
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹 🌹🌹
Jika Kayhan dan Seem tengah meratap dan bersedih. Maka berbeda dengan wanita empat anak ini. Wajahnya tersenyum bahagia. Ara menyusui anak-anaknya secara bergantian. Anak-anak Ara kadang meminum susu formula kadang juga ASI tergantung dari mood anak-anaknya.
“Bunda, dedek Nala mau lagi”. Celetuk Aldo. Pria kecil itu mengendong bayi yang dibungkus dengan lampin bayi didalam pelukkannya.
“Iya sayang, sebentar ya. Bunda lagi kasih Naro”. Sahut Ara sambil tersenyum kearah Aldo “Ado gendong Baby Nara dulu ya”. Tandas Ara.
“Iya Bunda”. Sahut Aldo mengendong Nara.
Ara tersenyum simpul menatap wajah putranya yang masih betah menyusu padanya. Putra pertama dari ketiga anak kembarnya. Dia akan menjadi pemimpin nantinya.
Ara meletakkan Naro di box bayi “Sayang, sini Baby Nara. Biar Bunda kasih ASI dulu. Ado gendong Baby Zero ya”. Ucap Ara.
“Iya Bunda”. Aldo menurut lalu menyerahkan Nara pada Ara. Sedangkan dia mengambil Zero dalam ranjang bayi.
Ara dan Aldo adalah dua manusia yang berbeda jenis. Kedua orang ini saling menyanyangi satu sama lain. Mereka selalu kompak dalam segala hal, termasuk dalam mengurus keempat bayi Ara. Ara dan Aldo juga kadang melukis bersama saat bayi-bayi munggil itu tertidur. Galeri lukisan mereka kembali melesit dan terkenal di Belanda. Omset penjualan lukisan mereka sangat menjanjikan sehingga Ara membuka beberapa cabang di Amsterdam.
“Cup cup cup cup cup cup sayang”. Ara mencium Nara saat gadis kecil itu hendak menangis. Seakan mendengar suara malaikat bayi yang hampir menangis itu seketika tertawa.
Ara terkekeh melihat bayi munggil dan lucu didalam gendongannya. Bayi itu sangat mirip dengan wajahnya waktu kecil. Lucu dan menggemaskan.
“Owe owe owe owe owe”.
Zero menangis dalam pelukkan Aldo. Bayi kecil itu seperti ingin digendong oleh Ibu nya. Dia ingin merasakan sentuhan tangan sang Ibu yang mampu membuatnya tenang.
“Bunda”. Adu Aldo.
“Iya sayang”. Ara meletakkan Nara di box nya “Sini”. Ara mengulurkan tangannya untuk mengambil Zero dalam pelukkan Aldo “Ado, gendong Zeno ya”. Suruh Ara pada pria kecil itu.
“Iya Bunda”.
Begitulah kedua orang itu selalu saja kompak mengurus bayi-bayi Ara. Ara dan Aldo lah yang setiap hari bersama keempat bayi kembarnya. Aldo bahkan tidak mau sekolah untuk membantu Ara. Namun Ara menasihati Aldo agar dia mau bersekolah. Akhirnya pria kecil itu menurut juga.
Roger dan Joana sedang mempersiapkan pesta pernikahan mereka. Karena bulan depan kedua pasangan kekasih itu akan melangsungkan pemberkatan dan resepsi pernikahan. Mereka berdua disibukkan dengan persiapannya. Roger dan Joana tidak mau merepotkan orang lain dan keluarganya mereka berdua menyiapkan segala sesuatunya sendiri dan mandiri.
Jolenta juga disibukkan dengan lamarannya, pria itu kecantol cinta sekretaris cantiknya. Rencanannya Jolenta akan melangsungkan pernikahan setelah adiknya Joana. Hanya dengan menikah maka Jolenta bisa melupakan gadis kecil yang telah membuat nya jatuh hati. Jolenta yakin dengan menikah dia akan bisa melangkah lebih jauh bersama seseorang yang baru.
Shella, sedang focus meniti karier dibidang modeling. Ibu satu anak itu juga membangun sebuah butik dari hasil kerja kerasnya. Shella focus menyiapkan masa depannya dan Aldo. Shella tidak ma uterus berharap pada keluarga Van Derg, keluarga itu sudah terlalu banyak menolongnya. Shella ingin mandiri dengan usahanya sendiri. Dia yang memang mantan model dan desainger tentu dengan mudah mengembangkan bisnisnya.
