
Rindu adalah tentang rasa yang tidak menyatu, dipisahkan oleh jarak ruang dan waktu. Lalu bagaimana jika merindukan seseorang yang telah tiada? pada dasarnya itu itu menyakitkan dada dan meremukkan seluruh raga, karena takkan menemukan titik temu sekalipun dunia terbalik lima ratus juta kali dan sekalipun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.
Happy Reading,🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kimara POV.
Takdir begitu suka bercanda denganku. Apakah dia tahu bahwa raga ini seakan tak ada nyawa? Takdir sangat suka mempermainkan ku, padahal aku tidak pernah main-main dalam menghargai takdir. Namun justru takdir selalu mengobrak-abrik kehidupanku yang semakin keras ini.
Dalam bulan yang sama dan tahun yang sama, aku kehilangan tiga orang sekaligus dalam hidupku. Rasanya aku tak ingin hidup, bolehkah? Kenapa tidak aku sekalian yang Tuhan ambil?
Aku ingin memberontak dan marah pada Tuhan, tapi apa hakku? Bukankah Tuhan mengambil milikNya dan kepunyaanNya, aku hanyalah insan yang diizinkan memiliki hanya sesaat. Tapi kenapa rasanya sesakit ini saat Tuhan mengambil milikNya.
Jika menangis bisa membuat orang yang mati hidup kembali, maka aku ingin menangis dalam waktu panjang agar mereka yang sudah pergi kembali lagi dalam pelukku. Nyatanya, aku sudah menangis berhari-hari tanpa jeda, sampai mataku bengkak tak berupa. Namun tetap saja tak kulihat lagi mereka dihadapan ku.
Apa tujuan Tuhan melahirkanku didunia ini? Jika hanya membuatku sendirian. Kepada siapa lagi hati ini berkeluh kesah? Kepada siapa lagi hati ini menjerit kesakitan? Faktanya kehilangan lebih sakit dari segalanya. Tidak tahukah Tuhan, bahwa aku juga ingin mati? Tapi kenapa Tuhan juga tidak mengambil nyawa ku.
Kutatap ketiga batu nisan yang ada didepanku, harum bunga masih tercium menguar dihidungku, tanah yang masih basah jika diinjak. Tiga batu nisan yang sangat aku kenal namanya, bahkan nama-nama itu terdaftar dalam orang penting hidupku. Namun, lihatlah sekarang mereka pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata selamat tinggal.
"Ayah, Ibu, Mey". Lirihku tersungkur didepan ketiga makan itu. Tuhan, kenapa aku kehilangan secepat ini? Apa salahku padaMu?
"Maafkan Ara, hikssss". Kini tangisku pecah lagi dan lagi. Setelah apa yang sudah kukorbankan dengan nyawa, aku justru kehilangan disaat semua pengorbanan ku dimulai.
Kurasakan usapan hangat dipundakku. Usapan yang seketika membuat emosiku mereda. Aku menatap wajah dari usapan itu.
"Kak, hikssss". Renggekku. Pria itu menarikku dalam pelukkannya. Tangan munggilku melingkar ditubuh kekarnya, entah kenapa pelukkan ini benar-benar aku butuhkan setiap saat. Rasanya pelukkan ini membuatku sedikit kuat.
"Kau pasti bisa sayang". Sesekali dia mengecup ujung kepala ku. Tak kusangka pria ini menjadi tempat ternyaman untukku bersandar.
Saat ini, aku tengah duduk dibibir ranjang milik Mey. Kami memang berbeda kamar. Kutatap foto-foto yang menempel di dinding kamar Mey, sebagian lagi ada yang bergantungan yang terjepit ditali lampu-lampu remang milik Mey.
"Hiks hiks hiks hiks". Aku menutup kedua wajahku, menangis sejadi-jadinya. Apakah aku sanggup menjalani hidupku sendiri.
Kak Roger kembali ke penjara. Bisa kulihat diwajah tampan Kakakku bahwa dia sangat terpukul, sama seperti ku. Bisa kulihat Kak Roger ini bertahan tinggal tapi hukuman yang diberikan belum juga selesai.
Tuan Kayhan, pria itu kembali ke perusahaan. Sebenarnya dia ingin menemaniku tapi bersikeras menolaknya, karena aku ingin sendiri.
Aku membuka laci meja belajar Mey, semua buku pelajaran dan beberapa modul lainnya masih tertata rapih di meja belajar Mey. Ya Tuhan, rasanya Mey belum pergi kenapa aku merasakan hadirnya?
Aku menemukan sebuah amplop berwarna putih polos, depannya tertulis "Dear Kak Ara" aku membukanya dengan rasa penasaran yang menyeruak didadaku.
*Dear Kak Ara tersayang.
