Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 56. Koma



Aku akan selalu menunggu mu tak peduli berapa lama. Aku akan disini, menemanimu. Aku ingin menjadi orang pertama yang kau lihat, saat membuka mata.


Happy Reading🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ara mondar-mandir diruang tunggu, matanya terus saja menatap kearah ruang operasi sang suami. Sudah lebih dari satu jam tapi dokter belum juga keluar.


"Tuhan, kumohon selamatkan suamiku". Gumam Ara sesekali mengigit bibirnya menahan tangis. Baju yang berlumuran darah sudah tidak dipedulikan lagi, baginya saat ini suaminya yang lebih penting


Dokter keluar dari ruang operasi. Ara langsung menghampiri dokter yang masih terlihat berbincang dengan para perawat.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya?". Cecar Ara dengan wajah panik dan juga khawatir tentunya.


"Nona, bisa ikut saya sebentar". Ajak sang Dokter.


"Baik Dok". Ara mengikuti Dokter itu untuk masuk kedalam ruangannya.


"Silahkan duduk Nona". Suruh dokter muda itu sambil tersenyum kearah Ara.


"Terima kasih Dok". Ara duduk dengan sopan dibangku yang berhadapan dengan dokter itu.


Dokter bernama Marsel itu membolak-balik kertas yang baru saja dia buka didalam amplop yang diberikan oleh perawat tadi.


Marsel menghembuskan nafas pelan. Rasanya berat untuk mengatakan hal ini.


"Kenapa Dokter?". Tanya Ara.


"Maaf Nona, pendarahan yang suami anda alami membuatnya kehabisan darah, dan kita harus segera mencari pendonor darah yang sesuai dengan suami anda. Selain itu suami anda juga mengalami pembekuan darah diotak vitalnya, kita harus segera merujuknya kerumah sakit yang fasilitas nya lengkap".


Jeduar, seluruh dunia Ara seakan berhenti sejenak. Awan-awan yang tadinya terlihat cerah dan menawan, kini bak mendung seakan akan ada badai dan petir yang menyambar.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya Dokter!". Pinta Ara penuh Ara.


Marsel menatap kasihan pada gadis didepannya ini "Saya akan berusaha Nona. Tapi jika bisa tolong bantu cari pendonor darah yang sesuai dengan golongan darah Tuan Kayhan. Seperti nya darah Tuan Bagaskara, cocok untuk suaminya anda. Saya harap anda bisa meminta bantuan padanya".


Ara terdiam saat mendengar nama Bagaskara, dia tidak yakin bisa membujuk pria tua itu untuk menolongnya. Pria itu akan semakin membenci Ara.


"Lalu sekarang bagaimana kondisi suami saya?". Tanya Ara.


"Suami anda masih kritis, dia kehilangan banyak darah dan maaf Nona saya harus mengatakan bahwa suami anda koma. Saya tidak tahu pasti komanya berapa lama, bisa sebentar bisa juga lama. Tergantung dari bagaimana reaksi otaknya terhadap sekitar".


Dada Ara benar-benar sesak mendengar penjelasan Marsel. Tuhan, apa yang harus dia lakukan?


"Nona, saya beri anda waktu sampai besok untuk mencari dan memindahkan Tuan Kayhan kerumah sakit yang lebih besar. Karena saya tidak bisa menjamin kondisi Tuan Kayhan".


Lagi-lagi Ara hanya bisa membisu. Ara merasa tubuhnya mati rasa. Tidak, tidak Kayhan-nya tidak boleh pergi. Kayhan harus tetap hidup, dan bersamanya untuk selamanya.


Marsel menetap Ara dengan kasihan. Dia sudah tahu kisah rumah tangga Ara dan Kayhan karena beberapa bulan yang lalu sempat buming diperbincangkan oleh media.


"Baik Dok, terima kasih". Ara berdiri dari duduknya.


Dia berjalan pelan tanpa tujuan, tatapannya kosong. Ara masuk kedalam ruang ICU, dia membuka pintu.


Tatapan Ara terarah pada sang suami yang tertidur lelap, matanya terpejam dengan erat. Ara menghampiri Kayhan, ditatap wajah pucat tanpa darah itu. Beberapa selang mengalir dibagian tubuh Kayhan. Hanya sampai besok lusa dokter memberinya waktu. Jika ada jalan lain tanpa harus meminta bantuan Bagaskara, mungkin Ara bisa melakukan nya sekarang. Tapi jika harus bertemu dengan pria tua itu, pastilah dia akan ditolak dan bahkan diusir dari sana.


"Bby". Ara mengenggam tangan suaminya sambil mengecup punggung tangan Kayhan "Bangun". Lirihnya "Aku kangen kamu Bby. Aku kangen kamu peluk aku. Aku kangen sikap manja kamu. Aku kangen makan sepiring berdua sama kamu. Bby, ayo bukan mata kamu". Ara terus saja berbicara dengan suaminya, air mata mengalir tanpa henti dipipi canyik gadis itu.


