
Happy Reading πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Seem juga tak kalah frustasi. Pria penghindap OCD itu terlihat tak berdaya. Hati dan jiwanya selalu memberontak. Dia tak bisa mengerjakan apapun. Membayangkan Ara menikah dengan pria lain membuat dadanya sesak. Saat Ara menikah dengan Kayhan saja dunianya serasa hancur apalagi jika membayangkan Ara menikah dengan pria lain, tentu saja membuat Seem semakin frustasi karena dia tidak akan bisa melihat gadis itu.
Seem duduk dengan tatapan kosong dikursi kebesaran nya. Berkas menumpuk diatas mejanya menunggu untuk dia sentuh. Namun dari kemarin berkas itu tak diliriknya sama sekali.
John menghela nafas berat, padahal berkas itu sangat penting karena proyek kerja sama bersama perusahaan lain.
"Tuan".
"Aku sedang tidak ingin diganggu John. Jika mereka mendesak batalkan saja semua kerja sama itu. Aku takkan bangkrut jika hanya menganti rugi uang mereka". Sahut Seem dingin. Tatapan matanya terarah pada lukisan Ara yang dia letakkan diatas mejanya. Padahal lukisan itu sudah dia simpan didalam kotak. Namun dia kembali mengambil nya karena rindu pada Ara.
"Baik Tuan". John mellengang pergi dari sana. Dari pada mendapat amukkan dari Tuan-nya lebih baik John menghindar saja.
Seem melanjutkan lamunan nya. Dia dikabari oleh John, jika adiknya Kayhan juga sama seperti dirinya. Bahkan lebih parah.
Seem paham jika Kayhan menggila. Karena Kayhan sangat mencintai Ara. Siapa yang takkan sakit jika ditinggalkan dalam keadaan tidak sadarkan diri? Wajar saja jika Kayhan frustasi dan tak berdaya. Kehilangan memang sakit dan tak semudah membalikkan telapak tangan mengikhlaskan sesuatu yang pernah menjadi miliknya.
Seem menghela nafas berat. Dia memegang dadanya yang terasa sesak.
"Semoga kau bahagia Ra. Meski hati ini masih ingin egois. Tapi aku sadar aku takkan bisa mendapatkan mu. Maafkan aku yang pernah menyalahkanmu. Aku terlalu menginginkanmu. Sampai membuatku lupa akan diriku sendiri". Gumam Seem. Dia mengambil lukisan Ara dan menyimpan nya didalam laci. Dia takkan bisa melupakan Ara jika terus begini.
Ditempat lain. Kayhan tengah terbaring lemah dikasur king size miliknya. Pria itu terjatuh sakit karena tidak makan sama sekali. Dia tidak mau makan apapun, sehingga perutnya kosong.
"Tolong berikan ini pada Tuan Kayhan". Ucap dokter menyerahkan kantung obat pada Aira.
"Terima kasih Dok".
"Iya Nona. Kalau begitu saya permisi".
Didalam kamar Kayhan ada Cody, Zico dan Aira. Mereka bertiga dibuat frustrasi oleh sikap Kayhan yang keras kepala tidak bisa makan.
"Cody, apa kau belum juga menemukan jejak Kak Ara?". Tanya Aira, tatapannya tertuju pada Kayhan yang tengah terlelap seluruh tubuhnya dibungkus dengan selimut tebal.
"Belum Nona". Kilah Cody. Dia takut jika Zico dan Aira tahu tentang Ara. Dia tidak mau Ara kembali disakiti.
"Baiklah. Kau jaga Tuan-mu itu. Aku pamit".
"Ayo sayang".
Aira dan Zico meninggalkan apartemen mewah Kayhan. Pasangan suami istri itu sudah menyerah menghadapi sifat Kakak nya yang keras.
Didalam mobil, Zico menatap istrinya yang sedang melamun. Dia paham bagaimana perasaan istrinya. Pasti terluka, karena keluarga nya hancur seketika. Kedua orangtua dan Kakek dan Neneknya menetap di Indonesia. Mereka tak pernah saling menjengguk. Sedangkan Seem menepi di London, Ingrris.
"Sayang". Zico mengenggam tangan istrinya. Aira menoleh pada Zico "You okay?". Tanya Zico lembut dan tersenyum hangat.
Aira menunduk "I'm not okay Honey". Lirih Aira menghela nafas berat "Kau tahu kan sekarang keluarga ku hancur. Percuma kekayaan yang dimiliki jika tidak ada kedamaian dan ketenangan didalam nya". Ungkap Aira, dia tak mampu lagi menahan air mata yang memanas dipipi nya.