Sebelumnya Mey ingin mengucapkan kata maaf yang sebesar-besarnya untuk Kak Ara. Maaf. Maaf karena membuat Kakak sedih dan merasa bersalah. Maaf untuk segala hal. Kak Ara, adalah Kakak terbaik untuk Mey. Mungkin Kak Ara heran, kenapa Mey tiba-tiba marah dan menyalahkan Kakak atas kematian Ayah dan Ibu. Maaf Kak, Mey tidak bermaksud membuat Kakak terluka ketahui lah Kak, Mey sangat menyanyangi Kakak, sangat sayang. Setelah Mey tahu tentang penyakit Mey dan apalagi tentang masalah kewanitaan Mey, rasanya Mey benar-benar rapuh, Mey ingin menceritakan semuanya pada Kakak. Tapi Mey takut hal itu akan membuat Kakak semakin terluka, apalagi baru saja kita kehilangan Ibu. Mey selalu menahan sakit didepan Kakak, karena Mey tidak menambah beban Kak. Maaf Kak, ketika Mey memilih untuk berpura-pura benci sama Kakak, itu adalah supaya ketika Mey pergi Kakak tidak merasa kehilangan karena Mey yakin Kakak pasti ilfeel dengan sikap Mey. Maafkan Mey Kak. Mey terluka saat melihat Kakak menangis, Mey terluka saat melihat kesakitan dan Mey tidak bisa berbuat apa-apa ditambah dengan kondisi Mey juga yang semakin menurun. Mey sudah lama menyembunyikan penyakit Mey pada Kakak, Ayah, Ibu dan Kak Roger karena Mey tidak mau jika kalian tahu, kalian akan khawatir dan panik. Kak, Mey adik yang jahat 'kan sama Kakak? Maaf Kak, hanya itu yang bisa Mey ucapkan. Mey sebenarnya tidak sanggup saat bentak-bentak Kakak, apalagi saat Mey meminta uang pada Kakak, karena Mey sendiri tahu kondisi Kakak seperti apa. Tapi hanya yang bisa Mey lakukan agar benci Mey dan ketika Mey pergi Kakak tidak akan terus memikirkan Mey. Tapi Mey salah Kak, Kakak adalah Kakak terbaik bagaimana pun jahatnya Mey pada Kakak, Kakak tetap menyayangi Mey dengan tulus dan tak dendam sama sekali dihati Kakak untuk Mey, sekali lagi maaf Kak. Mey sebenarnya tidak bermaksud menulis surat ini untuk Kakak, tapi Mey tidak ada pilihan hanya dengan cara ini Mey bisa mengucapkan kata maaf dan kata terima kasih, karena telah menjadi Kakak paling baik untuk Mey. Jaga diri baik-baik Kak, titip salam untuk Kak Roger. Mey berharap suatu hari nanti akan kebahagiaan yang menghampiri orang sebaik Kakak. Mey juga yakin, Tuhan sudah gariskan hidup untuk Kakak. Jangan menyalahkan diri terlalu lama Kak dan larut dalam kesedihan, Mey tahu ini semua berat untuk Kakak tapi Mey yakin Kakak pasti bisa, karena wanita yang kuat. Terima kasih Kak, Mey menyanyangi Kakak"
Dari yang tersayang.
MEYRISKA FERARER*
Dadaku terasa sesak, berkali-kali ku pukul dadaku agar udara bisa masuk. Tuhan, kenapa jadi seperti ini?
Kakak macam apa aku yang tidak tahu penderitaan adiknya?. Aku pikir Mey benar-benar membenci dan menyalahkanku, ternyata Mey menyembunyikan penyakitnya.
Aku tersungkur dilantai kamar Mey, memeluk surat yang Mey tulis untukku. Menangis dengan hebat.
"MEY". Teriakku menggema. Aku menggeleng tak percaya, aku bahkan berkali-kali menyakinkan diriku bahwa ini hanyalah mimpi, tapi kenapa aku tidak bangun-bangun?.
Dikesunyian malam, aku masih terduduk dengan lemas. Tatapan mataku kosong, aku sudah tak mampu lagi menangis, stok air mataku sudah habis.
Aku berharap mereka adalah pemberian terbaik yang Tuhan berikan kepadaku, dan ketika mereka pergi tidak ada yang perlu dimaafkan. Tapi aku selalu berharap mereka kembali dan mengatakan padaku bahwa mereka tak sanggup jauh dariku. Namun, nyatanya yang mereka temukan disana adalah kesedihan dan kepatahhatian, ini sangat menyakitkan untukku dan aku sangat cemburu mereka bisa bahagia tanpa aku. Sedangkan aku masih meratap dalam kesedihan dan kesepian sepanjang masa.
Takkan ada lagi yang menyambut kedatanganku saat tiba dirumah, takkan ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi dimeja makan, takkan ada lagi yang mengomeliku ketika tidurku larut malam.
Aku harus mulai membiasakan diri tanpa sapaan selamat malam dan selamat pagi dari mereka. Kini, ruang kosong itu sudah tak terisi hanya ada aku dan tangisan yang menggema.
Aku tahu mereka disana, dan jauh disini aku ingin mereka kembali. Semua orang berpendapat bahwa aku telah gila, tapi mereka tidak mengerti bagaimana sakitnya kehilangan. Karena Ayah, Ibu dan Mey yang kumiliki kini telah pergi untuk selamanya.
Dikesunyian malam aku duduk didekat kamarku, dan menatap bintang dilangit serta cahaya bulan yang menerangi malam. Aku berbicara pada bulan, dan berharap bulan menyampaikan salam ku pada mereka, dan berharap mereka membalasnya bahwa mereka juga merindukan diriku.
Kunikmati rasa sakit ini, tidak! Aku tidak bisa begini terus begini aku harus memulai hidup baru dan melangkah melanjutkan mimpi-mimpi yang sempat tertunda.
**Bersambung....
Salam hangat.
Kayhan ❤️ Kimara**.