Ara ❤️ Kay**