Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 153. Pertanggungjawaban



Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Seem menatap intens wanita yang ada didepannya ini. Wanita itu tengah asyik menyantap makanan diatas meja mereka berdua. Sebelum berbicara serius Seem sengaja mengajak wanita ini makan sore menjelang malam, anggap saja sebagai sogokkan.


Sementara wanita tersebut tidak peduli dengan tatapan Seem. Entah sial apa dia hari ini, harus bertemu dengan pria yang di hindari selama sepuluh tahun belakangan


Drt drt drt drt drt drt


Ponsel wanita itu berdering. Segera dia meronggoh tas kecil nya. Pasti putra semata wayangnya itu yang menelpon.


"Hallo sayang". Sapa nya lembut.


Seem memincingkan mata ketika mendengar wanita itu memanggil dengan mesra dan lembut. Apa wanita yang pernah menghabiskan malam dengannya ini sudah bersuami?


"Iya sayang. Sebentar lagi Mami pulang. Kamu jaga diri baik-baik ya. Ya sudah makan malam dulu saja sama Ayah dan Bunda. Mami sudah makan. Byeee sayang. Love u".


Kening Seem semakin mengerut, Ayah? Bunda? Siapa yang dimaksud wanita ini? Berbagai pertanyaan muncul dikepala Seem.


"Terima kasih Tuan makan malam nya". Ujar wanita itu bersandar kekenyangan sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit akibat makanan yang masuk kedalam perutnya.


"Aku ingin berbicara serius denganmu". Tatap Seem tajam.


Wanita itu menelan salivanya susah payah. Tatapan Seem tak pernah berubah seperti sepuluh tahun yang lalu. Dia pikir, pria didepannya ini sudah tidak mencari keberadaan nya lagi. Ternyata bagaimana pun pria ini masih mengingatnya? Apa dia harus operasi wajah agar pria ini tidak mengenali wajahnya?


"A-apa Tuan?". Tanyanya sedikit gugup.


"Apa kau sudah menikah?". Tanya Seem


"Kenapa kau bertanya masalah pribadiku Tuan?". Wanita itu bertanya balik


"Aku tidak suka mengulang pertanyaan?". Ketus Seem.


Sang wanita tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab "Belum". Jawabnya singkat


"Dimana anakku?". Tanya Seem mengintimidasi.


"Anak?". Beo nya "Maaf Tuan, aku tidak mengerti maksudmu". Kilah wanita itu


"John".


"Ini Tuan". John memberikan amplop berwarna coklat pada Seem.


Seem membuka amplop itu dan menunjukkan sebuah benda berbentuk persegi panjang sangat kecil, didepan benda itu tertulis dua garis merah, tanda positif.


"Ini". Seem menujukkan benda itu padanya.


Mata wanita itu membulat sempurna. Ini adalah hasil testpack dan hasil laboratorium dari rumah sakit yang dia buanh sepuluh tahun lalu. Dari mana pria ini bisa mendapatkannya.


"Sekarang kau tidak bisa mengelak lagi". Ejek Seem "Katakan sekarang dimana anakku". Desak Seem.


Wanita itu tampak terdiam. Tidak pria ini tidak boleh bertemu putranya. Dia tidak mau pria ini merebut putranya dari pelukkannya.


"Dia anakku bukan anakmu". Jawab wanita itu dengan nafas memburu.


"Kau mau membawaku bertemu dengannya. Atau aku menemuinya dan membawa nya pergi darimu?". Seem memberi pilihan "Pilih salah satunya, atau kau akan kehilangan dia dari sisimu?". Ancam Seem.


Wanita itu memejamkan mata "Tolong, jangan ambil dia dariku. Dia yang kumiliki satu-satunya". Ucap wanita memohon dengan penuh harap.


Seem menyeringai "Pilihan ada ditanganmu. Membawaku bertemu dengannya. Atau aku sendiri yang akan menemuinya".


Wanita itu memejamkan matanya berusaha menahan emosi. Seandainya dia bisa melawan mungkin dia akan mencakar wajah Seem yang sialnya sangat mirip dengan putranya.


"Baik". Ujar wanita itu mengalah "Tapi ada satu syarat, jangan katakan apapun padanya tentang kita. Dia terlalu kecil untuk memahami apa yang sudah kita lakukan". Ucapnya.


Seem menggelng "Tidak. Dia harus tahu bahwa aku adalah Ayah nya. Aku akan menjelaskan padanya, bahwa terjadi kesalahan pada kita hingga dia ada". Ujar Seem datar.


"Tapi............".


Seem langsung berdiri meninggalkan wanita itu. Dia tidak mau mendengar alasan apapun. Dia sangat ingin bertemu dengan anaknya. Seem baru tahu jika wanita yang menghabiskan malam bersamanya mengandung, saat dia dan John pulang ke Indonesia.


