Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 137



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Kayhan baru saja selesai membersihkan diri. Dia sudah siap dengan setelan jas mahal yang melekat dibadan kekar pria berwajah tampan itu. Rambutnya disisir rapih, dasi yang senada dengan warna jasnya menambah kesan tampan untuk pria itu, siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona.


Kayhan menghampiri meja makan, disana sudah tersedia sarapan yang dibuat oleh para pelayan setianya.


“Selamat pagi Tuan”. sapa Cody menarik kursi mempersilahkan sang CEO duduk.


Kayhan hanya merespon dengan anggukan, lalu mengambil makanan secukupnya. Sarapan pagi yang selalu sama yaitu nasi goreng telur kecap, kesukaan Kayhan.


Kayhan makan dalam diam, hanya ada suara sendok yang berdenting dipiringnya. Sedangkan Cody dan para pelayan lainnya berdiri seperti manekin yang menunggu sang raja selesai makan.


Setelah sarapan, Kayhan dan Cody segera berangkat kekantor. Enam tahun sudah berlalu, Kayhan tak menginjakkan kaki diperusahaan miliknya. Banyak kenangan yang tersisa diperusahaan itu. Sebenarnya Kayhan ingin sekali menjual perusahaan miliknya, namun Nathan bersikeras mempertahankannya.


Kayhan turun dari mobil. Kacamata hitam menghiasi matanya. Dia turun dengan wajah datar dan juga dingin, kedua tangannya mendiami saku celana kanan dan kirinya.


Para karyawan berbaris rapih menyambut kedatangannya. Setelah sekian lama akhirnya CEO pemilik perusahaan KMB Group kembali diperusahaan.


“Selamat datang Tuan”.


Namun Kayhan sama sekali tak merespon. Dia tetap melanjutkan langkah kakinya dengan tenang dan wajahnya seperti patung tanpa ekspresi.


Semua karyawan menunduk hormat kepadanya. Sang Crazy Rich CEO yang baru saja mendapat penghargaan sebagai CEO termuda dan tersukses ditahun ini. Nama Kayhan sedang menjadi perbincangan hangat dimedia social dan beberapa televise swasta saat ini.


Kayhan masuk kedalam ruangannya. Tak ada yang berubah dari ruangan ini. Tetap sama, suasananya rapi dan juga nyaman.


“Akhirnya kau kembali”. Nathan menyambut hangat pada Kayhan.


Kayhan membalas pelukkan sahabatnya itu. Sudah cukup lama dia tidak bercengkrama dengan sahabat playboy nya ini.


“Bagaimana kabarmu?”. Mereka duduk disoffa ruangan Kayhan.


“Seperti yang kau lihat”. Kayhan mendudukkan pantatnya


Nathan menatap Kayhan. Penampilan Kayhan sangat jauh berbeda sebelum dia berangkat ke Australia. Nathan bisa menebak jika Kayhan jungkirbalik menjalani hidupnya.


“Bagaimana masalah perusahaan?”. Tanya Kayhan melonggarkan sedikit dasi yang terasa mencekik lehernya.


“Mereka ingin bertemu denganmu”. Sahut Nathan.


“Apa yang mereka inginkan bertemu denganku?”.


“Mungkin ingin bertemu dengan Crazy Rich CEO”. Goda Nathan sedikit terkekeh.


Kayhan memutar bola matanya malas. Dia sebenarnya tidak suka menjadi pusat perhatian. Dimana-mana foto dirinya dipampang sebagai CEO muda tersukses. Apa tidak ada yang lain untuk dibahas? Begitulah pikir Kayhan.


“Ini, berkas kerjasama kita bersama Event Painting bulan depan”. Nathan menyerahkan dokumen pada Kayhan.


Kayhan membukanya dan membaca isi berkas itu “Kelihatannya menarik”. Tanpa membaca panjang lebar Kayhan langsung menandatangani berkas itu.


“Kak Seem akan jadi jurinya”. Imbuh Nathan mengambil berkas yang sudah ditandatangani itu.


“Apa dia sudah kembali?”. Tanya Kayhan. Setelah baku hantam di Belanda lima tahun lalu, dia tak pernah lagi bertemu dengan Kakak nya itu.


“Iya”. Sahut Nathan singkat sambil menyimpan kembali berkas itu diatas mejanya.


“Apa kau akan lama disini?”.


“Setelah semua urusan selesai. Aku akan kembali”. Sahut Kayhan lagi.


