Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 120. Maafkan Grandma



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Wena dan Erna sudah sampai ke Australia. Tujuan mereka kembali kesini adalah menemui Kayhan dan meminta.


“Selamat datang Nyonya”. Cody memberi hormat kepada dua wanita itu, orangtua dari Tuan-nya Kayhan.


“Dimana Kay, Cody?”. Tanya Wena sambil berjalan seiringan dengan Erna. Sedangkan Cody menyeret koper kedua Nyonya-nya.


“Ada dikamarnya, Nyonya”. Sahut Cody.


Wena dan Erna bergegas masuk kedalam kamar Kayhan. Tampak sekali ketidaksabaran diwajah kedua wanita beda usia itu.


Kayhan duduk dengan tatapan kosong. Matanya terarah pada jendela kamarnya yang langsung menyungguhnya indahnya kota Sidney. Salju-salju yang berterbangan diluar seakan menjadi saksi bahwa kini pria tampan itu tengah patah hati hebat.


Kayhan baru sadar ternyata kehilangan sesakit ini. Dia pikir akan dengan mudah melupakan Ara dan menghapus tentang mantan istrinya itu. Kayhan tak pernah menanggap Ara mantan istrinya karena dia tidak pernah menandatangani surat cerainya apalagi ikut siding perceraian. Bagi Kayhan, Ara adalah istrinya dan tetap akan jadi istrinya.


“Son”.


“Nak”.


Panggilan kedua wanita itu tak membuat Kayhan bangun dari lamunannya. Dia tahu dan mendengar siapa yang datang, hanya saja dia tidak peduli dan tidak mau tahu. Bagi Kayhan dia sudah tidak memilliki orangtua lagi.


“Nak”.


Wena berjalan mendekati Kayhan. Hatinya bagai disayat-sayat saat melihat penampilan cucunya yang jauh berbeda. Penampilan Kayhan yang tak terurus dan berantakkan seperti hati dan hidupnya.


“Nak”.


Mata Wena berkaca-kaca, tanpa permisi air matanya jatuh dengan deras. Butiran bening tanpa warna itu meleleh begitu saja membasahi pipinya. Sedangkan Erna juga menangis dengan isak. Hati Ibu mana yang takkan tersiksa melihat penampilan anaknya. Kayhan seperti pemulung yang tak terurus, pakaiannya sobek-sobek dan matanya membengak.


Wena langsung memeluk Kayhan dengan isakkan tangis. Dia merindukan pria kecilnya ini yang dulu sangat suka sekali bermanja-manja padanya. Pria kecil yang dulu selalu membuatnya tertawa.


“Maafkan Grandma”. Isak Wena. Kayhan hanya terdiam tanpa ekspresi dia tidak menjawab ucapan Neneknya. Dia juga tidak membalas atau menolak pelukkan Wena. Dia hanya duduk dan terdiam.


“Maafkan Grandma”. Wena masih memeluk cucu-nya. Dia ingin melepaskan semua kerinduannnya. Satu tahun lebih lamanya dia tidak bertemu Kayhan sejak Kayhan memutuskan pulang ke Australia. Wena sangat merindukan cucunya ini.


Kayhan masih terdiam, dia sama sekali tidak berniat untuk membuka suara. Seakan dia membisu. Percuma bersuara atau mengatakan apa yang dia rasakan, apakah orang akan mengerti? Mereka hanya akan mengejeknya dan menertawai dirinya karena ditinggal pergi oleh istrinya bersama pria lain.


Wena melepaskan pelukkannya, tangisnya kian pecah saat Kayhan sama sekali tak menatapnya. Tatapan Kayhan masih kearah jendela menikmati hujan salju yang kian deras. Wena merasakan sakit yang luar biasa saat cucu kesayangannya ini tak menanggap dirinya.


Erna maju menghampiri putranya itu. Air mata meleleh dipipi wanita paruh baya itu. Meski sudah tak muda lagi wajah cantiknya tak memudar.


“Son”.


Erna memeluk putra kedua nya ini. Menangis dengan hebat. Dia tak menyangka karena keegoisannya dia membuat putranya sendiri menderita dan kehilangan semangat hidup.


“Maafkan Mommy Son. Maafkan Mommy, hiksss. Maaf kan Mommy”. Kata maaf yang hanya bisa diucapkan saat penyesalan menjadi satu-satunya alasan untuk kembali.


