Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab. 82. Dia



Dia....


Itu adalah kamu...


Dia....


Ternyata kamu....


Sayang, aku tak bisa memandangimu lebih dari yang ku mau.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Shella meletakkan menu yang dia bawa ke meja makan.


"Silahkan dimakan semua". Ucap Shella ramah lalu duduk.


"Ayo sayang makan dulu". Roger menarik kursi untuk Ara duduk. Ibu hamil itu terlihat sangat cantik saat tersenyum.


"Terima kasih Kak".


Jolenta terpaku menatap Ara. Dia, adalah wanita penjual buku ditempatnya biasa membeli buku. Wanita yang dia duga sudah menikah itu dan benar sudah menikah dan wanita itu adik sahabat nya.


"Jo, kenapa?". Jovan menyenggol lengan Jolenta dan heran melihat Jolenta yang menatap Ara tak berkedip.


Semua yang dimeja makan juga melihat kearah Jolenta.


"Kenapa Kak?". Tanya Joana, karena Jolenta masih saja fokus menatap gadis cantik yang duduk disamping Roger.


Ara mengerjitkan dahinya heran "Tuan yang sering beli buku itu 'kan?". Tebak Ara. Yang lain menunggu jawaban Jolenta.


"Iya". Sahut Jolenta yang malah terlihat gugup.


"Aku pikir kemarin Kak Jovan, soalnya wajah Kakak mirip sekali dengan Kak Jovan". Ucap Ara sambil menampilkan senyum manisnya.


"Jadi, ini yang namanya Ara?". Jolenta masih dengan keterkejutan nya.


"Iya, dia adikku". Sahut Roger mewakili. Jovan memincingkan mata curiga pada kembarannya.


"Kenapa Jo?". Tanya Jovan curiga. Jolenta gegelapan.


"Sudah makan dulu, nanti lagi mengobrol nya". Tegur Van Derg. Semua lanjut makan.


"Ado sini biar Mami suapin". Shella menyedorkan sendoknya kearah mulut Aldo.


Aldo menggelleng "Ado mau sama Bunda". Aldo menatap Ara dengan wajah permohonan. Itu terlihat menggemaskan diwajah Ibu hamil itu.


"Tapi sayang......".


"Kak, tidak apa-apa biar aku yang suapin Ado". Ucap Ara.


Syaneth menggeleng sambil tersenyum. Aldo memang tak bisa makan tanpa disuapi Ara.


"Biarkan saja Nak". Sambung Syaneth.


"Tapi Moe.......".


"Aldo terlalu menyanyangi Ara Kak. Biarkan saja". Sambung Joana menimpali.


Shella menghela nafas pelan. Dia sungguh merasa tidak nyaman dengan perlakukan putranya.


Jolenta terus saja mencuri pandang kearah Ara. Dia menarik sudut bibirnya saat Ara menyuapi Aldo dengan telaten dan sabar


Mereka melanjutkan makan dengan sesekali mengobrol.


"Uncle, jangan melihat Bunda ku seperti itu?". Tegur Aldo menatap tajam Jolenta. Yang lain melihat Jolenta dan memang dari tadi pria kembar itu terus saja menatap Ara.


Jolenta gegelapan saat semua orang menatapnya dengan penuh selidik.


"Sudah lanjutkan makan". Potong Van Derg.


Setelah selesai makan, mereka semua berkumpul diruang keluarga. Para wanita Ara, Shella dan Joana membuat cemilan untuk para lelaki.


"Jovanka bagaimana kabarnya?". Tanya Jolenta duduk disoffa.


"Baik". Sahut Van Derg


Jolenta sebenarnya masih terkejut saat tahu Ara itu adiknya Roger dan selama ini memang Jolenta tidak terlalu akrab dengan Roger jadi wajar saja tidak tahu.


"Apa Ara istri Kayhan?". Tanya Jolenta menatap ketiga pria itu.


"Kenapa Jo?". Roger mengerutkan keningnya.


"Tidak". Elak Jolenta, berusaha tenang dan tidak mau membuat orang curiga.


"Bagaimana dengan kesiapan kemoterapi Ara?". Tanya Van Derg pada Roger dan Jovan.


"Apa Hansel sudah menjadwal kan kapan kemo?". Tanya Van Derg. Hansel adalah suami Jovanka yang berprofesi sebagai Dokter.


"Hansel masih menunggu hasil pemeriksaan Minggu lalu". Jawab Jovan.


Roger tak mampu lagi bersuara, rasanya tenggrokkan nya terasa sakit untuk sekedar bersuara dan memberi penjelasan. Selama ini dia berusaha menahan diri untuk tidak rapuh didepan adiknya, namun bagaimana pun dia juga manusia biasa.


"Apa sebaiknya kita bawa Ara ke Amerika, disana mungkin banyak Dokter spesialis yang bisa menangani penyakit Ara?". Saran Jolenta.


Jovan menggeleng "Tidak bisa Jo. Kau tahu kan sekarang Ara sedang di incar oleh banyak orang? Jika kita membawa Ara ke sana, itu bisa bahaya untuk Ara". Bantah Jovan tak setuju.


Roger menghela nafas kasar, ingin dia tumpahkan air matanya sekarang juga.


