
**Aku takkan menyerah memperjuangkan mu. Segalanya adalah dirimu dan dirimu adalah segala nya. Sekalipun seluruh dunia mengatakan hal tidak baik tentangmu, hatiku takkan pernah berpaling darimu
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹**
Mobil yang dikendarai oleh Cody, terparkir disebuah Mansion mewah milik keluarga Wilmar. Cody turun duluan membukakan pintu untuk sang Tuan dan calon Nona muda mereka.
Keringat dingin membasahi dahi Ara, sebab ini pertama kalinya dia akan bertemu dengan keluarga dari calon suaminya. Sebenarnya Ara tahu bahwa orang tua Kayhan tidak setuju dengan hubungan keduanya, sebabkan karena Ara berasal dari kalangan bawah.
Namun, Kayhan yang sudah cinta mati pada Ara tidak peduli pada orangtuanya. Bagi Kayhan, Ara adalah nafasnya. Sering Ara menyuruh Kayhan meninggalkannya tapi Kayhan tidak pernah mengubris keinginan Ara itu. Dia tahu bahwa gadis ini adalah gadis yang tepat menjadi pendamping hidupnya.
"Jangan takut, aku bersamamu". Kayhan melingkarkan tangan Ara dilengan kekarnya. Dia menepuk-nepuk lengan Ara dengan pelan menyalurkan kekuatan pada kekasihnya itu.
Ara mengangguk dengan memaksakan senyum, padahal hatinya merasa tidak nyaman dan sangat takut. Tentu saja takut, dirinya hanya Upik abu yang bermimpi bersanding dengan pangeran seperti Kayhan.
Mereka masuk kedalam dan diekori oleh Cody dibelakangnya. Ara melingkarkan tangannya dengan erat dilengan Kayhan, saking gugupnya dia tidak sadar jika Kayhan terkekeh dengan tingkah yang menurut nya sangat lucu.
"Selamat datang Tuan Muda". Sambut para pelayan memberi hormat saat Kayhan memasuki pintu Mansion mewah itu.
Kayhan tak merespon hanya berjalan dengan wajah datang. Ara menunduk, jika saja bukan Kayhan yang menuntunnya berjalan sudah dipastikan gadis itu menabrak sesuatu.
"Kau sudah pulang Son?". Sambut seorang wanita paruh baya dengan penampilan glamor dan pakaian bermerk yang harganya mencapai ratusan juta.
"Iya Mom". Sahut Kayhan.
Mata Erna tertuju pada seorang gadis yang berdiri disamping Kayhan, gadis itu tersenyum sambil mengangguk hormat. Kening Erna berkerut.
"Siapa dia Son?". Tanya Erna dengan tatapan menyelidik, dari ujung kaki sampai ujung.
"Selamat siang Nyonya". Sapa Ara tersenyum ramah
Penampilan Ara yang terbilang sangat sederhana, memaki rok hitam selutut dan kemeja putih dengan lapisan blazer berwarna hitam, rambut dibiarkan tergerai begitu saja serta kacamata menempel dihidung mancungnya.
"Dia calon istriku Mom". Jawab Kayhan tegas.
Sontak jawaban Kayhan membuat Erna menatap Kayhan tak percaya. Bagaimana mungkin gadis lusuh seperti Ara menjadi calon istri putranya Kayhan?
Erna tak menjawab, dia langsung pergi ke meja makan dimana disana sudah ada anggota keluarga lengkap yang menunggu mereka. Karena sebelumnya Kayhan memang sudah memberitahukan kedatangan nya.
Kayhan membawa Ara menuju kesana. Tatapan tak suka dari para anggota keluarga Kayhan ditunjukkan pada gadis disamping Kayhan yang masih menunduk hormat. Bahkan Ara meremes ujung roknya, keringat juga membasahi dahinya.
"Ayo sayang duduk". Kayhan tak peduli dengan tatapan aneh keluarganya. Kayhan ingin tunjukkan bahwa Ara adalah pilihan terbaik Kayhan.
Ara duduk dikursi yang ditarik Kayhan untuknya.
"Terima kasih Kak". Senyum Ara, lalu mengarahkan pandangan kearah orang-orang yang sedari tadi menatapnya dengan jijik
Deg
Deg
Deg
Detak jantung seseorang saat melihat Ara ada didepan matanya.
"Ara".
"Kak Seem".
Kayhan mengerjitkan keningnya bagaimana Ara mengenal Seem? Apalagi memanggil Seem dengan panggilan Kakak.
"Kalian saling kenal?". Kali ini Bagaskara yang bertanya heran, bahkan dia melihat Ara dan Seem secara bergantian. Sedangkan Kayhan menatap tak percaya. Bagaimana mungkin Kakak nya yang anti wanita itu bisa mengenal Ara.
"Iya Tuan". Ara tersenyum canggung, dia melihat kearah Kayhan yang seperti meminta jawaban.
Ara mengenggam tangan Kayhan sebagai tanda bahwa dia belum bisa menjelaskan sekarang. Kayhan tersenyum dan mengangguk.
Sementara Seem, fokus pada makanan dipiringnya dan dia tidak peduli dengan tatapan mereka padanya. Sebenarnya itu hanya peralihan dari perasaan terhadap Ara. Rasanya Seem ingin menarik Ara dari pelukkan Kayhan.
Suasana seketika canggung, tak ada yang berbicara. Ara mengambilkan Kayhan makanan secukupnya, karena memang mereka berdua sudah biasa makan bersama dan Ara selalu melayani Kayhan dengan tulus.
Perlakukan Ara tak lepas dari tatapan Seem yang pura-pura fokus menyantap makanan, padahal ekor matanys mengawasi gadis itu. Tanpa sadar tangan Seem memegang kuat sendok dan kartu yang ada ditangannya, berusaha menahan emosi.
