Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 95. Kekhawatiran Kayhan



**Jika mau pergi, pergilah sejauh mungkin. Aku takkan mencegah apalagi melarang mu. Carilah kebahagiaan lain, jika memang tak bahagia bersama ku. Biarkan aku menikmati luka yang kau ciptakan, bukan kah aku tidak berarti bagimu?


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹**


Kayhan turun dari mobil, dia baru saja pulang dari kantor. Kayhan berjalan memasuki gedung mewah apartemen nya sambil melepaskan dasi yang terasa mencekik leher.


"Ai". Kayhan heran melihat adiknya itu sudah duduk disofa bersama kedua makanya.


"Uncle". Dua bocah tampan dan cantik berlaro kearah Kayhan.


Kayhan menurunkan badannya dan merentangkan tangannya menerima pelukkan dari kedua keponakan nya.


"Uncye balu puyang?". Tanya gadis kecil berusia dua tahun.


"Iya sayang". Kayhan mengendong dua bocah menggemaskan itu. Satu berusia empat tahun dan satu berusia dua tahun. Anak Aira dan Zico.


"Sayang, biarkan Uncle duduk dulu. Uncle kan pulang kerja pasti capek". Tegur Aira pada kedua anaknya.


Kayhan membawa kedua keponakkanya duduk "Mana Zico?". Tanya Kayhan menurunkan kedua keponakkanya.


"Sayang, kalian main sama Bik Ira dulu ya". Perintah Aira pada kedua anaknya.


"Iya Mom". Kedua bocah itu berlarian menuju taman bersama pengasuh mereka.


"Ada yang ingin Aira bicarakan sama Kakak". Aira menghela nafas pelan.


"Kak Kay". Zico baru saja dari kamar mandi. Malam ini mereka akan menginap di apartemen Kayhan.


Kayhan merespon dengan anggukan sambil membuka kancing kemeja nya yang mencekik lehernya.


Aira dan Zico saling melihat seakan mata mereka bertanya siapa yang akan duluan memulai pembicaraan.


"Kak".


"Ehem, kenapa?". Tanya Kayhan sambil mengulung lengan kemejanya sampai siku.


"Apa Kakak masih mencari keberadaan Kakak ipar?". Tanya Zico pelan sekali, takut meyingung perasaan Kayhan. Kayhan semakin sensitif pada ucapan orang-orang. Dia juga makin hari makin dingin dan tak tersentuh. Dia menyibukkan dirinya untuk bekerja dan mempelajari setiap keahlian dalam dirinya.


Kayhan menatap pasangan suami istri itu. Keningnya saling bertautan, tanda dia bingung dengan pertanyaan mereka.


"Kenapa?". Tanya Kayhan mode dinginnya sudah kembali.


Zico menelan salivanya, saat tatapan Kayhan mampu menebus indra penglihatan nya.


"Ehem, aku ingin membantu Kakak". Ucap Zico pelan sekali.


Kayhan tersenyum mengejek "Dia tidak akan bisa ditemukan Zico. Dia sudah pergi bersama orang lain. Jadi untuk apa lagi aku mencari nya. Ini bahkan sudah setengah tahun dia menghilang bekas kaki nya saja tidak terlihat, ini pertanda bahwa dia memang tak menginginkan aku berada disampingnya". Kayhan tertawa miris. Setiap kali berbicara tentang Ara, hatinya selalu sakit dan merasakan kehancuran yang luar biasa


Aira dan Zico bungkam dan bingung harus bagaimana lagi mengatakan pada Kayhan. Setiap kali membahas Ara, jawaban Kayhan selalu sama.


"Maaf Kak bukan Aira ingin menasihati Kakak. Tapi sebaiknya Kakak selidiki apa yang terjadi pada Kakak ipar. Bisa saja dia memang disembunyikan agar tidak bisa bertemu Kakak". Aira memberi nasehat pada Kayhan. Barangkali Kakak nya yang keras itu mau mendengarkan ucapannya


Kayhan malah tertawa sinis "Bagaimana pun orang berusaha menyembunyikan nya jika dia memang mau kembali, dia akan kembali. Karena cinta selalu akan berpulang pada rumahnya".


Aira meremes bajunya menahan emosi. Zico mengenggam tangan sang istri berusaha memberi kekuatan.


