Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 145. Apa kami punya Daddy?



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Ara dan anak-anaknya tengah selesai berdoa. Seperti setiap malamnya, Ara akan membacakan dongeng penghantar tidur untuk ketiga anaknya. Setelah dua hari dirawat dirumah sakit, Ara diperbolehkan pulang dengan catatan istirahat cukup dan tidak boleh lelah apalagi banyak pikiran.


"Mommy". Naro terduduk menatap wanita cantik itu.


"Iya sayang, kenapa?". Tanya Ara lembut mengelus kepala putranya.


Zero, Zeno dan Nara juga ikut duduk. Padahal tadi mereka sudah hampir tertidur. Tapi ketika melihat kakak mereka yang paling tua bangun, mereka juga ikutan bangun.


"Mom, apa kami punya Daddy?". Netra mata Naro terlihat sendu. Dia mengingat percakapan mereka ketika dirumah Bagaskara tempo lalu.


Ara terkesiap, dia menatap putranya dengan bingung. Sementara para anaknya yang lain menunggu jawaban.


"Iya Mom, apa kami punya Daddy?". Sambung Zero dia menatap Ara penuh harap, agar sang Ibu mau menjawab pertanyaan nya.


Ara menghembuskan nafas pelan "Apa kalian siap mendengar kan cerita Mommy?". Keempat nya mengangguk dengan polos "Mommy, harap apapun yang akan Mommy ceritakan kalian bisa mencerna nya dengan baik, oke". Lagi-lagi mereka mengangguk. Anak-anak Ara adalah anak-anak cerdas yang dewasa sebelum waktunya.


Ara menarik nafas dalam menatap keempat anaknya. Lalu dia menceritakan semua yang terjadi sebelum melahirkan keempat anaknya. Ara menceritakan dengan detail, bagaimana dia dan suaminya hidup bahagia. Lalu hubungan mereka tidak direstui hanya karena Ara mandul. Mereka diusir dari kediaman Bagaskara, sampai Ayah dari suaminya memutuskan hubungan darah. Ara dan suaminya hidup dikontrakkan kecil, membuka usaha lukisan disana yang sempat berkembang pesat. Hingga Kayhan mengalami kecelakaan dan saat itulah awal dari perpisahan mereka.


Ara tak mampu menahan air matanya ketika dia menceritakan semuanya. Dadanya kembali serasa sesak, betapa menyakitkannya perpisahan yang dia rasakan. Ara juga menceritakan bagaimana dia kehilangan dua orangtua dan adiknya, Mey. Semua Ara ceritakan tanpa ada yang kurang atau dilebih-lebihkan.


Nara langsung memeluk Ibunya, ketika melihat Ara menangis "Hiks, Mommy. Maafkan Nala. Nala janji akan menjadi anak yang baik untuk Mommy". Peluk Nara. Gadis kecil itu merasakan sakit ketika mendengar cerita Ibunya.


Sementara ketiga bocah tampan itu, seketika terdiam. Sekarang mereka tahu siapa Bagaskara? Pantas saja mereka bisa merasakan bahwa pria itu memiliki aura yang tidak baik.


"Maaf Mom. Apa Daddy mencari kami?". Tanya Zero penuh harap. Zero ingin sekali punya Daddy. Meski sudah ada Jovan dan Nickho tetap saja rasanya berbeda.


Ara menggeleng "Apa kalian marah karena Daddy tidak mencari kalian?". Ara menatap keempat anaknya.


Zero, Zeno dan Nara mengangguk. Berbeda dengan Nari yang menggeleng.


"Naro tidak marah?". Ara menatap putra sulungnya itu.


Naro menggeleng "Untuk apa marah? Itu artinya dia tidak menginginkan kamu Mom. Dia juga menuduh Mom berselingkuh dengan Ayah. Harusnya dia sadar dan tahu diri, bahwa Mom pergi karena dirinya". Ara menelan salivanya ketika mendengar jawaban putranya yang seperti orang dewasa. Rasanya belum percaya ucapan itu keluar dari bibir bocah berusia lima tahun.


"Apa kalian benci Daddy?". Zero, Zeno dan Nara menggeleng. Sementara Naro mengangguk.


