Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 20. Tidak Pantas



**Aku memang terlahir berbeda, untuk jatuh cinta padamu mungkin hal gila yang pernah terjadi dalam hidupku. Sebelum aku gila benaran, aku memilih untuk mundur dengan cepat dari pada sakit diwaktu yang tidak tepat.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹**


Satu Minggu kemudian.


Ara masih duduk dengan serius, didepan komputer yang sedari tadi menemaninya. Tangan munggilnya berlarian dengan cepat mengalahkan ahli IT. Bahkan tombol komputer yang sudah tak terlihat angka atau huruf disana, karena terkikis oleh ketikan tangannya.


Berkali-kali, Ara membolak-balik dokumen ditangannya menyesuaikan segala laporan dikomputernya dengan dokumen ditangan nya. Matanya lentiknya sangat serius dan tak berkedip. Ara adalah gadis pekerja keras, dia selalu mengerjakan segala sesuatu nya dengan senang hati.


"Ra". Panggil Martha.


Ara menoleh "Iya Ta". Senyum Ara.


"Makan siang yuk". Ajak Martha sambil menghampiri meja Ara.


"Tunggu sebentar ya". Ara menekan dengan cepat tombol-tombol komputer dan menyelesaikan segala pekerjaan nya.


Ara dan Martha berjalan kearah kantin. Kedua gadis cantik itu bercanda ria sambil tertawa. Sudah lama Ara tidak tertawa, sejak kepergian Ayah nya Ara menjadi pribadi yang pendiam dan juga dingin.


Mereka sampai dikantin dan seperti biasa, kedua gadis itu akan memilih bangku paling pojok.


"Ra, seperti nya Tuan Kayhan menyukai mu?". Celetuk Martha kepada Ara.


Ara mendelikkan matanya "Suka?". Beo Ara, lalu terkekeh sendiri mendengar ucapan tak masuk akal sahabatnya itu "Mimpi jangan terlalu tinggi Ta, takut jatuh malah sakit sendiri, hehhe". Kilah Ara membantah perkataan Martha.


"Ra, kau ini bagaimana sih? Aku yakin jika Tuan Kayhan itu menyukai mu dan ya Tuan Nathan juga sepertinya menyukaimu, itu juga siapa sih Dokter tampan yang dirumah sakit itu, sepertinya juga menyukai mu Ra". Seru Martha "Andai saja aku jadi kamu, aku akan pilih tiga-tiga nya. Tidak, tidak! Aku pilih Tuan Kayhan saja, selain tampan dia juga kaya melintir. Pasti uangnya tidak akan habis sampai tujuh turunan, delapan tanjakkan dan sembilan tikungan". Celoteh Martha.


Ara menggelleng mendengar ucapan tak masuk akal sahabatnya itu. Sungguh kecerewata Martha tak ada duanya, selalu saja berhasil membuat Ara geleng-geleng kepala tidak percaya.


"Ra, jawab dongggg". Martha cemberut karena dirinya sudah menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi tapi malah dikacangin.


"Aku harus bilang apa Ta?". Ara menggeleng kepala acuh melihat sahabat nya itu.


"Ya harusnya kau senang donkk disukai tiga pria tampan sekaligus". Cemberut Martha.


"Ta, yang bilang mereka suka sama aku itu kan kamu, kenyataan belum tentu mereka suka sama aku. Apalah aku ini hanya Upik abu". Ujar Ara menjelaskan sambil menyantap makanannya.


Ara terdiam lalu dia tersenyum kecut dan ingin rasanya tertawa keras tapi takut dosa.


"Kalau pun mereka suka, aku tidak suka mereka. Kau tahu kan Ta? Mereka itu adalah bintang dilangit, untuk menggapainya aku harus menjadi malam agar bisa dekat dengannya, tapi kau juga tahu untuk menjadi malam agar bintang itu bersinar aku harus mengorbankan segala yang kupunya, jika aku gagal bintang itu akan redup dan perlahan hilang". jelas Ara "Ehem, masalah tampan mereka oke, kaya iya, mereka terlalu sempurna untuk gadis miskin seperti aku. So, lebih baik sadar diri saja Ta, itu lebih baik". Jelas Ara acuh saja.


Martha mendelik mendengar ucapan Ara, dia tidak suka gadis sebaik dan secantik Ara merendahkan dirinya.


