Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 6. Masuk kerja Kembali.



**Kau takkan paham perasaanku, biar kujelaskan ribuan kali pun kau hanya akan mengatakan sabar karena kau tidak pernah mengalami bagaimana sakitnya menjadi aku.


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹**


Pagi menyising tiba, Ara terbangun dari tidur indahnya. Segera gadis itu duduk dan mengumpulkan nyawanya, lalu merapalkan segala doa dan harapan, semoga hari ini baik-baik saja dan dia bisa melewati segala rintangan yang menghadang nya.


Ara membersihkan diri ke kamar mandi yang hanya ada satu dirumah sederhana itu, mereka biasanya gantian untuk mandi karena kamar mandi kadang dipakai untuk mengerjakan semuanya, termasuk mencuci piring dan baju.


Ara memilih pakaian kerjanya, pakaian yang sudah satu bulan ini tak melekat ditubuhnya. Tak lupa Ara memakai bedak tipis diwajahnya, tanpa bedak saja dia sudah sangat cantik. Bagaimana jika dia didandani?


"Pagi Ayah, pagi Bu, pagi Mey". Sapa Ara pada semua anggota rumahnya, karena setiap pagi mereka selalu sarapan bersama. Kecuali Roger yang masih tidur dikamarnya, karena pulang tengah malam dalam keadaan mabuk.


"Pagi juga Nak".


"Pagi juga Kak Ara".


"Kau yakin hari ini mau masuk kerja?". Tanya Ferarer.


"Iya Yah, Ara sudah sehat". Ara tersenyum agar kedua orangtuanya yakin bahwa dia sudah sehat dan sembuh.


"Ayah antar saja ya?". Tawar Ferarer "Mey, hari ini naik bis tidak apa?". Tanya Ferarer pada putri bungsunya.


"Tidak apa Ayah. Ayah antar saja Kak Ara, dia pasti belum mampu bawa motor sendiri". Sahut Mey sambil menyuap makanan.


Setelah sarapan pagi. Ferarer mengantar Ara, sekalian dia menuju tempat kerja nya.


Ara duduk sangat hati-hati dijok motor. Dia memegang perutnya yang terasa sakit saat motor itu beberapa kali menabrak lubang dijalan aspal yang sudah rusak digang rumahnya.


Sesekali Ara mengigit bibir bawahnya supaya rintihannya tidak terdengar oleh sang Ayah yang tampak fokus membonceng dirinya.


"Ara baik-baik saja? Jika Ayah terlalu kencang bilang saja ya?". Senyum Ferarer terlihat dikaca spion motornya.


"Iya Yah". Balas Ara memaksakan senyum.


Motor Ferarer berhenti didepan gedung pencakar langit, yang terlihat menjulang tinggi. Gedung ini, gedung terbesar yang ada dikota jadi terlihat sangat mencolok dari gedung-gedung yang lainnya.


"Ayah, terima kasih Ara masuk dulu". Ara sambil menyalimi Ferarer.


"Iya sayang, nanti sore Ayah jemput". Ferarer mengelus rambut putrinya dengan lembut.


"Hati-hati Ayah". Ara melambai kan tangannya saat motor Ferarer menjauh dari gedung itu.


"Huffhhhhh". Ara menarik nafas dalam sesekali memegang perutnya yang terasa keram.


"Tuhan tolong, aku harus sehat. Aku ingin bekerja seperti biasa, jika aku sakit siapa yang akan membantu Ayah mencari uang?". Batin Ara sambil masuk dengan langkah pelan.


Sepasang mata yang sedang duduk didalam mobil, tangannya dilipat didada dan tatapannya sangat dingin bahkan dingin dari gunung es.


Gadis yang baru saja turun tadi, adalah gadis yang dia lihat dan menabraknya waktu itu dirumah sakit. Tapi kenapa gadis itu ada disini? Apa karyawan nya? Tapi kemana dia kemarin-kemarin? Kenapa baru terlihat.


"Ada apa dengan Tuan, kenapa Tuan memperhatikan Nona Ara dengan tatapan begitu?". Batin Cody yang juga sedang berada dibelakang kemudi


"Bagaimana Tuan?". Tanya Cody yang mulai jenggah karena sedari tadi mereka terlalu lama berdiam didalam mobil.


Tanpa basa basi Kay turun dari mobil, dan tidak menunggu Cody untuk membuka pintu mobil untuknya.


Kay melangkah dengan tatapan dingin, matanya melihat lurus kedepan. Beberapa karyawan yang dia lewati menyapa dirinya.


Kay berhenti di lift khusus CEO.