Sedangkan Jovan, dia tetap focus pada perusahannya dan membuka cabang dibeberapa Negara. Jovan belum memikirkan pernikahan, dia masih ingin melebarkan sayapnya didunia bisnis. Dia juga belum mendapatkan wanita yang pas dihatinya. Jovan ingin menjaga Ara dan keempat bayi kembar itu. Setelah berhasil mengelabui Bagaskara, Jovan semakin ketat menjaga Ara. Bukan sebagai kekasih hati, tapi sebagai kasih sayang seorang Kakak pada adiknya.
“Bunda, dedek Zeno sudah ditidul”. Celoteh Aldo menunjuk Baby Zeno dalam pelukkanya.
“Iya sayang, sebentar ya”. Ara meletakkan dengan pelan Zero yang sudah tidur. Lalu mengambil Zeno dan juga menidurkannya di ranjang bayi miliknya.
Ara masih tinggal dirumah keluarga Van Derg, begitu juga dengan yang lainnya Shella dan Roger. Van Derg dan Syaneth tak mengizinkan mereka keluar dari rumah. Apalagi saat kedatangan Bagaskara yang hampir membuat Ara dan keempat bayinya celaka. Membuat Van Derg dan Syaneth semakin posessif.
“Ado, tidur ya. Bunda juga mau tidur”. Ucap Ara sambil tersenyum pada pria yang menepuk-nepuk kepala Nara.
“Iya Bunda”. Aldo langsung berbaring disamping Ara.
Ara menguap karena mengantuk. Dia sudah biasa tidur tengah malam setelah anak-anaknya tidur. Bagi Ara keempat bayinya adalah segala sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini.
Sudah satu tahun lebih Ara berpisah dari Kayhan. Meski sudah cukup lama namun tetap saja dia merasakan rindu yang teramat sangat pada suami manjanya itu. Ara berharap keajaiban dan mujizat Tuhan terjadi dan memberinya kesempatan untuk kembali bersama suaminya.
Selama ini Ara berusaha menutupi kesedihannya. Melihat anak-anaknya yang lahir tanpa seorang Ayah membuatnya merasa bersalah. Dia sudah berjanji dihadapan Tuhan dan para saksi bahwa dia akan bersama Kayhan sampai maut memisahkan. Namun belum juga maut datang memisahkan dia dan Kayhan sudah terpisah.
Untung saja Aldo, si pria kecil dengan sikap posessif seperti orang dewasa selalu ada untuk Ara. Pria kecil itu selalu menciptakan kenyamanan untuk Ara. Dia layaknya seorang kekasih yang memeluk kekasihnya, tak jarang Aldo menidurkan Ara seperti bayi jika Ara sedang teringat pada suaminya.
Ara sangat bersyukur karena kehadiran Aldo dan Shella mampu membuatnya bangkit dari patah hati yang dia alami. Ditambah dengan keluarga Van Derg yang menerima dia apa adanya, membuat Ara tak henti-hentinya mengucap syukur.
“Terima kasih sayang”. Ara mengecup kening Aldo yang memeluknya erat sebelum akhirnya terlelap dalam mimpi.
Ditempat lain, Shella baru saja pulang dari butiknya. Sudah tengah malam begini menjadi kebiasaannya pulang. Shella kadang merasa bersalah karena tidak bisa mengurus Aldo setiap waktu.
Shella masuk kedalam kamar Ara dan anak-anaknya. Senyum manis tercetak diwajah wanita itu saat melihat Aldo yang tertidur dengan lelap sambil memeluk Ara.
Tangan Shella terulur mengelus kepala putranya. Aldo adalah sumber kekuatan Shella, jika tidak ada Aldo mungkin dia sudah menyerah menghadapi badai hidupnya.
“Maafkan Mami sayang. Maafkan Mami yang belum bisa menjadi Ibu terbaik untuk Ado. Maafkan Mami yang tidak bisa mencari tahu dimana keberadaan Papimu”. Lelehan bening itu luruh ke pipinya.
Lalu Shella beralih pada Ara, wanita berkepala plontos itu terlelap tanpa beban. Shella tersenyum.
“Terima kasih Ra. Kamu juga segalanya untuk Kakak. Kakak berjanji akan selalu bersamamu dan membantumu membesarkan bayi-bayimu”.
Setelah cukup lama memandangi kedua orang itu. Shella beralih pada keempat bayi Ara yang tertidur diranjang bayi. Dia mencium satu persatu bayi-bayi itu, sebelum akhirnya meninggalkan kamar Ara.
Bersambung....
Kayhan ❤️ Kimara