Sementara di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Nickho turun dengan tergesa-gesa. Setelah mendapat kabar dari Jovan bahwa Ara dan anak-anaknya kembali ke Indonesia. Dokter tampan yang masih setia melajang itu memutuskan untuk kembali. Apalagi Nickho tahu jika Kayhan dan Seem juga sudah kembali ke Indonesia.


“Kemana Tuan?”.


“Rumah”.


Sampai dikediaman Nathan dan Naira, Nickho langsung turun.


“Uncle”.


Ketiga bocah berbeda usia berlari kearah Nickho. Nickho berjongkok merentangkan tangannya dan menyambut ketiga keponakkan lucunya.


“Hai ponakkan Uncle”. Nickho memeluk ketiga bocah lucu dan menggemaskan itu.


“Kakak”. Naira juga menghampiri kakaknya. Sudah lima tahun Nickho tidak kembali ke Indonesia.


“Bagaimana kabar keponakkan nya Uncle ini?”. Nickho mencubit hidung Lea dengan gemesnya.


“Sehay Uncye”. Sahut Lea yang suaranya belum tembus. Gadis kecil berusia satu tahun itu.


“Kakak”. Naira juga memeluk kakak nya yang tidak laku-laku ini.


“Nai”. Nickho membalas pelukkan adiknya “Bagaimana kabar Nathan?”. Dia melepaskan pelukkan Naira.


“Sehat Kak. Dia sedang kekantor menemui Kak Kay”. Jawab Naira “Ayo Kak duduk”. Ajak Naira.


Nickho menuju ruang tamu dengan mengendong Lea yang bergelut manja sambil melingkarkan tangannya dileher Nickho.


“Leon, bagaimana kabarmu?”. Tanya Nickho mengelus kepala keponakkan sulungnya itu.


“Baik Uncle”. Sahut Leon singkat


“Kak, aku siapkan makan dulu. Bermainlah dengan Leon, Leo dan Lea”.


“Baik”.


“Leo, bisa kau bawa Lea bermain ke kamar sebentar. Ada yang ingin kakak bicarakan dengan Uncle Nickho?”. Ucap Leon. Nickho tercenggang mendengar ucapan dewasa keponakkannya itu. Selama ini dia memang jarang bertemu dengan keponakkannya kecuali saat Nathan dan Naira pulang ke Australia.


“Baik Kak”. Segera Leo membawa Lea masuk kedalam kamarnya.


Kini tinggal Leon dan Nickho. Leon menatap Nickho dengan selidik, mata-mata Seem itu terlihat sangat dewasa dengan tatapannya yang dingin dan juga mengintrogasi


“Kenapa melihat Uncle begitu?”. Tanya Nickho heran.


“Ayo ikut Leon”.


Leon menarik tangan Nickho masuk kedalam kamarnya. Dia mengunci kamarnya, takut jika Naira akan melihat dan mendengar pembicaraannya.


“Ada apa Leon?”. Tanya Nickho heran saat Leon menarik tangannya dengan paksa dan membawanya masuk kedalam kamar sambil menyuruhnya duduk dibibir ranjang mini milik Leon.


“Katakan padaku, jika Uncle tahu semua tentang siapa Aunty Ara?”. Nickho terkesiap mendengar pertanyaan Leon.


“A-ara?”.


“Iya Uncle. Cepat jawab pertanyaanku?”. Desak Leon


Nickho menatap Leon dengan selidik “Darimana kau tahu tentang Ara?”. Tanya Nickho penasaran. Dia tidak pernah membicarakan tentang Ara pada Leon


“Aku butuh jawaban Uncle bukan pertanyaan?”. Ketus Leon melipat tangan didada dengan wajah kesal yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan.


“Uncle tidak akan mengatakannya jika Leon tidak jawab pertanyaan Uncle”. Ancam Nickho tak kalah tajam menatap bocah berusia lima tahun itu. Jika berbicara tentang Ara dia tidak mau sembarangan.


Leon berdecih kesal, anak kecil sepertinya tetap tidak bisa berbohong “Aku mata-mata Uncle Seem, dia menyuruhku mengawasi Daddy dan Uncle Willy yang sekarang mencari keberadaan Aunty Ara bersama Grandfa Bagaskara”. Jawab Leon polos.


Nickho langsung menatap keponakkannya. Ucapan Jovan benar jika Bagaskara takkan berhenti mencari dimana Ara. Nickho terdiam sejenak, dia jadi merasa was-was apalagi sekarang Ara dan anak-anaknya sedang berada di Indonesia.


Bersambung.....


Kayhan ❤️ Kimara