Didalam mobil tidak ada percakapan. Seem tetap dengan wajah datarnya. Sedangkan wanita itu sibuk dengan pikirannya. Dia tidak bisa lagi menghindar dari pria ini. Karena kapan pun takdir akan tetap mempertemukan mereka.


Wanita itu belum siap mengatakan tentang Ayah nya kepada sang putra. Jika dulu dia mengatakan pada putranya bahwa, Ayahnya sudah meninggal. Tapi sekarang bagaimana caranya dia akan membuat putranya itu percaya, sedangkan dirinya sudah terlanjur mengatakan Ayah dari anaknya sudah meninggal sejak dia lahir.


Sampai disebuah rumah mewah. Rumah itu tampak dijaga dengan ketat oleh beberapa pengawal yang ditugaskan oleh pemilik rumah.


Seem dan wanita itu turun. Tampak keraguan diwajah wanita itu, dia tidak tahu harus bagaimana. Melawan pria disampingnya ini sama saja mengantarkan nyawa pada maut.


"Selamat malam Tuan dan Nona". Sapa sang pengawal.


"Malam Paman". Sahut wanita itu "Apa anak-anak sudah tidur?". Tanya nya.


"Belum Nona. Mereka masih belajar bersama". Sahut sang pengawal


"Baik Paman. Terima kasih".


Seem berjalan mengekor wanita itu bersama John. Wajah Seem sangat datar bahkan melebihi tembok. Yang membuat Seem merasa aneh, kenapa dekat dengan wanita ini dia tidak gatal-gatal? Padahal wanita didepannya ini lah penyebab dia menderita Gynopobia.


"Mami". Seorang gadis kecil berlari menghampiri.


"Haiii sayang Mami". Wanita itu berjongkok menyambut pelukkan putri angkatnya.


"Mami balu puyang?". Tanyanya digendongan sang Mami tangan munggilnya melingkar dileher wanita yang dia panggil Mami itu.


"Iya sayang". Wanita itu mencium pipi gadis kecil itu dengan gemes.


"Siapa meleka Mami?". Gadis kecil itu melirik dua pria yang berdiri dibelakang Maminnya "Kenapa milip dengan Kak Ado?". Tanyanya polos.


Sementara kedua pria itu dibuat tercenggang menatap wajah menggemaskan gadis kecil yang berada dipelukkan wanita yang ada didepannya.


"Kenapa dia mirip sekali dengan Ara. Benar-benar mirip?". Batin Seem melonggo tak percaya. Bagaimana mungkin ada orang kebetulan yang begitu mirip didunia ini jika tidak ada hubungan darah.


"Kak Shella". Panggil seorang wanita menghampiri mereka bersama seorang bocah berusia sepuluh tahun.


Ya wanita itu adalah Shella. Shella lah wanita yang dicari Seem selama ini. Wanita sepuluh tahun lalu yang dijebak tidur bersamanya saat dia patah hati yang baru saja mengetahui kekasihnya berselingkuh dan bahkan melakukan hubungan suami istri.


"Ara".


"Kak Seem".


Seem membeku ditempat ketika melihat wanita itu ada dirumah ini. Apakah Ara dan Shella saling mengenal? Mereka terlihat begitu akrab.


"Kalian saling kenal?". Tanya Shella heran.


Ara mengangguk "Iya Kak. Dia kakak kandung Kak Han". Sahut Ara.


Sedangkan Seem masih menatap Ara tak berkedip. Begitu juga dengan John. Kenapa dunia sempit sekali?


Shella memperhatikan Seem menatap Ara. Terlihat sekali jika pria dingin itu memiliki perasaan pada Ara. Kenapa hati Shella terasa tertusuk? Shella berusaha mengusir perasaan nya.


"Kak Shella kenal Kak Seem?". Tanya Ara


Shella mengangguk "Nanti Kakak akan ceritakan". Sahut Shella.


Tatapan Seem beralih pada bocah yang berdiri disamping Ara. Bocah itu terlihat tampan dan wajahnya sangat mirip dengan dirinya. Apa itu putranya?


"Ado, apa Ado baik-baik saja?". Tanya Shella pada putranya.


"Iya Mami". Sahut Ado singkat padat dan jelas.


"Bunda, ayo masuk. Ditunggu sama Ayah".


Mereka semua masuk. Seem masih tak menyangka jika dia akan kembali bertemu Ara. Setelah pertemuan kebetulan mereka kemarin, Seem terus memikirkan Ara dan mencari tempat tinggal wanita itu. Namun Seen tak menemukannya.


Bersambung......


Kayhan ❤️ Kimara