
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Mobil Ara dan Aldo baru saja sampai dirumah mewah milik Jovan.
Mereka langsung disambut oleh Jovan yang terlihat begitu panik.
"Ara, kau baik-baik saja?". Cecar Jovan memeriksa tubuh Ara.
Ara dan Aldo mengerutkan keningnya heran "Ada apa Kak? Aku baik-baik saja". Ujar Ara melihat Jovan yang panik.
Jovan menarik nafas dalam. Setelah mendapat kabar dari pengawal bayangan yang dia tugaskan mengawasi Ara dan Aldo, dia panik bukan main ketika tahu bahwa Ara dan Aldo bertemu Seem. Jovan takut jika Seem mencelakai kedua orang itu.
"Tidak apa-apa". Jovan berusaha tersenyum menghilangkan paniknya.
"Mommy".
Keempat bocah kembar itu berlari kearah Ara. Seharian mereka tak bertemu sang Mommy, membuat keempat nya begitu rindu pada Mommy mereka ini.
"Hai anak-anak Mommy". Ara menjongkokkan badannya dan merentangkan tangan menyambut pelukkan keempat buah hatinya. Bocah kembar empat yang terlihat imut dan juga menggemaskan.
"Rindu". Celetuk keempat nya kompak. Membuat Ara tertawa gemes. Astaga, betapa beruntungnya Ara dianugrahi manusia-manusia kecil yang begitu menggemaskan.
Jovan tersenyum hangat menyaksikan kehangatan Ara dan anak-anaknya. Sedangkan Aldo hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi. Pria kecil itu terlihat sangat cemburu ketika Bunda Ara-nya memeluk adik-adik angkatnya.
"Ayo masuk, Mami Shella sudah masak buat kita". Ajak Jovan mengandeng tangan munggil Nara.
"Ayo".
Mereka masuk kedalam dan dimeja makan Shella sudah menyiapkan makan malam bersama para pelayan lainnya.
Selain masakkan Ara, anak-anak Ara juga terbiasa memakan masakkan Shella. Jika bukan kedua wanita ini yang memasak mereka takkan makan. Akibat sering bergaul dan mengasuh anak-anak Ara, Jovan ikut ketularan oleh keempat bocah menggempaskan itu.
Lagi-lagi Jovan tersenyum gemes melihat kekompakan empat bocah kembar itu. Jovan tak bisa bayangkan bagaimana hidupnya tanpa mereka. Bagi Jovan Ara dan anak-anaknya adalah segalanya untuk Jovan. Kehadiran mereka selalu saja membuat Jovan merasa beruntung. Apalagi wajah menggemaskan itu mampu membuat tertawa bahagia.
"Ado, makan sayang". Ucap Shella menambahkan beberapa lauk kedalam piring putranya
"Terima kasih Mi".
Mereka kembali melanjutkan makan dengan canda dan tawa. Suasana rumah mewah Jovan begitu hangat, dengan suara anak kecil yang memenuhi rumah mewah itu.
Setelah selesai makan malam, Ara segera memandikan keempat anaknya. Menyiapkan pakaian ganti dan merapikan kamar tidur tempat mereka berempat.
"Ra, kakak keluar sebentar. Ada masalah bisnis yang harus kakak selesaikan dengan klien". Ujar Jovan saat masuk kedalam kamar Ara dan anak-anaknya.
"Iya Kak". Senyum Ara.
"Anak-anak Ayah". Keempatnya langsung menghampiri Jovan.
"Iya Ayah". Jawab keempatnya kompak.
"Ayah pamit keluar sebentar. Kalian jangan nakal ya dan langsung tidur". Perintah Jovan mencium pucuk kepala anak angkatnya satu persatu.
"Ayah, Naro sudah besar. Jangan cium-cium". Naro mengusap kepalanya bekas ciuman Jovan.
Jovan tertawa geli. Sudah besar katanya? Yang benar saja, Naro baru berusia lima tahun. Besar darimananya? Pikir Jovan.
"Ayah hati-hati, jangan lama-lama". Pesan Nara
"Iya sayang". Jovan mencium pipi gembul Nara "Nara mau makan apa? Biar nanti Ayah belikan". Ujar Jovan.
"Nala mau es clim". Ucap gadis itu dengan semangat. Lalu dia beralih pada sang Ibu "Mom, boleh yaaaa". Rayu Nara menampilkan sisi imutnya.
"Yeee, terima kasih Mommy". Nara memeluk Ara dengan sayang.
