Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 10. Menahan sesak.



**Kadang memilih diam lebih baik, dari pada menjelaskan apa yang sedang dirasa. Berharap dimengerti nyatanya hanya menambah beban dihati.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹**


Ara dan Mey pulang subuh kerumah mereka. Karena semalam mereka menginap kerumah sakit. Ara harus buru-buru kekantor, sedangkan Mey buru-buru kesekolah karena ada ujian tengah semester yang tengah Mey lakukan.


Ara menyempatkan dirinya untuk memasak, karena dia harus kembali kerumah sakit untuk membawakan sang Ibu makanan dan pakaian ganti dia juga harus mengantar Mey kesekolah karena tidak mungkin menyuruh adiknya itu naik bis, bisa-bisa Mey terlambat ikut ujian.


"Mey, ini bekal untukmu. Jangan lupa makan siang". Ara menyerahkan satu kotak nasi pada adiknya.


"Terima kasih Kak". Senyum Mey. Ara memang Kakak terbaik yang selalu bisa Mey andalkan "Apa Kakak juga bawa bekal?". Tanya Mey yang melihat ada dua rantang nasi lagi ditangan Ara.


"Iya Mey". Sahut Ara "Ya sudah, ayo kita berangkat kerumah sakit dan setelah itu Kakak akan mengantarmu ke sekolah". Ara segera berkemas dan memakai pakaian kantornya


Ara dan Mey menuju rumah sakit. Bahkan Ara lupa dengan rasa sakit yang ada diperutnya. Yang sekarang ada dipikiran Ara adalah tentang kesembuhan sang Ayah.


"Bu, ini makanan dan baju ganti buat Ibu. Ara kerja dulu". Ara dan Mey menyalami Wati.


"Mey juga pamit kesekolah Bu".


"Iya Nak, kalian hati-hati ya".


Ara mendekat ke ranjang Ayahnya. Hatinya terpukul melihat Ayahnya yang terpejam dengan selang oksigen menempel dihidungnya.


"Ayah, Ara kerja dulu ya. Ayah cepat bangun, biar bisa mengantar Ara ke kantor lagi". Ara mengecup kening Ayah nya dengan sayang dan tak terasa air mata luruh kembali dipipi cantiknya.


Ara mengantar Mey ke sekolahnya karena sekolah Mey terlewati jika ingin ke kantor tempat Ara bekerja.


Ara melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Astaga, jam 7.30". Pekik Ara melaju kan motornya "Aku sudah terlambat tiga puluh menit, bagaimana ini?". Gumam Ara sambil mengendarai motornya.


Kemarin Ara sudah diberi peringatan oleh Nathan bahwa setiap pagi akan ada briefing pagi staff dan CEO, termasuk dirinya. Briefing tidak akan dimulai jika ada salah satu karyawan yang belum datang atau terlambatnya.


Beberapa kali Ara meringgis kesakitan menahan luka diperutnya "Tuhan kenapa sakit sekali?". Ara mengigit bibir bawahnya. Sumpah demi apapun rasanya, Ara ingin melihat bekas operasi nya apakah mengeluarkan darah atau hanya terasa sakit dari dalam.


Ara sampai diparkiran kantor perusahaan, dengan cepat gadis itu melepaskan helmnya dan langsung berjalan dengan setengah berlari memegang perutnya. Tangan kanannya menenteng bekal makan siangnya, sedangkan tasnya bergantung dibahu Ara.


Sementara dilapangan halaman kantor yang memang sudah dikhususkan untuk briefing pagi semua karyawan, Kayhan dan Nathan tidak juga memulai pembicaraan.


"Sudah hampir satu jam salah satu dari kalian masih belum datang, jika dalam waktu sepuluh menit dia belum juga sampai. Maka kalian akan saya skors dari perusahaan". Ancam Kayhan. Tangannya dia masukkan kedalam saku celananya.


Semua karyawan berbisik-bisik membicarakan Ara. Mereka mencibir kesal dan bahkan ada yang benci, jika sampai Ara tidak datang mereka akan di skors dan gaji bisa saja dipotong.


"*Ara kemana sih?? Apa dia baik-baik saja?". Batin Martha khawatir sambil melihat kearah masuk lapangan


"Ara kemana ya? Apa dia tidak akan datang?". Batin Nathan juga penuh harap.


"Kemana gadis itu? Awas saja jika dia sudah sampai". Batin Kayhan terlihat kesal*.


Ara berlari dengan nafas tersengal-sengal, bahkan dia sampai memegang lututnya yang bergetar.


"Maaf Tuan saya.......".


"Maju kedepan!". Bentak Kayhan tajam.


Ara menurut dan maju kedepan gadis itu menunduk saat melihat tatapan para karyawan yang sepertinya sangat kesal padanya.


"Kenapa terlambat?". Tanya Kayhan dingin, tangannya dia masukkan kedalam saku celana kanan dan kirinya.


"Maaf Tuan". Ara hanya bisa menunduk menahan sesak didadanya. Perutnya benar-benar terasa perih. Ara meremes ujung roknya, sambil mengigit bibir bawahnya.


