
Kelicikanmu mungkin bisa mengangkat mu saat ini tapi kupastikan suatu hari nanti kelicikan itu akan membuat jatuh sangat dalam..
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
William sedang asyik mengerjakan pekerjaan nya, pria blasteran Indonesia-Amerika itu tampak serius tanpa terganggu dengan suara ketika. Keyboard komputer yang lainnya.
"Wil". Panggil Martha setengah berbisik.
"Ehem".
"Pulang yuk. Sudah sore". Ajak Martha. Jam memang sudah menunjukkan pukul lima sore.
William melirik arloji yang melingkar dipergelangannya "Sebentar! Aku selesaikan dulu". Jawab William tanpa menoleh kearah Martha.
Sepuluh menit kemudian pekerjaan William selesai. Segera dia mematikan komputer nya dan membereskan mejanya.
"Kenapa aku jadi teringat Ara?". Gumam William menghembuskan nafas kasar.
Padahal William tidak terlalu akrab dengan gadis itu, namun bayangan Ara masih saja terlintas dibenaknya. Ara memiliki daya tarik yang tidak dimiliki oleh gadis lainnya.
"Ayo Will". Ajak Martha mengandeng tangan William.
William terkejut, tapi tetap tak bisa protes. Sebab William sudah berjanji akan membuka hati untuk Martha, dengan satu catatan Martha tidak boleh menaruh rasa iri pada Ara.
William sebenarnya tidak menyukai sifat Martha yang temperamental agresif dan posessif, namun demi kebahagiaan Ara, William melakukannya. Karena Martha mengancam jika tidak membuka hati untuknya, maka selamanya Martha tidak akan mau menegur Ara dengan kata lain putus persahabatan.
Martha terlihat memaksa perasaan William. Namun ini adalah caranya untuk mendapatkan cinta William. Martha sangat mencintai William, pria itu sudah bagian dari jiwanya karena sifat William yang lembut dan perhatian membuat Martha tergila-gila padanya apalagi William salah satu idola dikantor setelah Nathan.
"Kita mau kemana?". Tanya Martha saat ini mereka sudah berada didalam mobil. Setiap hari mereka memang satu mobil baik berangkat ataupun pulang, Martha sangat menempel pada William tak memberi celah untuk William menghindarinya.
"Kemana saja kau mau". Jawab William singkat tangannya masih serius menyetir mobil.
"Bagaimana jika bertemu orang tuamu?".
Shiitttttttttttttttttt
Mobil William mengerem mendadak.
"Kenapa Will?". Tanya Martha setengah kesal karena dirinya sampai terpental kedepan.
"Kau yakin ingin bertemu orangtuaku?". Tanya William tak percaya. Bukan apa, orang tua William adalah orang yang sangat tidak mudah menerima atau berkenalan dengan orang baru.
Martha mengangguk dengan tingkat kepercayaan tinggi. Dia yakin, orangtua William pasti akan sangat menyukainya. Selain cantik, dirinya juga cerdas dan berpendidikan.
Tanpa banyak protes dan menjelaskan. William kembali melanjutkan mobilnya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Martha saat bertemu kedua orangtuanya.
Ayah William orang Amerika, sedangkan Ibunya William, berasal dari Jawa, dan menetap di Jakarta. Kadang kedua orangtuanya juga kembali ke Amerika mengurus bisnis mereka disana.
William tiga bersaudara, yang pertama perempuan, dan William anak tengah dan ada juga adik bungsunya seusia Ara, yang sekarang sedang melanjutkan study nya di Belanda.
Mobil William memasuki pekarangan rumah mewah, dengan tingkat tiga, menjulang dan terlihat mencolok diantara bangunan lainnya. Padahal disana perumahan elit.
"Ayo". Ajak William turun dari mobil.
Mata Martha membulat saat melihat rumah mewah itu, tanpa sadar mulut gadis itu mengangga lebar. Martha menelan ludahnya menatap betapa megahnya rumah William. Sepertinya William memang anak orang kaya, tapi kenapa mau saja bekerja diperusahaan dengan gaji yang tidak seberapa? Dibanding meneruskan usaha keluarga.
"Selamat datang Tuan Muda". Sapa para pelayan memberi hormat.
"Apa Dad dan Mom ada?". Tanya William.
"Ada Tuan. Mereka sedang berada diruang keluarga". Jelas salah satu pelayan.
"Baik".
William dan Martha masuk secara bersamaan. Mata Martha tak berhenti kagum ketika memasuki rumah mewah dengan kapasitas tinggi itu.
"Dad, Mom". William menghampiri kedua orangtuanya yang sedang mengobrol diruang keluarga.
"Boy". Wanita paruh baya langsung berdiri dan menyambut dengan hangat putra kesayangannya. Sebab putra satu-satunya ditengah keluarga Amstrong.
"Mom". William membalas pelukkan sang Mommy.
"Dad". Lalu beralih pada pria paruh baya yang berkebangsaan barat itu.
"Iya Boy". Daddy nya juga berdiri membalas pelukkan sang putra.
Wanita paruh baya itu mengarahkan pandangan pada Martha yang sedari tadi tersenyum.
"Siapa dia Boy?". Tanya Wirna menatap kearah Martha.
Wirna terkejut saat Martha menariknya paksa untuk untuk mencium pipinya.
Dengan segera Wirna mendorong Martha sedikit menjauh, karena Wirna tidak suka wanita agresif.