Jovan melangkah menuju mobilnya. Terlihat sekali langkah pria itu tergesa-gesa. Entah kemana dia akan pergi.
Jovan melanjukan mobilnya meninggalkan rumah mewah itu. Hingga mobil nya terparkir disebuah apartemen mewah. Bahkan dikawasan elit itu, hanya apartemen itu yang paling mencolok dari yang lainnya.
Jovan masuk melalui pintu lift. Dia seperti tak sabar untuk bertemus seorang.
Ting tong Ting tong.
Jovan menekan bel apartemen. Tidak lama kemudian pintu terbuka.
"Ck, kenapa lama sekali bukanya?". Gerutu Jovan sambil masuk saat seorang pria membuka pintu untuknya.
"Cihh, ku kira kau Jolenta. Kenapa wajah kalian mirip sekali?". Seru pria itu sambil duduk dengan mengeringkan rambutnya. Kebetulan dia baru selesai mandi.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat panik dan khawatir begitu?". Tanya sang pria menyelidik wajah Jovan.
Jovan menghela nafas berat "Seem sudah bertemu Ara".
"Ohhhhhhh".
Satu detik kemudian
"Apa Kak Seem bertemu Ara? Lalu bagaimana? Apa Kak Seem menculik Ara?". Cecarnya ikutan panik.
Jovan malah mencibir "Kondisikan ekspresi wajahmu. Ingat Ara itu bukan milikmu". Cibir Jovan.
"Jangan lupa dia bukan milikmu juga Jovan". Sang pria tak mau kalah.
"Aku hanya takut jika Bagaskara mengetahui keberadaan Ara, lalu mencelakai dia dan keempat anaknya". Lirih Jovan menarik nafas dalam sambil menyenderkan tubuhnya lemes.
Pria itu juga tampak berpikir "Aku yakin Kak Seem tidak akan membiarkan Grandfa bertemu Ara. Dia juga menjaga Ara".
"Iya. Tapi bagaimana jika Seem yang membawa Ara pergi? Kau tahu kan bahwa Seem itu tergila-gila pada Ara". Ketus Jovan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kau saja belum mengizinkanku bertemu Ara-ku dan para keponakkan menggemaskan itu". Gerutu sang pria.
"Cihh, dia bukan Ara-mu. Dia masih Ara-nya Kayhan. Kau tahu kan mereka belum sah bercerai". Ketus Jovan "Kita harus memperketat pengawasan pada Ara. Dan untuk sementara waktu sampai keadaan aman, tahan saja dulu perasaan mu yang ingin bertemu Ara. Aku akan memberitahu bagaimana keadaan Ara dan anak-anaknya". Sambung Jovan memberi sedikit pengertian.
Nickho mengangguk. Ya pria itu adalah Nickho. Sejak lima tahun yang lalu, Nickho dan Jovan menjadi sahabat baik. Mereka berdua kompak menjaga Ara. Meski akhirnya Jovan disuruh pulang secara paksa ke Australia oleh Jolenta, namun Nickho tetap memantau perkembangan Ara dan anak-anaknya.
"Lalu bagaimana dengan lomba melukis Minggu depan? Bukankah Kak Seem menjadi juri dan Kayhan jadi donatur terbesar nya. Otomatis mereka pasti bertemu?". Seru Nickho.
"Yahhh itu juga sedang aku pikirkan. Aku tidak mungkin menghentikan mimpi Nara. Dia sangat ingin menjadi pelukis dan mengikuti lomba itu". Jovan memijit pangkal hidungnya kepala nya terasa berat memikirkan Ara dan anak-anaknya "Apa selama ini Kayhan masih menjadi keberadaan Ara?".
Nickho menggeleng "Kayhan menyerah dan bahkan dia berjanji tidak akan mencari dimana Ara lagi".
"Apa kau yakin jika Kayhan akan menyesal jika tahu yang sebenarnya?".
"Kurasa begitu. Aku sudah malas menegur pria keras kepala itu. Katanya cinta, tapi kenapa tidak percaya. Malah menuduh yang tidak-tidak". Celoteh Nickho
Kedua pria itu terdiam. Jujur saja ada kekhawatiran tersendiri didalam hati mereka ketika Seem sudah bertemu Ara. Takut jika Seem malah membawa Ara pergi jauh. Mereka tahu jika Seem tergila-gila pada wanita empat anak itu.
Bersambung........
Kayhan ❤️ Kimara