"Bby hiks". Tangis Ara pecah sambil menelungkupkan wajahnya dilengan Kayhan. Lengan yang biasa selalu merangkulnya, lengan yang biasanya selalu mengusap rambutnya saat Ara tak bisa tidur.


Sedangkan Kayhan, masih setia menutup matanya tanpa terganggu dengan tangisan dan omongan istrinya. Pria itu seakan tak memperdulikan dunia nyata yang berada disampingnya. Dia terlelap tanpa beban dan rasa sakit. Tertidur dengan nyenyak melepaskan segala beban serta haus dan lapar yang menyerangnya.


Ditempat lain, seorang pria lanjut usia tengah melemparkan semua barang yang ada didepannya.


"Hah? Apa saja kerja kalian? Bagaimana bisa salah tabrak? Jika sampai terjadi sesuatu pada cucuku? Aku akan habisi kalian semua".


Bugh Bugh Bugh Bugh Bugh Bugh


Bagaskara memukul satu persatu anak buahnya.


"Maaf Tuan, Tuan Muda menyelamatkan istri nya. Jadi Tuan Muda yang ditabrak". Jawab salah satu anak buahnya menunduk.


"Arghhh, banyak alasan. Keluar kalian". Usir Bagaskara yang sudah dipenuhi dengan emosi.


Wajah Bagaskara memerah, dia takut terjadi sesuatu pada cucunya Kayhan. Takut jika Kayhan kenapa-kenapa. Walau dia marah pada Kayhan, tapi sungguh Bagaskara sangat menyanyangi Kayhan.


"Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu pada cucuku? Aku tidak akan memaafkanmu Bagaskara". Pekik Wena dengan emosi yang menggebu-gebu. Dia tidak habis pikir dengan pikiran suaminya


"Maafkan aku Honey. Aku tidak tahu jika Kay yang tertabrak". Kata Bagaskara merasa bersalah.


"Ini semua gara-gara gadis mandul itu, awas saja jika sampai cucuku kenapa-kenapa". Timpal Wena mengepalkan tangannya. Meskipun sudah berusia tapi wanita berumur hampir satu abad itu tetap terlihat cantik dengan riasan dan pakaian bermerk yang menempel ditubuhnya.


"Dad, Mom. Ayo kita kerumah sakit sekarang". Ajak Erna yang menangis sedari tadi.


"Tidak". Sahut Bagaskara "Kita bisa memanfaatkan kesempatan ini, agar gadis mandul itu meninggalkan Kay. Kita tunggu sampai besok, Daddy yakin dia akan datang kesini untuk meminta bantuan. Dia tidak akan mampu membayar biaya rumah sakit Kay". Kali ini Bagaskara tersenyum licik, dia akan mengubah rencana untuk memisahkan Ara dan Kayhan.


"Apa maksudmu Dad?". Sambung Bagas.


Bagaskara menyeringai licik, tatapan pria berusia itu terlihat tajam "Kalian lihat saja besok apa yang akan terjadi". Ucap Bagaskara "Kalian tahu kan, jika Kayhan kekurangan darah maka gadis mandul itu akan mencari pendonor. Sedangkan golongan darah Kayhan sangat langka, bahkan hanya cocok denganku saja. Otomatis gadis itu akan menemui ku kan untuk meminta bantuan". Jelas Bagaskara.


Bagas, Erna dan Wena terdiam sejenak mencerna perkataan Bagaskara. Memang hanya Bagaskara yang memiliki golongan darah sama dengan Kayhan.


"Baik Dad, aku mengerti". Bagas tersenyum smirk juga.


"Cody".


Dengan langkah cepat Cody berjalan menghampiri Tuan-nya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?". Tanya Cody sedikit membungkukkan badan memberi hormat.


"Persiapkan surat perceraian Kay dan gadis mandul itu. Aku mau besok berkas nya sudah sampai ke pengadilan".


Cody terdiam mendengar perintah Bagaskara, dia tak menyangka jika Bagaskara berani bertekad sejauh ini.


"Cody, kau mendengar perintahku kan?". Bagaskara menatap Cody dengan tajam, karena dari tadi asistennya itu hanya diam saja.


"B-baik Tuan. Kalau begitu saya permisi".


Cody melangkah meninggalkan mereka. Sejak Kayhan di usir dari rumah, Cody menjadi asisten sekaligus kaki tangan Bagaskara. Awalnya pria itu menolak dan memilih berhenti, tapi ancaman Bagaskara membuat nya mau tidak mau harus mengikuti semua perintah Tuan-nya itu.


Bersambung..........


Kayhan ❤️ Kimara.