"Awas saja, takkan ku biarkan kau hidup dengan tenang bersama putraku. Akan kubuat kau menderita". Batin Erna tersenyum miring kearah Ara.
Wena juga tersenyum mengejek kearah Ara. Wanita berusia itu, tampak menilai Ara dari penampilan. Dia yakin, jika gadis mandul itu hanya ingin memanfaatkan harta Kayhan saja.
Sementara Bagaskara dan Bagas, hanya acuh dan tak peduli. Kedua pria itu juga tidak menyukai Ara, karena penyakit Ara yang tidak akan bisa memberikan keturunan pada Kayhan.
Setelah makan siang selesai, semua anggota keluarga berkumpul diruang keluarga. Sesuai dengan penuturan Kayhan untuk meminta semua keluarganya berkumpul. Seem yang awalnya malas bergabung, jadi ikut tertarik karena ada Ara. Seem ingin tahu apa sebenarnya yang ingin sang adik jelaskan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?". Tanya Bagaskara to the point pada cucunya. Pria lanjut usia itu tampak menatap Ara dengan jijik seakan Ara adalah virus yang harus dihindari.
"Seminggu lagi aku akan melangsungkan pernikahan bersama Ara".
Deg
Jantung Seem seketika berdetak, runtuh sudah bangunan yang dia bangun dengan susah payah sejak kehadiran Ara. Dunianya hancur berkeping-keping.
"Apa maksudmu Kay?". Sentak Bagas pada putra keduanya itu.
"Aku ingin menikah! Bukankah selama ini kalian selalu mendesakku?". Ujar Kayhan dengan wajah tenang, tangannya menggenggam tangan Ara yang terasa dingin.
"Kami memang menyuruh mu menikah, tapi tidak dengan gadis mandul seperti dia". Bagas menunjuk Ara dengan jari telunjuk. Wajah pria paruh baya itu terlihat penuh amarah.
"Cukup Dad". Bentak Kayhan membuat semua mereka tercenggang kecuali Seem hanya dengan wajah datarnya "Aku tidak peduli dengan kondisi Ara, mau dia mandul atau tidak itu bukan masalah untukku. Aku mencintainya tulus". Tegas Kayhan menatap tajam kearah Bagas.
"Lalu untuk apa kau menikah jika tidak bisa memiliki keturunan Kayhan?". Sambung Wena, Grandma Kayhan.
Ara menunduk takut, bahkan tanpa sadar air mata gadis itu terjatuh dipipinya karena takut.
"Tentu saja untuk bahagia bersama Ara! Untuk apa lagi? Jika memang tidak punya anak, apa itu akan menjadi halangan kebahagiaan untukku?". Ujar Kayhan menatap semua mereka dengan tajam.
"Stop Kay". Bentak Erna "Sejak mengenal gadis murahan ini, kau berubah menjadi anak yang suka pembangkang. Sebenarnya apa yang sudah diberikan gadis ****** ini padamu?". Tuduh Erna menatap Ara dengan penuh amarah dan kebencian.
"Cukup Mom". Teriak Kayhan "Jangan pernah menuduh Ara dengan sebutan yang tidak pantas". Rahang Kayhan mengeras seketika dan tangannya terkepal "Dengan ada atau tidaknya restu dari kalian, aku tetap akan menikahi Ara". Final Kayhan tegas pada pendirian.
Seem menatap Kayhan dengan tajam. Ingin dia melawan Kayhan dan merebut Ara, tapi apa haknya. Andai saja Seem lebih dulu mengungkapkan perasaan pada Ara, pasti sekarang Ara menjadi miliknya.
Bagaskara tersenyum licik dia sepertinya punya ide cemerlang untuk menyingkirkan gadis mandul itu "Baiklah, kami menyetujui pernikahan mu". Ucap Bagaskara. Semua nya menatap Bagaskara dan terkejut dengan ucapan pria lanjut usia itu.
"Dad". Pekik Bagas, Erna dan Wena bersamaan.
"Dengan satu syarat, setelah menikah kalian tinggal di Mansion ini". Ucap Bagaskara tersenyum miring menatap kearah Ara yang hanya bisa menunduk.
"Dad".
"Biarkan saja Bagas! Biarkan Kayhan bahagia dengan keputusan nya". Potong Bagaskara saat putranya ingin protes.
"Terima kasih Grandfa". Ucap Kayhan yang tidak tahu apa arti dari senyuman Kakeknya.
Yang lain hanya terdiam saja. Seem matanya terus saja menatap pada Ara, bahkan bola mata pria itu tak beralih sedikitpun pada gadis kecil yang berhasil menyembuhkannya dari Gynopobia dan Misoginis.
"Permainan dimulai". Bagaskara tertawa dalam hatinya.
Ara masih menunduk dan tidak berani menatap mereka semua. Apalagi tatapan Seem yang begitu berbeda padanya, Ara tidak tahu jika Kayhan dan Seem adalah saudara karena selama ini dia tidak pernah menanyakan hal pribadi Seem.
**Bersambung.......
Pengalaman pribadi author sendiri pernah ditinggalin karena orangtuanya enggak setuju tentang kondisi tubuh author. Jadi ceritanya Ara ini memang pernah author alami, bedanya mungkin Ara dibela Kayhan tapi author ditinggalin😭😭😭😭😭
tapi pas diajak balik mau lagi, maklum cinta wkwkwkw
Yuk yang penasaran ikuti perjuangan cinta Ara dan Kayhan ya....
Jangan lupa tinggalkan jejak kaki kalian disini.
Salam hangat..
Kayhan ❤️ Kimara**