"Mungkin sebagian orang menganggap bahwa ketampanan dan kekayaan itu adalah segalanya dan nomor satu, tapi tidak untukku. Sejauh ini, aku tidak ingin memikirkan masalah asmara, bisa hidup dan bernafas hari ini saja sudah lebih dari cukup untukku". Timpal Ara sambil tersenyum.


Martha terdiam mendengar penjelasan Ara. Entah terbuat dari apa hati Ara? Gadis ini selalu saja menghindari orang-orang yang ingin dekat kepadanya, yang Martha tahu banyak sekali laki-laki yang mengantri untuk menjadi kekasih Ara dan bahkan dari berbagai kalangan tapi sampai saat ini, gadis yang usianya dua tahun lebih muda dari dia itu masih saja betah sendiri.


"Ra, sekali saja buka hati kamu untuk seseorang karena bagaimana pun kau adalah wanita normal yang juga membutuhkan seorang laki-laki". Martha mengelus lembut lengan Ara, dia ingin gadis disampingnya ini mengerti.


Ara hanya tersenyum "Jika Tuhan mengizinkan aku menikah, aku percaya suatu saat nanti akan ada seseorang yang tulus mencintai ku". Jawab Ara "Dan orang itu pasti bukan Tuan Kayhan, Tuan Nathan atau Kak Nickho. Mereka terlalu tinggi untukku gapai dan satu lagi Ta, tidak akan ada pria kaya yang mencintai gadis miskin seperti aku, ini bukan dunia novel atau drama Korea. Ini adalah dunia nyata, yang pada kenyataannya setiap manusia harus berpasangan sesuai dengan derajat dan martabat". Jelas Ara.


Martha hanya bisa bungkam, dia tidak akan bisa menang jika berbicara masalah tentang pasangan hidup atau cinta.


Tanpa mereka sadari dibelakang mereka Kayhan dan Nathan sedang duduk dengan tenang sambil makan dalam diam. Kedua pria itu mendengar semua ucapan Ara dan Martha. Entah kenapa ada rasa kecewa dihati kedua saat mendengar pengakuan Ara. Bagaimana mungkin gadis ini sama sekali tidak menyukai mereka yang pada dasarnya sempurna?


"Ra, kalau boleh tahu tipe pria yang kau sukai seperti apa?". Martha sangat penasaran dengan tipe pria yang disukai Ara.


Ara tampak berpikir "Tidak ada tipe! Selagi dia bisa membuat ku nyaman aku rasa aku akan meraa lebih baik". Tandas Ara.


"Maksud ku apakah kau menyukai lelaki kaya?". Tanya Martha tak puas.


"Ta, Ta! Semua wanita itu menyukai pria yang kaya dan tampan, siapa sih wanita didunia ini yang tidak suka pria kaya? But flashback on reality uang itu bukan segalanya, kau tahu dari dulu aki selalu memimpikan menikah dengan lelaki sederhana yang berjuang sendiri dan membangun usahanya sendiri". Ara sambil tersenyum "Tapi setelah pengangkatan kista itu dan aku diponis tidak bisa punya anak, aku memutuskan untuk tidak menikah seumur hidup. Mana ada coba laki-laki yang mau mencintai wanita mandul, setiap pernikahan anak adalah kekuatan jika tidak bisa memberi anak apa yang bisa diharapkan padaku". Lagi-lagi Ara hanya bisa tersenyum kecut saat mengingat tentang dirinya.


"Ra". Martha memeluk Ara "Jangan bicara seperti itu. Jika kau tidak bisa punya anak, kau bisa angkat anak. Diluar sana masih banyak anak-anak yang butuh kasih sayang seorang Ibu dan aku yakin kau adalah Ibu terbaik". Martha memeluk Ara dengan erat. Martha sudah tahu tentang kondisi Ara. Dia cukup simpati pada sahabat nya ini, tapi dia yakin suatu saat nanti akan ada pria yang mau menerima Ara apa adanya.


Kayhan yang duduk dibelakang mereka, menarik nafas dalam pria ini juga sudah tahu kondisi Ara. Tapi dia tidak peduli, dia menyukai Ara dan Kayhan mengakui perasaannya tapi tidak berani untuk mengungkapkannya.


**Bersambung...........


Salam hangat


Kayhan ❤️ Kimara**