
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Kayhan dan Cody segera keluar dari ruang CEO. Mereka akan menemui klien yang sudah menununggu dicaffe Mall. Sebenarnya Kayhan tidak suka meeting di luar karena dia tidak suka menjadi pusat perhatian orang-orang yang seakan begitu mendambanya sampai-sampai membuatnya ingin muntah.
Cody melajukan mobilnya menuju Mall. Mall itu juga milik Kayhan. Mall yang sempat dia bangun beberapa tahun lalu dibawah nauangan Nathan dan William.
Kayhan duduk tanpa ekspresi. Tatapan nya mengarah kedepan. Tak ada raut kebahagiaan diwajah pria itu dan mungkin dia tidak tahu bagaimana caranya tersenyum. Saking sudah lamanya dia tidak tersenyum membuatnya akan kaku jika tersenyum.
Cody hanya bisa menghela nafas berat. Puluhan tahun mengikut Kayhan membuatnya tahu sifat Tuan-nya itu. Sejak perpisahannya dengan Ara bahkan Kayhan tak pernah lagi tersenyum atau pun tertawa.
“Maafkan saya Tuan. Saya tidak bermaksud berkhianat pada anda. Tapi saya juga tidak mau jika Nona disakiti oleh Tuan Bagaskara. Semoga suatu hari nanti anda bisa bertemu Nona dan kalian berkumpul lagi seperti waktu itu”. Batin Cody sambil menyetir.
Sampai di Mall mereka turun dan langsung disambut oleh manager Mall dengan hormat. Beberapa pria berbaju hitam juga menyambut mereka serta melindungi Kayhan dari wartawan atau serangan-serangan lainnya. Sebagai seorang pengusaha terkaya dan Crazy Rich tentu banyak orang yang mengejar dan ingin menjatuhkan dia.
“Silahkan Tuan”. Cody membukakan pintu untuk Kayhan.
Ketika turun langsung saja pria itu menjadi pusat perhatian para penghujungnya. Saking terpesona nya ada yang mengangga dengan mulut terbuka lebar tanpa sadar. Ada yang sedang berjalan menabrak yang lainnya. Mereka seperti sedang melihat malaikat dari turun dari surga menampakkan dirinya kepada manusia.
Kayhan berjalan dengan tatapan dinginnya. Kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celananya. Sementara Cody mengekor dari belakang sambil meneteng tas ditangannya. Para Bodyguard berjalan membuat barisan dibelakang mereka menjaga-jaga jika ada yang berani mengusik Tuan mereka. Kayhan benar-benar diperlakukan seperti presiden Negara dia dijaga dengan ketat takut jika ada yang berani melukainya.
Kayhan masuk kedalam ruang VVIP yang sudah di reservasi oleh assistennya Cody. Tempat yang tentunya jauh dari public dan tertutup. Kayhan tidak suka berada ditempat ramai, dia jijik melihat orang yang menatapnya dengan damba. Apalagi jika ada wanita yang berusaha menggoda nya membuat pria itu ingin muntah saja.
“Silahkan duduk Tuan”. Ucap Cody. Kayhan merespon dengan anggukan.
“Selamat datang Tuan Kayhan. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan saya”. Pria paruh baya itu mengulurkan tangan kearah Kayhan ingin menjabat tangan CEO tampan itu.
Kayhan hanya diam tak bergeming dia sama sekali tak berniat menyambut uluran tangan rekan bisnisnya itu.
“Maaf Tuan Alex, kita langsung saja ke intinya. Membahas kerja sama”. Ucap Cody mengalihkan pembicaraan saat melihat wajah kikuk pria paruh baya itu.
“Baik Tuan Cody”.
Cody membuka laptopnya dan siap mempresentasikan data yang sudah dia buat jauh-jauh hari. Begitu juga dengan Tuan Alex yang menyiapkan semua materinya.
Meeting berjalan dengan lancar. Cody yang memang sudah menguasai semua materi bisa menjelaskan dengan begitu detail. Begitu juga dengan Tuan Alex yang sudah menyaipkan materi lengkapnya. Kerja sama yang mereka jalin tentang pembangunan Mall terbesar di Indonesia. Tuan Alex yang akan menangani proyek ini sampai jadi tentu dengan surat perjanjian dari Kayhan.