Aira berdiri "Jika benar Kakak ipar tidak bersalah. Aku adalah orang pertama yang akan menyuruh Kakak Ipar membenci Kakak. Kakak orang yang egois, Kakak orang yang jahat, Kakak tidak punya hati. Apa Kakak pernah berpikir bagaimana kondisi Kakak ipar disana? Apa Kakak pernah merasakan bagaimana perasaan Kakak ipar? Dia sedang mengandung anak Kakak tanpa seorang suami. Sedangkan suaminya sendiri malah menuduh dia melakukan hal yang tidak-tidak. Ini adalah terakhir kalinya aku peduli pada Kakak, aku tidak akan pernah lagi membantu Kakak untuk mencari Kakak ipar. Aku harap Kakak tidak akan pernah bertemu Kakak ipar lagi". Aira menunjuk wajah Kayhan. Dia meluapkan semua emosi nya pada pria itu.


"Sayang".


Aira langsung pergi dengan tangisnya meninggalkan Kayhan. Tanpa peduli dengan panggilan Zico pada istrinya. Zico menyusul Aira.


Sedangkan Kayhan membeku mendengar ucapan dan teriakkan Aira. Hatinya sakit saat Aira mengatakan bahwa dia dan Ara tidak akan pernah bertemu lagi.


Benar kata Aira, kenapa Kayhan tak pernah memikirkan bagaimana kondisi Ara dan kandungan? Ini sudah memasuki bulan keenam, harusnya perut Ara sudah membucit dan membesar. Ara butuh seorang suami untuk menemaninya.


Kayhan berjalan menuju kamarnya. Tatapannya kosong. Penampilan kusut dan berantakkan.


Kayhan langsung membuka bajunya dan menguyur tubuhnya dibawah shower. Ingin menghilangkan semua emosi yang terasa ingin pecah.


"Hiks hiks hiks hiks". Kayhan menangis dibawah guyuran shower. Dia memukul dingin kamar mandi dengan keras.


"Arghhhhhhhhh".


Kayhan meluapkan semua emosinya. Tak peduli dengan tangannya yang sudah berdarah dan luka-luka. Pria itu hanya ingin menangis dan menangis sekuat-kuatnya.


"ARA". Dia meremas rambutnya dengan kuat.


"Hiks hiks hiks hiks hiks".


"Maafkan aku".


"Maafkan aku".


Kayhan berteriak mengucapkan kata maaf. Dia yang selalu berkata jahat terhadap istrinya itu sangat menyesal. Entah apa yang dia sesali, tapi hatinya sakit ketika harus menerima kenyataan takkan bertemu istrinya lagi.


Apalagi anaknya akan lahir tanpa dirinya disamping Ara. Pasti anaknya juga akan tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah. Tapi apakah Kayhan salah? Kayhan tidak meninggalkan dan menyurut Ara pergi, justru Ara lah yang meninggalkan dia dan pergi mencari kebahagiaan lain.


Apa Kayhan salah membenci istrinya? Bagaimana tidak benci, ditinggalkan dalam keadaan koma dan tidak sadarkan diri. Bahkan istrinya tak mengucapkan kata perpisahan atau sekedar selamat tinggal


Mengapa? Mengapa Ara tega meninggalkannya sendirian? Padahal Ara sudah berjanji akan selalu berada disampingnya apapun yang terjadi. Ara juga mengatakan takkan meninggalkan Kayhan sekalipun seluruh dunia menghakimi nya dia akan bertahan bersama Kayhan. Lalu kenapa Ara-nya pergi dan meninggalkan nya.


"Hiks hiks, maafkan Daddy Nak". Isak Kayhan sambil terduduk dan bersandar di pintu kamar mandi. Tubuhnya menggigil kedinginan.


"Maafkan Daddy".


"Maafkan Daddy yang tidak bisa bersatu dengan Mommy mu".


Kayhan bangkit dari duduknya. Dia segera mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Tubuhnya terasa dingin dan juga lelah. Berguyur dibawah shower membuat tubuh Kayhan mwngigil dengan cepat. Seakan tubuhnya ikut rapuh bersama hatinya. Padahal pria itu memiliki badan yang kekar dan hampir tak pernah merasakan sakit dibagian tubuhnya, kecuali karena kecelakaan yang harus membuatnya terpisah dari Ara.


Kayhan mengambil ponselnya dan mencari nomor dibenda pintar itu.


"Cody, cari tahu semua tentang Ara. Lacak keberadaan nya. Gunakan virus yang kubuat. Aku tidak menerima kegagalan lagi Cody. Jangan membuatku ingin membotaki kepalamu. Lakukan perintah ku, dan pastikan kau menemukan dimana istriku".


Tanpa menunggu jawaban Cody, Kayhan langsung menutup telponnya dan membanting benda itu dikasur king size miliknya.


**Bersambung.......


Kayhan ❤️ Kimara**