Zico menepikan mobilnya "Sayang". Zico menarik Aira masuk kedalam pelukkan nya.
"Aku tidak pernah menginginkan hidup seperti ini. Kedua Kakak ku hancur. Orangtuaku tak peduli sama sekali. Padahal mereka yang menyebabkan kehancuran ini, hiksss". Tangis Aira.
Zico mengelus punggung istrinya. Dia juga terluka melihat kondisi keluarga istrinya. Hidup mereka bergelimpangan harta dan kekayaan yang takkan habis sampai seribu keturunan. Tapi didalam nya tidak ada kebahagiaan sama sekali.
"Andai bisa dilahirkan kembali. Aku tidak ingin dilahirkan ditengah keluarga seperti ini". Ucap Aira "Aku ingin lahir menjadi orang miskin saja. Meski tinggal di tempat kumuh, setidaknya keluarga berkumpul". Sambung Aira. Dia masih terisak dalam pelukkan suaminya.
Aira menggeleng "Tidak sayang. Jangan. Jika kita menemukan Kak Ara, Grandfa tidak akan tinggal diam. Dia akan terus mengusik Kak Ara". Tolak Kayhan.
"Sayang, Grandfa tidak akan bisa melayan Kak Kay jika Kak Ara bisa ditemukan. Karena Kak Kay akan melindungi Kak Ara". Timpal Zico.
"Tapi Kak Kay takkan menerima Kak Ara kembali sayang. Dia membenci Kak Ara". Kilah Aira masih terisak menatap suaminya.
Zico tersenyum. Dia adalah seorang pria yang tentu paham apa yang dirasakan oleh Kakak iparnya.
"Sayang, Kak Kay tidak pernah membenci Kak Ara. Dia hanya membohongi perasaannya sendiri. Dia sangat merindukan istrinya. Dia mengatakan membenci Kak Ara, hanya ingin perasaanya segera melupakan Kak Ara". Ujar Zico "Kau lihat sendiri 'kan sayang? Bagaimana menderitanya Kak Kay setelah berpisah dari Kak Ara? Dia sangat mencintai Kak Ara. Aku tahu hatinya ingin bertemu istrinya".
Aira terdiam mencerna ucapan suaminya. Apa yang dikatakan Zico ada benarnya juga. Jika Kayhan bukab membenci Ara. Dia hanya menyangkal perasaan rindunya sendiri. Bagaimana pun tak ada orang yang benar-benar siap merasakan kehilangan tiba-tiba.
Sedang kan dikamar Kayhan.
"Ara".
"Ara".
"Ara".
Kayhan menigau dengan terus memanggil nama istrinya. Dia selalu menyebut nama yang sama.
"Tuan". Cody membangunkan Kayhan.
"Astaga, panas sekali". Pekik Cody menyentuh dahi Kayhan yang penuh keringat.
Segera Cody menghubungi dokter agar segera memeriksa Kayhan. Dia panik jika Kayhan sampai terjatuh sakit. Itu akan membuat Cody merasa sangat bersalah.
"Bagaimana dengan Tuan Kayhan dok?". Tanya Cody setelah dokter selesai memeriksa Kayhan.
Dokter itu menghela nafas "Dia terus teringat istrinya. Sebenarnya istrinya kemana? Jika bisa carilah istrinya dan suruh menemui Tuan Kayhan. Karena hanya bertemu istrinya dia bisa sembuh". Ucap dokter itu. Dia heran sekali, siapa wanita yang berani meninggalkan pria sempurna seperti Kayhan?
"Baik Dok". Sahut Cody yang tak mau menjelaskan apa yang terjadi pada Tuan-nya.
Kayhan sudah tenang kembali, setelah disuntikkan obat penenang oleh dokter. Kayhan juga tertidur. Tapi tubuhnya dipenuhi keringat. Sungguh pria itu sangat tersiksa dengan rindu yang menghantamnya. Dirinya terus menahan segala yang bergelojak padah hatinya memberontak. Kayhan rindu Ara. Kayhan ingin bertemu Ara. Tapi dia tidak tahu harus bagaimana?.
Bersambung......
Kayhan β€οΈ Kimara
ππππππππππππππ
Pernahkah gak sih kalian dipisahkan dengan keadaan terpaksa?π
Kisah Kayhan dan Ara ini pernah author alami beberapa tahun laluπ sakitanya sulit dijelaskan Dengan kata2. Hingga akhir nya author memilih bangkit kembali......
Maaf curhatπ€π
Jangan lupa lupa dukungan buat Author.
LoveUsomuch β€οΈ