Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 15. Belum siap kehilangan



**Ternyata belum siap aku kehilangan dirimu, belum sanggup untuk jauh darimu yang masih selalu ada dalam hatiku. Tuhan tolong mampukan aku tuk lupakan dirinya, semua cerita tentang dia yang membuatku selalu teringat akan cinta yang dulu hidupkanku.


@StevanPasaribuan**


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹


Kimara POV.


Jenazah Ayah dibawa pulang kerumah menggunakan Ambulance, didalam ambulance ada Mey dan Ibu. Sedangkan aku satu mobil dengan Kak Nickho, sebenarnya aku ingin naik Ambulance bersama Ibu, tapi Ka Nickho bersikeras melarangku.


Sampai dirumah, disana sudah banyak para tetangga yang menyambut didepan rumah.


Aku turun dengan tatapan kosong. Dunia ku benar-benar terasa runtuh dalam sekejap. Bangunan-bangunan yang kubangun dengan susah payah bersamaan Ayah, kini runtuh dan rata dengan tanah.


Aku kembali menatap wajah Ayah. Tuhan rasanya sangat sakit, aku bahkan sudah tak bisa menangis lagi. Tubuhku benar-benar merasa lelah, kebanyakan menangis membuat energi dalam tubuhku menipis.


"Ra, yang kuat". Kak Nickho mengenggam tanganku. Pria itu selalu setia menemani ku sejak aku dirawat dirumah sakit.


Aku tak menjawab, tatapanku juga tak beralih pada Ayah. Jantungku terasa perih, aku berusaha kuat menyakinkan diriku bahwa semua ini hanya mimpi tapi semuanya nyata bukan mimpi.


"Hiks, Nak". Ibu memelukku. Wanita paruh baya yang sudah melahirkanku ini terlihat begitu rapuh dan lelah. Bahkan mata Ibu sudah membengkak.


Wajar saja Ibu histeris, bagaimana tidak terluka saat sang kekasih pergi meninggalkan untuk selamanya? Bahkan tanpa kata perpisahan atau ucapan selamat tinggal.


Aku melihat Kak Roger dengan wajah tenangnya, aku sangat membenci pria itu. Kakak yang seharusnya menjadi tempat ku bersandar justru hanya menahan beban yang kupikul.


Entah terlahir sebagai manusia apa Kak Roger itu hatinya begitu keras seperti batu. Apakah dia menyesal dengan kematian Ayah? Kurasa tidak, mungkin dia bersyukur karena pria tua yang selalu dia pukul kini telah pergi untuk selamanya.


Aku kembali memeluk jenazah Ayah, mencium kening dan wajahnya untuk terakhir kalinya.


"*Selamat jalan Ayah, maaf karena belum bisa membuat Ayah bahagia. Ayah adalah Ayah terbaik untuk Ara. Maaf juga selalu membuat Ayah bersedih selama hidup, Ara menyanyangi Ayah. Ara berjanji akan menjaga Ibu dan Mey dengan sebaik mungkin sebagaimana Ayah menjaga mereka. Sejujurnya Yah Ara tidak sanggup melepas Ayah pergi, Ara rindu Ayah. Ara ingin memakan masakkan Ayah lagi, Ara ingin berangkat ke kantor bersama Ara. Ara merindukan semua tentang Ayah, kecerewatan Ayah, nasehat Ayah dan semua hal yang ada didalam diri Ayah. Kini tak ada lagi tempat Ara mengadu dan bercerita, dan kini Ara harus berjuang sendiri dan kini tanggung jawab Ara semakin besar Ayah. Apa Ayah tahu? Perut bekas operasi kemarin mengeluarkan nanah dan darah Yah, tapi Ara berusaha kuat melawannya dan Ara tidak mau kelihatan lemah karena Ara tidak mau Ayah bersedih dan Ayah adalah alasan Ara kuat, tapi sekarang Ara sendirian Ayah, bangun Yah hikssss". Aku hanya bisa bertelempati dalam hati mengeluarkan semua emosi yang membuncah dadaku.