"Iya Jo benar kata Jovan. Hanya Negara ini tempat persembunyian paling aman untuk kita. Bagaskara pasti sedang mencari celah untuk menemukan Ara". Sambung Roger.


"Vader akan membantu mencarikan dokter spesialis untuk Ara".


"S-serius Vad?".


Van Derg tersenyum dan mengiyakan


"Terima kasih Vad". Roger memeluk Van Derg yang sudah dianggap Ayah kandungnya sendiri.


"Sama-sama Zoon". Balas Van Derg mengelus punggung Roger.


Van Derg adalah orang paling berkuasa di Belanda, itulah mengapa Ara tidak bisa ditemukan oleh ahli detektif sekalipun karena dia memiliki jaringan yang bisa memblokir siapa saja yang menganggu ketenangan.


Pria berusia 58 tahun itu, takkan tinggal diam jika ada orang yang berani mengusik kehidupan keluarganya. Dia lebih kejam dari siapapun dan apapun akan dia lakukan untuk melindungi semua anggota keluarganya. Van Derg adalah mantan ketua Mafia pada zaman nya, namun saat bertemu dan menikah dengan Syaneth dia memutuskan untuk meninggalkan dunia hitam itu. Tidak ada satu pun anaknya yang tahu jika Van Derg mantan ketua Mafia. Karena Van Derg dan Syaneth tidak ingin anak-anak nya terbebani dengan masa lalu orangtua nya.


Syaneth, Shella, Joana dan Ara datang dengan membawa nampan ditangan mereka masing-masing. Aldo dari tadi terus mengekor Ara dan memegang ujung baju wanita hamil itu sambil mengikuti langakh kaki Ara.


Roger dan Jovan geleng-geleng kepala melihat keposesifan bocah berusia lima tahun itu. Masih kecil saja sudah posesif luar biasa, bagaimana jika dia besar nanti?


"Silahkan di nikmati". Senyum Joana meletakkan cemilan itu ke atas meja.


Ara juga meletakkan nampan ditangannya dan dibantu oleh Aldo.


"Bunda jangan capek-capek". Tegur Aldo membantu Ara.


Ara tersenyum gemes "Iya sayang". Balas Ara.


Shella ikut meletakkan nampan nya juga.


Mereka menikmati cemilan yang dibuat oleh para wanita.


"Bunda, apa Dedek bayi nya makan juga?". Tanya Aldo sambil memakan cemilan nya.


"Iya sayang". Jawab Ara.


Jolenta terheran-heran melihat Aldo. Sebelumnya Jolenta memang belum pernah bertemu Aldo, dia tahu Aldo melalui cerita Jovan dan juga Roger.


"Kak Jolenta, silahkan nikmati". Tawar Ara tersenyum ramah.


"Iya terima kasih". Ucap Jolenta membalas dengan senyum. Mata Jolenta terarah pada perut Ara yang sudah terlihat membesar. Beberapa bulan kedepan perut Ara akan semakin besar, namun tak mengurangi kadar kecantikan Ibu hamil tersebut.


"Jo, sebaik nya untuk sementara waktu jangan pulang ke Indonesia. Menetap lah disini, sampai Ara melahirkan". Ucap Van Derg.


Jovan dan Roger tampak setuju dengan ucapan Van Derg. Sebenarnya supaya Bagaskara tidak curiga dan mematai-matai jolenta. Mereka takut jika Bagaskara dimana Ara berada.


"Baik Vad". Sahut Jolenta.


"Iya Kak, tinggal di sini saja". Joana bergelut manja dilengan Jolenta sambil menaik turunkan alisnya.


"Iya iya. Supaya kau bisa bermanja-manja kan?". Tuding Jolenta.


Joana terkekeh sendiri. Sudah tahu lah jawabannya karena hanya pada Jolenta dia bisa bermanja-manja sepuasnya.


"Nak, bagaimana kandungan mu?". Tanya Syaneth mengalihkan pembicaraan dan mengelus perut Ara.


Ara tersenyum tangannya terulur untuk mengelus perut buncitnya.


"Puji Tuhan sehat Moe. Dia juga terlihat sangat aktif". Jawab Ara "Seperti nya juga keinginan nya sudah tidak aneh-aneh lagi". Lanjut Ara.


"Syukurlah". Sahut Roger, Jovan, Shella dan Joana bersamaan. Jika ngidam Ara sudah berakhir berarti mereka takkan dibuat repot lagi oleh Ibu hamil itu.


"Kalian kenapa?". Jolenta menatap heran kearah empat orang yang terlihat senang.


Jovan mengendus kesal "Sudah, jangan banyak bertanya. Kau tidak akan tahu bagaimana penderitaan kami". Celetuk Jovan yang enggan menjelaskan jika mengingat ngidam Ara yang selalu membuat nya jantungan karena terkejut.


Yang lain hanya tertawa kecil. Karena mereka semua menjadi sasaran. Kecuali Syaneth dan Van Derg, yang tidak selalu berada didekat Ara karena Ara memang tinggal bersama Jovan dan Roger dirumah pribadi milik Jovan.


Bersambung.....


Kayhan ❤️ Kimara