
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Sayang, ini bayi-bayi kamu”. Syaneth menyerahkan bayi perempuan Ara.
Ara berkaca-kaca, dia bahkan menangis dan tak menyangka jika dia sekarang benar-benar menjadi seorang Ibu. Penantiannya selama bertahun-tahun menunggu buah hati, kini bisa Ara rasakan.
“Moe”. Ara menyambut bayi perempuannya dan air mata luruh dipelupuk mata Ara.
“Sayang, kasih nama untuk bayi-bayi kamu”. Ucap Roger mengendong bayi laki-laki Ara dengan senyuman mengembang.
Ara menatap keempat bayinya. Bayi perempuan dalam gendongan nya. Sedangkan bayi laki-laki pertama digendongan Roger, bayi laki-laki kedua digendong Joanna dan bayi laki-laki ketiga digendong oleh Shella.
Ara tersenyum hangat menatap wajah imut keempat bayi menggemaskan itu. Usia mereka baru satu bulan. Namun wajah mereka seperti bayi satu tahun. Bahkan mereka cepat tanggap dan lincah.
“Keynaro Mahendra”. Ara menatap putra pertamanya
“Keyzero Mahendra”. Ara tersenyum kearah putra keduanya dalam gendongan Joana
“Keyzeno Mahendra”. Ara mengelus kepala putra ketiganya dalam gendongan Shella
“Keynara Mahendra”. Ara mencium wajah satu-satunya bayi perempuan dalam gendongannya.
“Mereka akan dipanggil Twins N dan Double Z”. senyum Ara menjelaskan pada mereka yang menatapnya dengan sendu dan juga merasa senang. Tapi Ara belum tahu kondisinya, bahwa ada satu penyakit lagi yang tertinggal dalam tubuhnya.
“Naro, Nara”.
“Zero, Zeno”.
“Bunda, nama yang bagus ya Bunda”. Celetuk Aldo turut mengelus kepala bayi Ara.
“Iya sayang. Ado mau cium”. Aldo mengangguk dan menciumi keempat bayi Ara secara bergantian.
Cup cup cup cup cup
Mereka semua terkekeh melihat Aldo yang begitu gemes mencium bayi Ara. Pria kecil itu sampai mengigit giginya sendiri saking gemesnya.
“Cantik ya sayang”. Ucap Syaneth mengelus kepala bayi yang ada dalam gendongan Ara.
“Kan Bunda cantik Oma. Makanya Dedak Nala cantik juga”. Sahut Aldo menimpali. Dia masih posessif pada Bunda Ara-nya.
“Iya sayang”. Synaeth mengelus kepala Aldo.
“Oma, jangan elus-elus kepala Ado”. Pekik aldo menyingkirkan tangan Syaneth dari kepalanya.
“Ado”. Tegur Shella merasa tidak nyaman “Maaf Moe”. Ucap Shella tak enak hati.
“Tidak apa-apa Shell. Aldo benar-benar menyanyangi Ara”. Senyum Syaneth hangat.
Mereka semua hanya menggeleng saja. Aldo sudah biasa posessif begitu pada Ara. Pria kecil yang mengatakan cinta Ara itu selalu bertingkah menggemaskan yang mampu mengundang tawa bagi mereka semua.
Ruang rawat Ara dipenuhi dengan keluarga Van Derg dan Nickho. Kehadiran Twins N dan Double Z membuat suasana semakin hidup. Dimana Aldo suka cemburu jika Ara lebih memperhatikan bayi-bayinya dibanding dirinya. Aldo kadang merajuk seperti pria yang ingin diperhatikan oleh kekasihnya. Tingkah Aldo membuat mereka geleng-geleng kepala.
Nickho yakin jika Kayhan akan menyesal karena telah menuduh Ara dan bahkan mengatakan jika istrinya itu selingkuh dan berkhianat, dia juga mengatakan jika dia takkan pernah memaafkan kesalahan Ara. Kayhan akan menyesal setelah tahu dia memiliki empat bayi kembar sekaligus. Bayi-bayi menggemaskan dan lucu.
Nickho berjanji akan menjaga Ara bersama Roger, Jovan dan Jolenta. Terutama dari Kakeknya Bagaskara, karena Nickho yakin jika Kakeknya itu masih mencari keberadaan Ara.
Sedangkan Kayhan dan Seem memutuskan menyerah mencari Ara. Nickho mengetahui itu melalui Cody, asissten yang menjadi mata-mata Nickho.