"Andai saja Ara tahu, jika kemarin adalah terakhir kita sarapan pagi bersama, Ara pasti akan menyuapi Ayah meskipun Ara tahu Ayah akan menolak. Andai saja Ara tahu, jika kemarin adalah terakhir kali boncengan dengan Ayah, Ara pasti akan mengajak Ara jalan-jalan mengelilingi menikmati Surya yang perlahan menghilang. Andai saja Ara tahu, jika kemarin terakhir kali kita berbicara maka Ara akan menceritakan semua keluh kesah yang saat ini Ara rasakan. Maafkan Ara Yah, hikssss". Tangisku kian pecah, memeluk dan menguncang tubuh Ayah. Aku tak peduli lagi dengan tatapan kasiha orang lain padaku, mereka takkan mengerti apa yang aku rasakan*.


"Ra". Kak Nickho mengelus pundak ku supaya aku tak lagi menangis "Sabar". Kata itu keluar dari bibirnya. Aku tak bergeming sama sekali, saat ini dunia ku hancur hitam dan gelap tak ada lagi cahaya yang kudapatkan dari jalan gelap yang kulewati


"Kak Ara, hikssss". Mey berhambur memelukku. Gadis berusia 15 tahun ini menangis sepuasnya dalam pelukku, hingga membuatku sesak dan membuat luka bekas operasi itu sakit luar biasa. Andai saja Mey tahu jika pelukkannya ini membuat tubuhku mati rasa.


"Kita harus ikhlas Mey. Ayah sudah tenang disana". Ucapku menyakinkan adikku. Padahal aku sendiri takkan pernah ikhlas jika berbicara tentang kehilangan.


Jenazah Ayah dibawa ke Tempat Pemakaman Umum, ditengah kota. Aku berjalan dengan hamba, sedangkan bahuku dirangkul oleh Kak Nickho. Mey dan Ibu berjalan didepan saling memeluk satu sama lain dan Kak Roger ikut membawa peti mati Ayah. Mungkin Kak Roger merasa kehilangan Ayah, tapi bukankah itu sudah terlambat.


Dipemakaman peti mati Ayah, dibuka kembali sebelum dimasukkan kedalam tanah yang sudah digali oleh petugas Pemakaman.


Aku berjongkok untuk mencapai wajah Ayah, mengelus wajah lembut itu untuk terakhir kalinya dan setelah ini wajah ini benar-benar akan hilang dari pandangan mataku.


"Selamat jalan Ayah, sampai bertemu dikehidupan kedua". Lirihku mencoba tersenyum diakhir luka.


Peti mati Ayah dimasukkan kedalam tanah, dan saat itu aku menangis histeris, padahal aku sudah berjanji untuk kuat dan ikhlas namun pada kenyataannya aku sendiri yang ingkar janji.


"Ayah". Teriakku.


"Ayah". Teriak Mey.


"Ayah". Teriak Ibu.


Dan teriak-teriak itu mengiring peti mati Ayah masuk kedalam tanah. Tanah-tanah yang dingin itu membungkus Ayah, memeluknya dengan erat dan bahkan menghalang pandangan mataku.


Sumpah demi langit dan bumi, aku benar-benar belum siap kehilangan. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa Ayah, entah bagaimana cerita hidupku setelah ini. Apakah aku mampu bertahan atau justru menyerah pada keadaan.


Semua kenangan bersama Ayah masih melekat disini, tapi Ayah sudah pergi dan takkan kembali. Aku terus saja menangis, hingga mataku membengkak dan tak peduli lagi dengan kondisi tubuhku.


Jika menangis bisa membuat yang mati hidup lagi, yang hilang muncul lagi dan yang pergi datang kembali. Maka aku ingin menangis sejadi-jadinya, tak peduli dengan air mata yang akan mengering aku ingin dia kembali.


Rindu paling menyakitkan adalah merindukkan seseorang yang telah tiada. Tak peduli seberapa lama kau menangis memanggil namanya agar dia kembali, tak peduli seberapa hebat tangis mu yang menggema dia takkan mendengar. Karena dia takkan pernah kambali sekalipun dia terbaik lima ratus juta kali dan sekali pun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.


**Bersambung............


Perpisahan abadi adalah kematian, tak peduli seberapa hebat jabatan yang kau duduki, seberapa banyak uang yang kau miliki dan takkan ada satu orang pun yang bisa menghindari nya.


Salam hangat.


Kimara ❤️ Kayhan**