"Kami sangat ingin bertemu dengannya Mom". Lirih Zeno dengan wajah ditekuk "Aku ingin melihat seperti apa wajah Daddy". Timpal Zeno sendu. Hati Ara berdenyut sakit. Dia paham perasaan anak-anaknya. Tapi dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan? Karena dia tahu jika suaminya itu tidak akan mau bertemu dengannya.


"Naro tidak ingin bertemu dengannya Mom. Untuk apa? Dia saja tidak pernah ingin bertemu kami. Dia tidak berusaha mencari kami. Atau jangan-jangan kehadiran kami saja dia tidak tahu?". Lagi-lagi Ara terkesiap mendengar jawaban putranya.


"Tidak Mom. Kau tahu sendiri kan Mom? Jika dia mencintai Mom dia akan mencarimu. Dia akan memastikan bahwa kau baik-baik. Bukan menyerah dan menuduh sembarangan". Satu tetes butiran bening lolos dipelupuk mata Ara. Ucapan putranya seperti pedang bermata dua. Benar kata Naro jika dia mencintai Ara pasti akan mencari dimana Ara berada. Bukan menyerah lalu pergi begitu saja.


"Jangan menangis Mom. Air mata mu terlalu berharga untuk pria seperti nya. Ada kamu yang mencintai mu dengan tulus. Jangan takut Mom, kami tidak akan meninggalkan mu". Naro mengusap pipi Ara menyeka air mata wanita hebat itu.


Ara tak bisa berkata apa-apa. Kenapa ucapan putranya begitu menusuk didalam relung hatinya? Kenapa juga dia menangis? Selemah itukah dirinya?


"Sayang, dengarkan ucapan Mommy". Keempatnya mengangguk patuh "Jika suatu hari nanti kalian bertemu dengannya. Mommy mohon kalian bersikaplah baik padanya. Bagaimana pun dia Daddy kalian. Mommy lah yang pergi meninggalkan nya meski karena terpaksa. Tapi dia adalah pria baik, karena dia kalian ada. Mommy mohon jangan menyimpan dendam". Ara menatap putranya Naro. Lalu tangannya terulur mengusap kepala bocah berusia lima tahun itu "Naro, Mommy sayang Naro. Mommy tidak ingin Naro menaruh dendam pada Daddy. Seperti yang Mommy katakan tadi, Mommy lah yang pergi meninggalkan Daddy".


"Tapi Mom.........".


"Apa Naro sayang Mommy?". Naro mengangguk dengan wajah polosnya.


"Jika Naro sayang Mommy, Naro juga harus sayang Daddy". Senyum Ara pada putranya


Naro terdiam. Pria kecil itu terlihat sedang berpikir. Lalu Naro mengangguk dengan wajah polosnya. Dia tersenyum pada sang Ibu.


"Naro akan berusaha Mom". Senyum pria kecil itu.


Lagi-lagi Ara terkesiap. Putranya seperti pria dewasa saja. Ucapannya mampu membuat Ara tak berkutip. Naro memang sedikit berbeda dengan kedua adik kembarnya, Zeno dan Zero.


"Mom, apa Nala boleh tahu sepelti apa wajah Daddy?". Seru gadis kecil itu dia penasaran seperti apa wajah Daddy mereka.


"Daddy kalian sangat tampan". Jawab Ara dengan senyum.


"Apa setampan Ayah dan Papa?". Sambung Zeno


"Lebih tampan". Sahut Ara lagi tersenyum gemes.


"Ya sudah ayo, kita tidur. Ini sudah tengah malam. Besok kalian mau sekolah kan?". Mereka berempat mengangguk.


Ara menidurkan keempat anaknya. Besok adalah hari pertama mereka masuk di taman kanak-kanak. Sebenarnya kecerdasan yang mereka miliki melebihi anak-anak sekolah menengah. Namun mereka tetaplah anak-anak yang masih berusia lima tahun memiliki sisi yang menunjukkan jika mereka masih butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya.


Ara menatap keempat anaknya itu. Terselip rasa bersalah dihati Ara. Rasa bersalah karena belum bisa menjadi Ibu sekaligus Ayah untuk keempatnya. Ara tahu jika anak-anak nya akan bertanya tentang Ayah mereka dan Ara sudah menyiapkan mental untuk menjawab pertanyaan keempat anaknya.


Bersambung....


Kayhan ❤️ Kimara