“Sayang, biarkan mereka istirahat dulu ya”. Roger meletakkan Naro disamping Ara, karena Ara ingin tidur bersama bayi-bayinya “Kamu juga istirahat, kan baru bangun”. Senyum Roger.
“Iya Kak”. Ucap Ara tersenyum.
“Ya sudah biarkan Ara dan anak-anaknya istirahat”. Ucap Van Derg pada mereka semua.
“Ado mau disini temanin Bunda”. Renggek Aldo tidak mau keluar dari ruangan Ara.
“Ado”.
“Kak. Biarkan saja Aldo istirahat bersamaku”. Ucap Ara menangahi. Dia tidak mau Shella terus memarahi Aldo. Pria kecil itu memilki sifat yang sensitive dan mudah tersinggung atau tersentuh hati nya.
“Maaf ya Ra”. Shella merasa tak nyaman. Putranya ini memang tak mau kalah jika berbicara tentang Ara.
“Ado. Ayo sayang, berbaring disamping Zero”. Suruh Ara pada Aldo.
“Iya Bunda”.
Ara sengaja meminta ranjang yang besar pada Roger agar dia bisa tidur seranjang dengan keempat anaknya. Ara ingin memeluk keempat buah hatinya dan Aldo. Ara ingin bersama lima anak yang Tuhan anugrahkan pada Ara. Meski Aldo bukan anaknya, tapi Ara sudah menanggap pria kecil itu anaknya sendiri.
Mereka semua keluar, memberi ruang pada Ara menghabiskan waktu bersama bayi-bayinya. Sebulan lamanya Ara koma dan tentu nya Ara ingin melepaskan semua kerinduannya pada bayi-bayinya.
Perjuangan yang tak mudah Ara lewati. Hidupnya dipertaruhkan saat melahirkan keempat bayi kembar ini dan bahkan dia dinyatakan meninggal dunia beberapa menit. Namun, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup bersama bayi-bayinya.
Ara menatap keempat bayinya yang sudah terlelap. Ada Aldo yang juga terlelap. Pria kecil itu rela memangkas rambutnya agar sama dengan Ara. Ara terharu dengan kepedulian Aldo padanya. Pria ini benar-benar mengingatkan Ara pada sosok Seem, mantan kakak iparnya. Seem dan Aldo memiliki sifat yang sama. Sama-sama dingin tak tersentuh. Anehnya Aldo akan mencair jika bersama Ara. Kadang Ara berpikir jika Aldo adalah anak kandung Seem. Namun, hal itu hanya ada dipikiran Ara. Dia tak berani menanyakannya langsung pada Shella.
Ara mengelus kepala putrinya. Satu-satunya perempuan dari keempat anak kembarnya. Apa yang pernah Ara lukis, menjadi kenyataan. Dia dianugrahi empat bayi kembar yang lucu-lucu.
“Kak Han”. Gumam Ara mengingat suaminya “Apa kabarmu Kak? Aku rindu”. Lelehan bening itu kembali luruh dipipi Ara.
“Kak, mereka sudah lahir dan kita sekarang sudah menjadi orangtua”. Ara menahan sesak didadanya, takut jika tangisnya membangunkan anak-anaknya “Apa kau bahagia menerima kehadiran mereka Kak?”.
“Maafkan aku Kak. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud ingkar janji. Aku hanya tak ingin kehilanganmu, aku ingin kau tetap hidup meski tak harus denganku”. Ara mengusap air matanya.
“Kak, mereka sangat lucu dan menggemaskan. Wajah Naro, Zero dan Zeno sangat mirip denganmu. Sedangkan Nara mirip denganku”. Ucap Ara lagi. Tangan Ara terulur mengusap kepala Naro, putra pertamanya.
“Kak, aku ingin kita berkumpul suatu saat nanti Kak”. Ucap Ara lagi.
“Maafkan Mommy Nak. Kalian harus tumbuh tanpa Daddy kalian. Mommy janji, Mommy akan menjadi Ibu sekaligus Ayah untuk kalian berempat. Ada Kak Ado yang akan menyanyangi kalian juga”. Ucap Ara berbaring pelan disamping anak-anaknya. Dia harus kuat demi buah hati yang ada dalam genggamannya, dia tak boleh lemah dan dia harus menjadi wanita yang kuat.
**Bersambung.......
Kayhan ❤️ Kimara**