“Mommy, mohon Son jangan siksa dirimu sendiri”. Lirih Erna yang masih betah memeluk putranya itu.


Hati Kayhan terenyuh, ini pertama kalinya Mommy-nya memeluk dia saat dia menginjak usia dewasa. Padahal dulu wanita yang dia peluk ini adalah wanita yang sangat dia cintai, wanita pertama yang dia lihat saat dunianya hancur. Wanita yang menjadi teman curhat terbaik.


“Hiks hiks hiks”. Kayhan tak mampu menahan tangisnya. Tangis nya pecah dipelukkan sang Ibu. Kayhan memeluk Erna dengan erat, bagaimana pun kecewa dan marahnya dia jika berbicara tentang seorang Ibu hatinya tetap akan terasa sakit.


Anak dan Ibu itu saling bertangis-tangisan satu sama lain. Meluapkan semua emosi dan kerinduan yang meledak didalam dada. Dengan menangis semuanya terasa lega.


“Mom”. Lirih Kayhan tak melepaskan pelukkan sang Ibu. Pelukkan ternyaman setelah istrinya. Kayhan tak bisa ungkapkan perasaannya saat ini. Meski Ibu nya pernah menyiksa istrinya namun Kayhan tak bisa menaruh dendam pada wanita dipelukkannya ini.


Wena sangat terharu, ikatan batin antara anak dan Ibu memang tak bisa diremehkan. Terbukti gunung es seperti Kayhan bisa mencair hanya dengan pelukkan hangat dan kata maaf dari Ibunya.


Cody juga berkaca-kaca. Dia tak menyangka jika kedua wanita jahat didepannya ini bisa menangis dan meminta maaf pada putranya sendiri.


Erna melepaskan pelukkanya, dia mengusap air mata putranya. Hatinya kembali sakit melihat penampilan Kayhan yang sungguh memperhatinkan.


“Mom”. Renggek Kayhan, walau sedingin apapun pria dia akan tetap hangat pada Ibunya.


Erna membelai rambut putranya, memperbaiki rambut putranya yang berantakkan tak terurus.


“Maaf kan Mommy”. Lirih Erna


Kayhan menggeleng “Kay yang harus minta maaf”. Sahut Kayhan.


Erna kembali memeluk putranya dan bersyukur Kayhan mau memaafkannya. Dia yang sudah egois merampas kebahagiaan putranya. Erna ingat bagaimana dia memisahkan Kayhan dan Ara dengan kejam.


“Son”. Erna melepaskan pelukkannya “Apa kau masih mencari dimana Ara?”. Tanya Erna menatap putranya.


Kayhan terdiam, hatinya kembali sakit saat mendengar nama istrinya. Tak bisa Kayhan bohongi bahwa perasaannya terhadap Ara takkan berubah sampai kapanpun.


Kayhan menggeleng “Tidak Mom. Kay sudah mengiklaskan Ara bersama orang lain”. Jawab Kayhan berusaha menguatkan hatinya.


Erna terdiam. Dia yakin jika Kayhan mengira Ara selingkuh dengan pria lain.


“Son”.


Wena langsung menyenggol lengan Erna agar jangan mengatakan sejujurnya. Mereka baru saja baikkan takut jika Kayhan akan kembali membenci keduanya.


“Kenapa Mom?”. Tanya Kayhan.


“Tidak Son. Apa kau sudah makan?”. Erna mengalihkan pembicaraan. Dia belum siap mengatakan yang sebenarnya. Kayhan baru saja pulih takut jika nanti putranya itu akan kembali marah lagi.


Kayhan menggeleng dengan senyum. Baru kali ini Kayhan tersenyum setelah berpisah dari Ara. Selama ini hidupnya hanya dipenuhi dengan rasa kehilangan dan kemarahan.


“Ya sudah, kamu mandi dulu ya. Mommy akan masak untukmu”. Senyum Erna.


“Iya Mom”. Ujar Kayhan menimpali


Wena dan Erna keluar dari kamar Kayhan. Keduanya tampak berseri setelah melepasakan rindu dan Kayhan mau memaafkan kesalahan mereka.


Wena berencana mencari dimana Ara. Dia akan membantu Kayhan. Apapun akan Wena lakukan demi kebahagiaan cucu-nya.


**Bersambung.....


Kayhan ❤️ Kimara**