"Jika besok masih terlambat, gaji mu saya potong". Timpal Kayhan "Karena saya paling tidak suka jika ada karyawan yang tidak disiplin kerjanya. Saya mengaji kalian bukan untuk bermalas-malasan, jadi bertanggung jawablah terhadap tugas dan kewajiban". Jelas Kayhan, menatap Ara yang terlihat bergetar. Kayhan pikir Ara pasti grogy dan gugup.


"Kau". Tunjuk nya pada Ara "Sebagai hukumannya hari ini bereskan ruangan saya, susun semua buku-buku yang ada diruangan saya". Perintah Kayhan


"Baik Tuan". Sahut Ara.


"Kau boleh kembali ke barisan". Ucap Kayhan.


Nathan menatap Ara dengan sendu, ada yang berbeda dengan gadis itu. Nathan penasaran kenapa Ara bisa terlambat? Biasanya gadis ini sangat displin dalam bekerja dan selalu on time.


Setelah selesai briefing, semua karyawan masuk ke divisi masing-masing.


Ara hanya mengangguk sambil menunduk.


"Ra". Martha mendekat kearah Ara. Ara memang tertutup bahkan gadis ini tak pernah mau menceritakan masalah nya pada Martha.


"Iya Ta". Sahut Ara.


"You okey?". Tanya Martha sambil mengelus pundak Ara. Ara mengangguk dan tersenyum.


"I'm okey". Senyum Ara.


"Apa kau tidak ingin menjelaskan padaku kenapa kau terlambat?". Timpal Martha menatap wajah sahabatnya.


Sebenarnya Ara sangat ingin menceritakan pada Martha tentang masalahnya, tapi dia tidak mau sahabatnya itu bersedih karena memikirkan dirinya. Martha sudah terlalu banyak membantu Ara dan Ara tidak mau menyusahkan sahabat nya itu.


"Tadi aku kesiangan". Jawab Ara asal "Aku balik ke meja dulu". Ara berusaha menyembunyikan perasaan sedih dan sakitnya.


Martha melihat ada yang aneh diwajah sahabat nya itu terutama Ara yang berjalan seperti diseret dan sering memegang seperti menahan sakit. Martha ingin bertanya tapi dia tahu pasti Ara tidak akan mengatakan yang sebenarnya nya.


Jam makan siang.


"Ra, makan siang yuk". Ajak Martha sambil berdiri didekat meja Martha.


"Iya Ta, kebetulan aku bawa bekal kita makan dikantin saja". Ara ikut berdiri "Tapi setelah makan siang, aku izin pulang sebentar Ta". Lanjut Ara berjalan menenteng rantang nasinya.


"Ada apa Ra? Kenapa pulang?". Tanya Martha curiga.


"Ehem, itu. Aku mau kesekolah Mey ada yang ingin diurus". Kilah Ara mengaruk tengguknya takut ketahuan bohong.


Ara dan Martha sampai dikantin, mereka memilih bangku paling pojok. Kantin ini sangat mewah seperti restourant bintang lima. Makanan yang disini juga rata-rata makanan khas Eropa dengan harga yang cukup menguras dompet.


Seketika suasana kantin jadi riuh saat melihat tiga orang pemuda tengah berjalan kearah kantin. Mereka adalah Kayhan, Nathan dan sang Asisten Cody.


Kayhan memilih tempat duduk, dibelakang Ara dan Martha. Martha gugup bukan main, sedangkan Ara biasa saja. Dia tidak terpesona sama sekali dengan ketampanan Kayhan mau pun Nathan. Karena sadar diri lebih penting daripada berimajinasi tinggi.


"Kau pesan apa Ra?". Tanya Martha.


"Aku bawa bekal Ta, kau pesan saja untukmu". Sahut Ara membuka rantang nasinya. Pembicaraan mereka berdua didengar oleh tiga pasang telinga yang makan dalam diam itu.


"Kau yakin?". Ara hanya mengangguk sambil menyuap makanan nya.


Drt drt drt drt drt


Ponsel Ara berbunyi. Ara merongkoh ponselnya yang terletak didalam tas kecil miliknya.


"Siang Kak Nickho, ada apa?". Tanya Ara sopan sambil menyuap makanan nya.


"Ra, bisa datang kerumah sakit sebentar ada yang ingin aku bicarakan tentang kondisi Ayahmu". Sahut suara diseberang sana.


"Baik Kak, aku segera kesana". Ara langsung memutuskan sambungannya.


"Siapa Ra?". Tanya Martha saat melihat wajah panik Ara.


"Teman". Sahut Ara singkat sambil memasukkan ponselnya "Ta, aku izin pulang sebentar nanti aku balik lagi". Ara menutup rantang nasinya.


"Lho, kau belum selesai makan Ra?". Tegur Martha.


"Aku makan sambil jalan saja". Ara berdiri.


"What??!". Pekik Martha.


"Kondisi kan suaramu, aku pamit". Ara mellengang pergi dari sana sambil sesekali menyuap nasinya membuat Martha menggeleng tak percaya. Bagaimana caranya makan sambil berjalan?


Kayhan, hanya terdiam mendengar percakapan Martha dan Ara. Dia penasaran mau kemana gadis itu dijam makan siang seperti ini? Apa akan bertemu kekasihnya?


Nathan juga hanya terdiam, entah kenapa setelah membentak Ara kemarin dirinya merasa bersalah pada gadis itu.


**Bersambung....


Salam hangat


Ara ❤️ Kay**