William mengaruk tengguknya yang tidak gatal, saat melihat sorotan mata tajam dari sang Ibu.
"Nanti William jelaskan Mom". Ucap William yang seakan tahu maksud dari tatapan Mommy-nya.
"Paman". Tanpa izin juga Martha menyalimi Daddy William, bahkan gadis itu setengah memeluk Wilson yang tidak lain adalah Ayah William.
"Ehhh". Wirna menarik paksa Martha, benar-benar gadis itu sangat tidak tahu malu.
"Maaf Bi". Ucap Martha menampilkan senyum manis tanpa meraxa malu.
"Apa kau sudah makan Boy? Ayak kita makan". Wirna menarik lengan putranya "Kau juga ikut makan". Tunjuk Wirna pada Martha tanpa senyum. Wirna adalah wanita berkelas atas dia seorang Dokter yang memiliki attitude tinggi, yang sangat tidak menyukai gadis agresif.
Martha menghentakkan kakinya kesal "Awas saja. William akan jatuh ke pelukkanku". Batin Martha berjalan mengikuti William dan kedua orangtua nya.
Dimeja makan mereka makan dalam keheningan. Tapi tidak dengan Martha, gadis itu bahkan tanpa malu terus saja mengambil makanan yang dia suka. Padahal Martha bukanlah orang miskin yang kekurangan makan, hanya saja saat melihat banyak makanan didepannya membuatnya gelap mata tanpa tahu sopan santun.
"Ehem". Wirna berdehem, saat melihat Martha makan dengan lahap.
Martha menghentikan makannya dan melihat kearah Wirna.
"Hehhe, maaf Bi". Martha sedikit membungkuk merasa bersalah.
Nafsu makan Wilson langsung hilang saat melihat cara Martha makan. Dikeluarga Amstrong memang banyak peraturan terutama tata Krama dimeja makan, tidak sembarangan. Tapi gadis didepannya ini seperti tidak pernah diajari orang tuanya bagaimana cara makan yang baik.
Diruang keluarga itu terasa mencengkram, tatapan dingin terus dilayangkan pada Martha.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?". Tanya Wilson sambil menyeruput kopi dalam gelasnya.
William tak menjawab. Dia juga tidak tahu kapan dia menerima ajakkan Martha untuk menjalin hubungan, lebih tepatnya lupa dan tidak ingat.
"Enam bulan Paman". Jawab Martha sambil tersenyum genit.
Wirna benar-benar jijik melihat tingkah gadis itu. Bukan dirinya memandang rendah Martha atau status sosial. Jika dilihat dari penampilan Martha terlihat seperti wanita berkelas.
Namun, kepribadian gadis itu sangat jauh dari kriteria nya.
"Lumayan lama". Tandas Wilson
"Apa kau mencintai William?". Sambung Wirna.
"Iya Bi, saya sangat mencintai William". Martha melirik kearah William dan mengenggam tangan pria itu.
Meskipun risih, William membiarkan saja Martha mengenggam tangannya. Karena jika dia salah sedikit saja Martha bisa saja menyakiti Ara.
Wirna tak lagi menjawab atau memberi pertanyaan. Satu kata yang dia tangkap tentang gadis ini, bahwa gadis ini sangat agresif. Sama seperti gadis-gadis yang sellau mengejar putranya.
William mengantar Martha pulang sepanjang perjalanan Martha terus mengoceh dan mengungkapkan kekagumannya tentang rumah mewah William.
"Kau mengangumi aku atau rumah ku?". Tanya William melirik kearah Martha.
Martha tertawa pelan "Tentu saja menganggumi mu sayang". Jawab Martha sambil bergelut manja dilengan kekar William. Gadis itu bahkan bersender dengan nyaman dilengan William yang satunya.
William benar-benar risih, ingin dia tepis kepala Martha tapi ya bagaimana itu akan membuat gadis ini bertingkah semaunya. William tidak mau karena kesalahannya, Ara menjadi sasaran.
"Kau sungguh mencintaiku Mar?". Tanya William sekali lagi, dia harus memastikan apakah gadis ini sungguh merasa bahwa Martha hanya ingin hartanya.
"Tentu saja". Sahut Martha manja.
"Jika kau mencintaiku, kenapa kau mengancam ku? Bukankah itu sama saja pemaksaan?". Tanya William dingin.
Martha melepaskan pelukkannya pada lengan William. Gadis itu merenggut kesal.
"Karena hanya cara itu yang bisa membuat mu membuka hati untukku". Jawab Martha ketus "Ingat jika kau tak juga membuka hati untukku jangan salahkan aku, jika aku melukai Ara". Ancam Martha menatap tajam William.
William malah tertawa "Kau yakin bisa melukai Ara? Apa kau lupa siapa Tuan kayhan? Apa dia akan membiarkanmu melukai istrinya?". William tertawa mengejek.
Martha memutar bola mata malas "Aku yang lebih tahu siapa Ara. Dia sahabat ku sejak SMP, jadi aku tahu apa yang bisa membuat Tuan Kayhan tidak bisa melindungi nya". Jawab Martha sinis "Jangan percaya diri Tuan William. Nasib Ara ditanganmu dan jangan berani ingkar janji. Aku akan terus membuat mu jatuh cinta padaku". Martha mengelus rahanng William sambil tersenyum sinis.
William mencengangkan, stir mobilnya dengan kuat. Andai saja, bukan demi Ara sudah pasti William melenyapkan gadis ini.
Bersambung........
Kayhan ❤️ Kimara.