
Terima kasih sudah membenciku, itu akan menjadi alasan untuk mu melupakan ku. Setidaknya, kau takkan sesulit aku dalam hal melupakan.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹
Seorang pemuda tengah duduk dibangku jet pribadi miliknya. Tatapannya terarah keluar jendela, aura dingin terpancar diwajahnya. Tak ada senyum datar tanpa ekspresi.
"Bagaimana John?". Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan kearah sang Asisten yang berdiri didepannya sambil memberi hormat dan siap memberi laporan.
"Maaf Tuan, menurut informasi yang saya dapat dari penyelidikan mengarah pada Nona Ara, yang diyakini memang sengaja meninggalkan Tuan Muda Kayhan". Jelas John dengan iPad ditangannya.
"Apa kau yakin Ara begitu?". Dia mengajukan pertanyaan lebih tepatnya meminta pendapat.
"Saya tidak bisa katakan iya dan tidak Tuan". Sahut John
"Kenapa?". Dia masih saja fokus kearah jendela, seakan sedang berbicara dengan benda mati itu.
"Karena bukti-bukti ini menjelaskan bahwa Nona Ara memang meninggalkan Tuan Kayhan yang koma dan tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Nona Ara memilih pergi bersama laki-laki lain, dan menyerahkan Tuan Muda Kayhan pada Tuan Besar". Sahut John dengan penjelasan.
"Ini Tuan".
John menyerahkan iPad itu pada Tuan-nya. Pria tampan itu menatap rekaman CCTV yang berhasil mereka dapatkan. Memang disana tampak Ara bersama pria lain sedang berpelukkan mesra.
"Apa kau sudah menyelidiki siapa laki-laki ini? Sepertinya tidak asing?". Dia memperhatikan rekaman itu.
"Sudah Tuan. Dia, Jovander Van Derg. CEO dari Perusahaan IT, Van Derg Group". Jelas John.
Pria itu adalah Seem, setelah mendengar kecelakaan tentang adiknya Kayhan, dia kembali meluncur pulang ke tanah air. Dia memang sempat mendengar kabar bahwa Kayhan dan Ara diusir dari rumah dan keluarga Bagaskara, hanya saja Seem tidak mau ikut campur karena dia yakin Kayhan bisa melindungi wanita pujaannya.
Namun, ketika mendengar Ara menghilang dan pergi meninggalkan adiknya dalam keadaan tanpa sadar, membuat Seem harus pergi ke Indonesia untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
"Selidiki dengan detail John. Aku mengenal Ara dia tidak mungkin melakukan ini. Aku yakin ini semua ulah tua bangka tidak tahu diri itu. Jika sampai terjadi sesuatu pada gadisku, aku akan menghancurkan nya dan tidak peduli dia Kakekku". Rahang Seem mengeras. Bukan Seem tidak tahu jika Kakek nya itu juga yang membuat hubungan percintaan nya hancur dan kandas.
"Baik Tuan". Sahut John "Saya permisi Tuan".
Seem tak menjawab dia masih setia melamun dengan pikiran yang kemana-mana.
"Aku yakin kau tidak seperti yang mereka ceritakan Ra. Aku percaya padamu. Maaf lambat menyelamatkanmu. Jika saja aku tahu dari awal Kay tidak bisa menjagamu, maka aku akan merebutmu dari pelukkannya. Maaf kan aku Ra, semoga kau baik-baik saja". Batin Kayhan, tanpa satu tetesan bening tanpa warna itu jatuh dipipi Seem.
Kayhan mengelus sebuah lukisan yang dia beri bingkai. Lukisan Ara kala itu, saat dia meminta Ara untuk melukis nya masih terlihat utuh dan rapi dalam bingkai.
Pesawat Seem mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
Seem masuk kedalam mobil bersama John yang duduk disamping kemudi.
"Bagaimana keadaan Kay?". Tanyanya.
"Tuan Muda Kayhan sudah sadar dari komanya Tuan. Hanya saja kedua kakinya lumpuh dan tidak bisa berjalan". Jelas John.
"Baik, kita ke Mansion utama".
Seem menikmati kepadatan kota Jakarta. Ini kali pertama lagi dia kembali ke Indonesia setelah pernikahan Kayhan satu tahun lalu.
Seem sebenarnya enggan untuk kembali ke sini, tapi apapun yang bersangkutan dengan Ara Seem adalah orang pertama yang akan turun tangan.
Sampai di Mansion mewah keluarga Bagaskara, John sang asissten langsung membukakan pintu untuk sang Tuan.
