
Rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada, meremukkan seluruh raga karena takkan menemukan titik temu meskipun dunia terbalik lima ratus juta kali dan takkan bertemu sekalipun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹
Kimara POV
Aku menatap nanar wajah itu, wajah tertidur dengan mata terpejam erat. Wajah ayu, dulunya cantik kini mulai keriput. Rambut hitam dan panjang yang dulu tergerai indah, kini dihiasi warna putih yang setara.
Tuhan, rasanya aku sudah tak sanggup lagi menangis, air mata ini benar-benar kering. Mengapa dan mengapa? Mereka meninggalkanku disini sendiri, kepada siapa lagi aku mengadu? Kepala siapa lagi aku bercerita tentang betapa lelahnya aku bekerja? Kepala siapa lagi aku meminta, kala tak ada satupun uang disaku tasku?
"Ibu, hikssss". Aku terus saja menangis, memeluk tubuh kaku itu. Tangannya terlipat rapih diatas perut dan wajahnya tampak cantik setelah didandani.
"Ibu, kenapa Ibu juga tega meninggalkan Ara sendirian disini? Ibu bangun Bu, bangun.. Ara hikssssss". Sekalipun aku terus menangis takkan membuat Ibu bangun lagi.
Aku merasakan usapan hangat dipundakku, usapan dari seseorang yang memiliki tangan kekar dark sedari kemarin terus memeluk ku dan bahkan sama sekali dia tak beranjak meninggalkanku. Dan entah kenapa pelukkannya bisa sedikit membuat jiwa yang lelah ini kembali merasakan kehangatan.
"Ibu". Teriak Mey juga terdengar keras. Mey menangis histeris, bagaimana pun Mey yang paling dekat dengan Ibu, sedangkan aku paling akrab dengan Ayah. Namun sekarang kedua orang itu telah pergi untuk selamanya, entah kepada siapa lagi hati ini akan mengadukan semua hal.
"Ibu, jangan tinggalin Mey Bu. Mey tidak bisa tanpa Ibu". Teriakkan Mey masih menggema. Martha memeluk Mey dengan erat, berusaha menenangkan dan memberikan kekuatan pada gadis itu.
"Sudah Ra". Dia memelukku lagi dan lagi, aku mendongrakkan kepala menatap wajahnya.
"Tuan hikssss". Aduku tak mampu menahan lagi segala rasa yang benar-benar ingin membuat ku mati.
"Kau harus ikhlas, ini lah jalan takdir hidup". Sambil dia memelukku erat didekat mayat Ibu.
"Ra, sabar ya". Kak Nickho mendekat kearahku, Dokter baik hati dengan sejuta pesona itu benar-benar sangat peduli padaku.
"Kak, hikssss". Lagi dan lagi aku mengadu, padahal aku bukan gadis lemah tapi sudah hampir dua minggi ini aku terus saja menangis, merintih dengan semua yang terjadi padaku.
Aku kembali menatap Ibu, ku elus wajah Ibu untuk terakhir kalinya lalu mataku terarah pada seorang pria yang duduk didekat Ibu juga pria yang telah mengabrak Ibu dan membuat Ibu pergi untuk selamanya.
Ingin, rasanya aku marah dan berteriak didepan wajahnya tapi semua percuma toh Ibu takkan kembali lagi padaku. Ibu sudah pergi untuk selamanya, bukankah sudah cukup aku menangis dan untuk apa lagi aku marah?
Ibu dimakamkan didekat makam Ayah, kedua orang yang pernah membuat ku ada didunia ini kini mereka pergi dan meninggalkanku sendirian didunia ini.
Rasanya seperti mimpi yang benar-benar terasa nyata, baru saja kemarin pagi Ibu membangunkanku dan menyiapkan sarapan pagi dan bahkan Ibu juga menyiapkan air hangat untukku dengan wajah bahagia tanpa lelah.
