Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 81. Kepulangan Jolenta



Kemana pun aku menjelajah buana ke negeri orang. Aku akan tetap kembali dan pulang.....


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Seorang pria tampan berkacamata hitam tengah keluar dari Bandara sambil menyeret koper nya dengan santai. Pria blasteran Indonesia-Belanda itu mencuri perhatian orang-orang yang di bandara. Ketampanannya diatas rata-rata. Siapa yang takkan tertarik?


Dia menunggu jemputan dari saudara kembar serta sahabat nya untuk menjemput.


"Jo". Panggil suara dari jauh, segera dia mengalihkan pandangan pada arah suara itu.


"Ahhhh saudara kembar ku. Walaupun jelek tapi aku tetap merindukanmu". Dia berhambur memeluk saudara kembar'nya. Sedangkan pria yang dipeluknya mengerutu kesal.


"Lepaskan Jo, badan mu itu terbuat dari apa sih, keras sekali?". Gerutu nya.


Jolenta hanya cenggegesan sambil mengaruk tengguknya yang tidak gatal. Dan melepaskan pelukannya.


"Hehehe".


"Roger".


"Jolenta".


Mereka saling berpelukan. Sudah tiga bulan lebih mereka tak bertemu.


"Ya sudah ayo". Ajak Jovan jenggah melihat kenarsisan saudara kembar'nya itu.


"Ayo Ger. Tolong bawakan koperku Jovan". Suruh Jolenta tanpa dosa.


"En.......".


"Cepat bawa Jovan. Aku datang jauh-jauh dari Indonesia, bukan kah kau harus melayani saudara kembar mu ini?". Jolenta menaik turunkan alisnya menggoda sang Kakak.


Plakkkkkkkkkkkk


Jovan memukul kepala Jolenta dengan gemes. Adik kembar nya selalu suka membuatnya kesal bukan main.


"Kak, kau tega sekali. Hiks". Jolenta berakting menangis.


Sedangkan Roger gelleng-gelleng kepala melihat tingkah dua pria kembar itu.


"Sudah, sudah ayo". Potong Roger masuk duluan kedalam mobil.


Mereka bertiga pun masuk kedalam mobil. Sepanjang perjalanan, Jovan dan Jolenta masih terus berdebat. Entah apa yang membuat kedua pria itu setiap kali bertemu selalu berdebat dan menemukan bahan yang mereka perdebatkan.


"Kau mau membunuhku Van? Hampir saja ku tutup perusahaan mu itu. Membuat kepala ku pusing saja". Gerutu Jolenta.


"Jangan terus mengerutu Jo. Kau juga yang mengaku pintar dariku, makanya aku percayakan saja mengelola perusahaan ku". Jovan tertawa cekikikan.


Jolenta memutar bola matanya malas. Jika bukan Kakak nya ingin rasanya dia tendang Jovan keluar, karena sungguh menyebalkan di mata Jolenta.


Roger hanya tersenyum. Sudah terbiasa baginya menyaksikan perdebatan kedua sahabat kembar nya itu.


"Ger bagaimana keadaan adikmu?". Tanya Jolenta.


"Dia lebih baik, dan sekarang sedang mengandung". Jawab Roger masih fokus menyetir.


"Apa Kay tahu keberadaan istrinya?".


"Tidak. Dia juga tidak mencari keberadaan Ara".


Jolenta menghela nafas "Kasihan sekali adikmu. Pasti dia sangat merindukan suaminya". Jolenta menyenderkan punggungnya. Dia sudah mendengar semua tentang Ara, tapi belum pernah bertemu Ara.


"Jangan khawatir Jo, kita yang akan menjadi pendukung Ara". Timpal Jovan.


Jika semua anggota keluarga Van Derg tahu siapa Ara, maka Jolenta tidak tahu sama sekali. Lantaran dia memang jarang pulang dan waktu SMA juga berbeda kelas dengan Roger jadi hanya Jovan saja yang begitu akrab bersahabat dengan Roger.


Mobil mereka sampai dikediaman Van Derg. Para pengawal langsung membukakan pintu mobil dan mengambil koper Jolenta.