"Maaf Tuan, lift ini sedang rusak dan akan diperbaiki nanti sore". Lapor Cody.


"Pindah ke lift karyawan". Kay beralih ke lift khusus karyawan.


Para karyawan yang tadinya ingin masuk, segera memberi ruang untuk sang Tuan pemilik perusahaan ini. Mereka benar-benar terpana dengan ketampanan CEO mereka. Sungguh ciptaan Tuhan paling terindah yang pernah mereka temui.


Ara bersandar didinding lift sambil menarik nafas dalam, sumpah demi apapun luka bekas operasi nya benar-benar sakit. Ara memegang perutnya matanya terpejam, bahkan dia tidak menyadari jika ada dua pria yang masuk kedalam lift tersebut.


Ara membuka matanya dan dia terkejut saat melihat ada orang didalam lift selain dia "Maaf Tuan". Ara segera membenarkan posisinya.


Ara memperhatikan salah satu pria yang berdiri tanpa ekspresi didekat Cody.


"Bukannya, ini pria sombong yang dirumah sakit itu? Ada apa dia kesini? Dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang biasa? Jangan bilang...... ". Batin Ara mengigit bibir bawahnya "Dia Boss baru yang dibilang Ata". Gumam Ara lagi, tapi Ara tenang dan tidak gugup sama sekali.


Kay dari tadi menatap Ara melalui pantulan pintu lift yang terlihat jelas. Keningnya berkerut saat melihat wajah Ara yang dipenuhi keringat. Kay yakin jika Ara gugup berada dalam satu lift dengannya, siapa coba wanita yang tidak grogy jika berdekatan dengan dirinya? Padahal Ara sedang menahan sakit diperutnya bukan karena grogy.


Ting


Pintu lift terbuka. Kay dan Cody berjalan keluar sedangkan Ara masih tertahan didalam lift. Dia memegang bekas operasinya yang benar-benar terasa perih.


"Nona Ara, anda baik-baik saja?". Tanya Cody yang kembali karena heran melihat Ara tidak keluar.


Ara memaksakan senyum "Saya baik-baik saja Tuan. Permisi". Ara keluar dari pintu lift dengan kaki nya yang dia paksa diseret.


Mata Kay tak beralih dari tadi pria itu terus saja menatap Ara yang menurut nya sangat aneh. Dari tatapan nya sampai cara dia berjalan yang seperti dipaksakan.


"Kenapa dia Cody?". Tanya Kay menatap punggung Ara.


"Saya tidak tahu Tuan". Sahut Cody.


"Apa Administrasi pendapatan itu sudah masuk?". Tanyanya sambil berjalan masuk kedalam ruang CEO.


"Administrasi pendapatan adalah Nona Ara Tuan". Sahut Cody.


"Ara?". Beo Kay.


"Iya Tuan, gadis yang kita temui didalam lift tadi adalah Nona Ara, dia Administrasi pendapatan". Jelas Cody.


"Baik, suruh dia siapkan samua laporan pendapatan bulan lalu dan rekap juga laporan pendapatan selama lima tahun belakangan ini". Pinta Kay.


"Baik Tuan". Sahut Cody.


Ara baru masuk kedalam ruangannya.


"Ara". Panggil Martha berlari kearah sahabat nya itu dan memeluknya dengan erat. Ara terdiam karena pelukkan Martha semakin membuat bekas operasinya sakit.


"Ara, kau kemana saja? Aku benar-benar merindukanmu". Celetuk Martha memasang wajah kesal.


Namun Ara masih terdiam dengan nafas memburu sambil menahan sakit dibagian perutnya.


"Ra". Panggil Martha namun Ara masih tak bergeming "Ara, kau baik-baik saja?". Tanya Martha heran.


Ara tersadar "Ehem, aku baik-baik saja Ta". Sahut Ara memaksakan senyum.


"Oh ya uangnya udah aku transfer ya". Ucap Martha.


"Iya Ta, thanks ya aku janji akan ganti setelah gajian". Ujar Ara.


"Iya, iya itu gampang". Goda Martha sambil mengedipkan matanya kearah Ara.


**Bersambung.....


Yang pernah di operasi pasti disini ngerasain gimana rasanya perih nya bekas operasi ketika banyak gerak??


Ini pengalaman pribadi author yang dulu pernah juga di Operasi kista, jadi minimal istirahat dan tidak boleh melakukan apa-apa itu selama tiga bulan, karena bekas jahitan didalam belum benar-benar pulih. Apalagi benang dagingnya, biasanya masih belum nyatu sama daging?


Kebayangkan jika jadi Ara gimana menahannya??


Yuk ikuti terus.....


Salam hangat


Ara ❤️ Kay**