Seem keluar dari mobil dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tangannya dia masukkan kedalam saku celana nya.
"Selamat datang Tuan Muda". Sapa para pelayan berbaris dengan memberi hormat.
Seem tak menjawab hanya wajah datar dan dingin aneh tunjukkan. Sedangkan John mengekor dari belakang sambil menyeret koper milik Tuan-nnya.
Seem tak menjawab dia malah berjalan menuju lift, tanpa merespon panggilan kedua orangtuanya. Hubungan Seem dengan keluarga nya memang tak pernah baik dari dulu.
Disebuah kamar mewah, seorang pemuda duduk dikursi roda, kepalanya masih dibalut dengan perban.
Tangannya bergetar saat membaca kertas yang ada ditangannya.
"Tidak, tidak mungkin". Dia berusaha menyangkal bahwa didalam surat itu bukan tanda tangan istrinya.
"Hiks kenapa kau tega meninggalkan aku?". Ucapnya dengan tangis hebat.
Saat dia bangun dari koma, dia tidak mendapati istrinya. Dan betapa terkejutnya dia saat tahu bahwa istri yang dia banggakan pergi bersama pria lain.
Awalnya tidak percaya tapi saat banyak bukti yang menuding sang istri membuat dia bingung harus bersikap apa, antara marah, kecewa, benci dan juga kehilangan secara bersamaan.
"Jika aku tahu dari awal kau tidak bisa menjaganya, maka aku takkan ragu untuk merebutnya". Tiba-tiba suara datang dan masuk kedalam kamarnya.
Dia mengalihkan pandangan dan melihat kearah suara.
"Kakak".
Seem mendekat kearah Kayhan. Kondisi Kayhan memang memperhatikan, wajah yang lebam dan bekas luka-luka, kakinya lumpuh akibat benturan yang kuat.
Seem mendapat Kayhan dengan intens. Dia kasihan pada Kayhan namun juga kecewa secara bersamaan.
"Dimana Ara?". Tanya Seem
Kayhan mengerjitkan keningnya bingung "Kenapa kau menanyakan wanita penghianat itu?". Tanya Kayhan dingin.
Seem tertawa sinis saat Kayhan mengatakan gadis-nya penghianat, jika saja Kayhan tidak sakit sudah pasti dia akan melayangkan pukulan pada wajah adiknya itu.
"Kau mengatakan mencintai nya, tapi justru kau mengatakan dia penghianat. Jika dia ****** berarti kau pencinta penghianat". Ejeknya.
Kayhan menatap Seem tajam "Kau tidak tahu bagaimana perasaanku? Aku ditinggalkan saat koma. Padahal aku begini karena menyelamatkan nya tapi dia menghianatiku dan pergi bersama pria lain". Kayhan mengepalkan tangannya "Bahkan dia mengajukan gugatan cerai saat aku koma".
Seem tersenyum mengejek "Darimana kau tahu jika Ara menghianati mu?". Seem melipat kedua tangannya didada.
"Ini". Kayhan menunjukkan segala bukti yang ada ditangannya kepada Seem.
Seem melihat sekilas dan tak ada tanggapan darinya. Dia menatap adiknya dengan ejekkan.
"Apa kau yakin Ara yang meninggalkanmu? Atau jangan-jangan kau lah yang membuat dia menyerah dan pergi". Tuding Seem santai.
Kayhan menatap Seem "Apa alasannya jika itu karena aku? Ara sendiri yang menyerah, padahal aku rela kehilangan segalanya agar bisa hidup bersama nya. Tapi lihatlah sekarang, aku hanya pria lumpuh yang tidak akan bisa berjalan lagi". Pekik Kayhan merasa frustasi dia meremes rambutnya dengan kasar.
"Jika kau melakukan itu dengan tulus, jangan pernah ungkit apa yang sudah kau lakukan untuknya. Tapi ingatlah bagaimana dia sabar menderita bersamamu". Ucap Seem.
"Aku sangat mencintainya. Kenapa dia menghianatiku, arggghhhhh". Sentak Kayhan melempar kertas ditangannya.
Seem memalingkan wajahnya saat mendengar bahwa Kayhan mencintai Ara.
"Bersiaplah, aku akan membawamu ke Australia". Perintah Seem.
Seem melenggang pergi dari sana tanpa menunggu jawaban adiknya. Ya tujuan Seem pulang ke Indonesia untuk membawa Kayhan pulang ke Australia dan berobat disana, dengan Dokter kelas dunia Kayhan pasti bisa sembuh kembali.
Bersambung.......
Kayhan ❤️ Kimara