"Terima kasih Paman". Ucap Jolenta sambil tersenyum.


"Sama-sama Tuan Muda".


"Kakak".


Mereka menoleh, terlihat Joana yang sedikit berlari menghampiri ketiga pria itu.


Joana berhambur memeluk Jolenta. Jolenta menyambut dengan senyum. Jolenta dan Joana memang sangat dekat, karena Jolenta tidak dingin seperti Jovan.


"Rindu". Renggek Joana mengalungkan tangannya ditubuh kekar Jolenta.


"Sama Kakak juga rindu Joana yang tidak laku-laku ini". Sontak Joana melepaskan pelukan Jolenta dengan wajah kesal.


"Cih, apa Kakak tidak sadar kalau Kakak juga tidak laku-laku". Sindir Joana.


"Bukan tidak laku Na. Kakak ini terlalu tampan, jadi gadis-gadis itu pada minder jadi pasangan Kakak". Jolenta menyisir rambutnya keatas seperti sedang menyombongkan ketampanannya.


"Percaya diri sekali dirimu Kak. Yang benar itu memang tidak ada yang mau sama Kakak". Joana tak mau kalah.


"Buk.......".


"Sudah, sudah! Sama-sama tidak laku saja saling menyindir". Potong Jovan jenggah melihat perdebatan kedua saudara nya.


"Jo". Syaneth dan Van Derg berjalan kearah putranya.


"Vad, Moe". Jolenta memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


"Apa kabar kalian?". Tanya Jolenta melepaskan pelukannya.


"Sehat". Sahut Van Derg.


"Moe ini akan cepat tua karena mengomel terus melihatmu yang belum laku-laku". Celetuk Syaneth menyindir putra keduanya itu.


Jolenta menelan salivanya kasar, selalu saja jika pulang dia diomeli dengan kata yang sama belum laku.


"Bukan belum laku Moe. Jo kan pilih yang pas dihati Jo". Jolenta mencoba membela diri.


"Alah, bilang saja tidak ada yang mau". Cibir Syaneth.


Jovan memutar bola mata malas "Silahkan komentari putramu itu Moe. Yang lain ayo kita ke meja makan". Ajak Jovan menangahi.


"Kau.....".


"Berhenti mengerutu Moe. Nanti tambah tua". Celetuk Jovan mengambil seribu langkah.


"JOVAN".


"Kabur....". Sambil tertawa Jovan melangkah meninggalkan mereka dan menuju ruang makan.


Yang lain geleng-geleng kepala sambil menahan senyum. Ya sudah biasa jika Syaneth memburu kedua putranya dengan pertanyaan yang sama. Karena kedua pria itu tak pernah sekali pun membawa wanita kerumah mereka.


"Ayo Kak". Joana bergelut manja dilengan Jolenta "Ayo Kak Roger". Ajak Joana juga pada Roger.


Joana memang dekat dengan Jolenta dibanding Jovan dan Jovanka. Jovan memiliki kepribadian yang sedikit dingin dan irit bicara, sedangkan Jovanka dari sebelum menikah memang jarang dirumah karena sibuk meniti karier. Hanya dengan Jolenta saja Joana paling akrab dan juga manja.


Dimeja makan, semua makanan sudah tertata rapih. Dan makanan itu khas Nusantara Indonesia, yang memasaknya Ara, Shella dan Joana. Tentu saja semua ide Ara dan mereka tak bisa menolak.


"Tumben menunya beda?". Tanya Jolenta sambil duduk disamping saudara Jovan "Seperti di Indonesia saja". Celetuk Jolenta mengambil piring.


"Ini masakkan Ara". Sahut Syaneth.


"Ara?". Beo Jolenta "Ara adik Roger?". Tanya Jolenta. Yang lain hanya mengangguk.


Dari arah dapur terlihat Shella yang sedang membawa nampan dengan beberapa mangkuk didalamnya.


Ara dan Aldo juga berjalan berjalan dari arah dapur diikuti oleh beberapa pelayan yang membantu mereka.


Bersambung..............


Kayhan ❤️ Kimara