Dan kini, dia juga justru memilih pergi dan membiarkan ku hidup sendiri. Ibu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun, tak mengucapkan kata perpisahan atau sekedar selamat tinggal.
"Ibu, hiks Ibu". Mey histeris jika saja bukan Tuan Cody dan Martha yang memegangi nya dipastikan Mey juga ikut masuk kedalam tanah bersama peti mati Ibu.
"Mey, yang kuat". Martha memeluk tubuh Mey dengan erat, sahabat ku itu selalu hadir dua puluh empat jam dan bahkan Martha tak pulang kerumah sejak kemarin.
"Kak, Ibu, hiks hikssssss". Mey kembali memberontak, namun segera dipeluk oleh Tuan Cody, assisten Tuan Kayhan.
"Sudah Mey, kau harus kuat. Jangan begini terus". Tegas Martha yang sebenarnyal juga rapuh.
Martha dan Tuan Cody bersama memeluk Mey yang memberontak, mereka berdua tampak bekerja sama.
"Bu, hiks hiks hiks hiks hiks hiks". Aku yang tadinya mematung kembali menangis dengan histeris, didepan pusara Ibu. Batu nisan yang tertulis namanya, hanya beda satu Minggu dengan kepergian Ayah.
"Ayah, Ibu. Kenapa kalian meninggalkan Ara secepat ini, Ara masih butuh kalian hiks hiks". Aku memeluk batu nisan itu dengan tangis.
Aku menatap kedua makam itu dengan hati bagai teriris kedua orang ini pergi hampir secara bersamaan. Belum juga aku bangkit dari patah hati karena kehilangan Ayah dan kini disusul oleh kepergian Ibu yang juga secara tiba-tiba.
Kenapa Tuhan, sangat suka menyiksa jati diri ini? Setelah dipatahkan oleh penyakit aneh yang mengintimidasiku tidak bisa memiliki keturunan dan kini aku harus dihadapkan dengan perpisahan abadi perpisahan yang takkan pernah menemukan titik temunya dan bahkan perpisahan yang takkan ada ujungnya, sekalipun dunia terbalik lima ratus juta kali dan sekalipun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.
Kepalaku benar-benar terasa sakit, selama dua Minggu ini aku rutin menangis. Bahkan sakit yang kurasakan saat ini lebih satu dari pada penyakit yang pernah kuderita sebelum operasi.
Mengapa takdir hidupku sangat berbeda? Kuarahkan pandanganku pada Mey yang sudah terlihat tenang dipelukkan Martha, jika bukan karena adikku Mey mungkin saat ini aku juga memilih pergi meninggalkan dunia ini. Tapi saat melihat wajah polos gadis remaja itu, membuat hatiku semakin sakit bagaimana mungkin kami hidup tanpa siapa-siapa?
Kak Roger yang diharapkan menjadi satu-satunya sandaran kini tinggal dijeruji besi yang membuatnya semakin jauh dariku. Aku tahu Kakakku itu sudah sadar dan aku ingin dia segera keluar dari penjara, tapi aku tidak mampu membayar denda sebanyak satu milyar untuk menebus Kak Roger.
Aku memejamkan mataku, menikmati setiap rasa sakit yang ada dihati dan hidup. Aku tidak bisa menghindar dari semua ini, aku hanya terus harus mengikuti arus cerita hidup ini.
"Ra". Dia membenamkan wajahku, didada bidang miliknya. Boss yang sangat menyebalkan dan dingin, bahkan pernah menghukumku dan kini justru menjadi tubuh yang ingin kupeluk berlama-lama.
"Kau tidak pernah sendirian, masih ada kami yang selalu ada untukmu". Ucapnya terdengar tulus, aku tak bergeming dan hanya masih terdiam. Aku tak membalas pelukkannya dan aku juga tak menolak.
**Bersambung.......
Salam hangat.
Kayhan ❤️ Kimara**