Sedangkan Kayhan hanya duduk sambil melipat kedua tangannya. Dia memasang telinga dengan baik mendengar penjelasan dari dua orang didepannya ini. Tanpa ada niat mengomentari atau sekedar memberi saran, barang kali ada yang ingin ditambahkan olehnya.
Ara turun dari mobil tanpa menunggu Mul membukakan pintu untuknya.
“Paman mau ikut masuk?’. Tawar Ara.
“Tidak Nona, saya akan menunggu disini”. Tolak Mul dengan tersenyum manis.
“Baiklah Paman. Aku masuk duluan”.
Ara melangkah dengan gontai. Wig dikepalanya melekat sempurna seperti rambut asli, ditambah dengan poni kecil yang bertengger rapih dikeningnya, dia mengenakan dress selutut warna peach dengan blazer berwarna hitam cerah dan heels berukuran delapan centimeter. Tas kecil bergantung dibahu rapuhnya.
“Mommy”. Dari jauh Nara sudah berteriak memanggil namanya. Sedangkan Aldo, Naro, Zero dan Zeno sedang asyik bermain mobil-mobilan yang mereka kendarai.
Ara berjalan menghampiri Jovan dan Nara yang sedang menunggu yang lainnya dikursi tunggu.
“Kak”. Sapa Ara pada pria tampan itu.
“Iya Ra”. Balas Jovan tersenyum simpul.
“Maaf membuat Kakak repot karena menjaga anak-anak”. Ucap Ara tak enak hati, dia langsung mengendong putri bungsunya itu.
Jovan menggeleng dengan senyum “Aku Ayah mereka Ra. Mereka juga anak-anakku. Meski pun aku hanya Ayah angkat tapi aku menyanyangi mereka”. Ujar Jovan tersenyum simpul.
Hati Ara menghangat, ucapan Jovan membuatnya merasa memiliki sayap pelindung “Terima kasih Kak, aku berhutang banyak padamu”.
“Dan kau harus membayar itu dengan memasak makanan yang enak untukku”. Mereka berdua tertawa. Nara juga ikut tertawa meski tidak tahu apa yang ditertawakan oleh Ayah dan Mommy nya.
Setelah cukup lama bermain dan keempat bocah tampan itu lumayan merasa puas dengan permainan mereka, Jovan dan Ara membawa anak-anak mereka pulang. Anak-anak Ara juga sudah lapar karena waktunya makan siang dan anak-anak Ara yang rewel luar biasa tidak bisa makan makanan luar selain masakkan Ibu mereka.
“Kak, aku ke toilet sebentar. Tunggu ya”. Ucap Ara menahan kebeletnya.
“Perlu Ado temanin Bunda?”. Tawar Aldo
“Tidak sayang, Bunda bisa sendiri. Ado jaga adik-adik ya?”. Aldo mengangguk paham.
Ara berjalan sedikit cepat menunggu toilet. Dia sudah kebelet ingin buang air kecil. Sampai di toilet Ara segera membuang hajatnya. Setelah selesai wanita empat anak itu keluar. Tak lupa dia memperbaiki penampilannya.
Ara berjalan sambil focus dengan ponsel ditanganya yang sedang berbalas pesan dengan Shella yang mengatakan bahwa dia tidakbisa ikut anak-anak mereka bermain.
Brakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Ara menabrak sebuah benda keras, hingga membuat gadis itu terhuyung kebelakang. Ara memejamkan matanya dan mengira dirinya pasti akan jatuh. Namun dia merasa ada yang menarik pinggangnya dengan posessif, tanpa sadar tangan Ara menempel didada bidang tangan kekar itu.
Ara membuka mata takut
Deg deg deg deg deg deg deg
Jantung Ara dan pria itu seketika berdegup dengan kencang saat mata mereka saling bertemu. Bahkan mereka tak menyadari jika menjadi pusat perhatian. Ara masih letak menatap pria yang masih memeluk pinggangnya dengan posessif. Sedangkan pria itu masih melingkarkan tangannya di pinggang Ara. Hingga suara itu membuyarkan lamunan keduanya.
“Mommy”.
“Bunda”.
“Mommy, kami dan Ayah sudah menunggumu”.
Suara itu membuat keduanya tersadar. Ara segera menjauh dari pria yang mematung menatapnya dengan tatapan sulit diartikan itu.
Bersambung........
Kayhan ❤️ Kimara