
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹
Ara menghela nafas berat, ketika putrinya Nara menginginkan kembali ke Indonesia karena sedang mengikuti lomba melukis disana. Berkali-kali Ara mencoba menolak, namun tak tega dengan wajah putrinya yang terlihat sendu.
“Sudah lah Ra tidak apa. Lagian juga Kakak akan membangun beberapa cabang butik disana”. Ucap Shella.
“Aku belum siap Kak”. Sahut Ara. Rasanya seluruh rongga dadanya seperti tak ada angina untuk bernafas “Indonesia terlalu banyak menyimpan kenanangan”. Sambung Ara lagi.
“Kau tidak bisa menghindar Ra. Kapan-kapan kau juga akan kembali kesana. Kasihan putrimu”. Jovan ikut menimpali “Tenanglah, ada kami yang selalu bersamamu. Semua akan baik-baik saja”. Jovan mengenggam tangan Ara berusaha memberi kekuatan pada wanita muda yang sudah memiliki empat anak itu “Kakak juga akan meneruskan perusahaan disana”. Ujar Jovan lagi.
Ara tersenyum hangat “Apa Bagaskara masih akan mencariku Kak. Aku hanya takut dia mencelakai anak-anakku?”. Lirih Ara.
“Tidak akan Ra. Kau tidak perlu khawatir, ada aku yang akan menjaga anak-anakmu, mereka akan aman bersamaku”. Seru Jovan
“Bunda tenang saja, Ado akan turut membantu”. Sambung Aldo juga yang ikut dalam perbincangan mereka. Sedangkan keempat anak Ara sedang mengikuti les tambahan.
“Baiklah. Bagaimana dengan Kak Roger?”. Ara beralih pada Kakaknya.
“Tidak apa-apa sayang. Maaf Kakak tidak bisa ikut kembali kesana, karena kakak sedang focus dengan perusahaan kakak disini”. Ucap Roger tersenyum kearah adiknya “Jangan takut ada Jovan dan Shella yang akan bersama Ara. Jika pekerjaan Kakak sudah selesai Kakak, Kak Nana dan anak-anak akan menyusul”. Sambung Roger.
“Iya Ra benar”. Sambung Joana tersenyum hangat pada adik iparnya ini. Ara adalah adik ipar terbaik yang sangat menyanyangi Joana seperti kakak kandungnya sendiri.
Ara masih menghela nafas berat. Jika Nara menang dalam lomba melukis itu, maka Nara dan dia akan menetap di Indonesia untuk membuka lukisan baru. Tidak ada yang salah dengan kembali ke Indonesia hanya saja Ara belum siap. Indonesia adalah tempat kenanangan dimana banyak sekali hal yang dia alami.
“Baiklah”. Sahut Ara mengalah.
Aldo memeluk Ara dengan sayang “Bunda, tidak sendirian. Ada Ado yang akan menemani Bunda”. Ucap Aldo. Jika saja ada keempat anak Ara sudah pasti mereka akan berdebat menemukan Ara.
Ara tersenyum dan membalas pelukkan Aldo “Terima kasih sayang, sudah mau menemani Bunda”. Ucap Ara tulus.
“Sudah tanggung jawab Ado Bunda”.
Yang lain hanya tersenyum hangat. Dari dulu hubungan Ara dan Aldo selalu hangat. Meski sudah memiliki empat anak, Ara tak pernah membandingkan Aldo dengan keempat anaknya. Bagi Ara Aldo juga putranya dan begitu pun sebaliknya
Jovan dan Roger mempersiapkan kepulangan Ara ke Indonesia. Tak lupa mereka juga menyiapka pengawal bayangan yang akan menjaga Ara dan keempat anaknya kemana pun mereka pergi. Kedatangan Ara pasti akan membuat Indonesia heboh. Wanita yang pernah hilang enam tahun yang lalu kini hadir lagi, tentu akan menjadi topic yang akan diincar oleh media. Namun Jovan dan Roger sudah siaga sebelum hal itu terjadi.
“Sayang, kalian hati-hati ya”. Syaneth memeluk Ara dengan sayang.
“Iya Moe. Moe dan Vader jaga diri baik-baik”. Balas Ara.
Syaneth beralih pada Nara “Hai sayang Oma”. Syaneth berjongkok menyamakan tingginya dengan putri kecil itu
“Iya Oma”.
“Sayang Oma dulu dongggg”.
Cup cup cup cup cup cup
Nara mencium seluruh wajah Syaneth. Wanita yang dianggap Oma itu selalu saja membuat Nara merasa memiliki seorang Nenek.
“Jaga diri baik-baik ya. Nurut sama Mommy jangan nakal. Dan semangat lombanya”. Ucap Syaneth menyemangati.
“Siapppp Oma”. Nara memberi hormat seperti sedang upacara bendera. Mereka terkekeh gemes.
Lalu Syaneth beralih pada ketiga putra Ara yang memiliki wajah sama itu. Bahkan sulit membedakan ketiganya. Apalagi Ara memakaikan baju yang sama pada mereka bertiga.
“Haiii cucu-cucu Oma. Sini peluk Oma dulu”. Syaneth merentangkan tangannya agar ketiga bocah laki-laki itu memeluknya.
Zero dan Zeno masuk kedalam pelukkan Syaneth. Sedangkan Naro hanya diam tanpa ekspresi. Putra sulung Ara ini memang dingin.
“Naro, sini peluk Oma”. Panggil Syaneth. Namun Naro masih saja terdiam ditempatnya.
Naro mendongkrakkan kepalanya dan mengangguk. Lalu dia juga memeluk Syaneth tentunya dengan terpaksa.
Cup cup cup cu cup cup.
Syaneth menciumi wajah putra Ara secara bergantian dengan gemes. Karena putra-putra Ara sungguh tampan dan menggemaskan.
“Oma, jangan cium-cium. Aku bukan anak kecil lagi”. Protes Naro mengelap kedua pipinya bekas ciuman Syaneth.
Syaneth hanya tertawa lucu. Astaga benar-benar menggemaskan sekali. Naro memang tidak suka dicium siapa pun kecuali Mommy-nya Ara. Bahkan pria kecil itu sering bertengkar dengan Aunty Joana-nya yang suka mencium dirinya.
“Moe, Shella pamit. Vader”. Shella memeluk Syaneth dan menyalimi Van Derg
“Iya Nak, kalian hati-hatinya”. Balas Van Derg
“Hati-hati disana, nanti jika ada waktu Moe dan Vader akan mengunjungi kalian”. Ucap Syaneth pada Shella yang sudah dianggap putrinya sendiri.
“Moe, Jovan juga pamit ya. Jangan merindukan putra tampanmu ini”. Jovan memeluk sang Ibu.
Plakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Langsung mendapat pukulan dibahu Jovan. Syaneth memincingkan mata pada putra sulungnya ini. Dia kadang berpikir, apa yang salah dengan putranya, diusia matang belum juga menikah.
“Awww. Moe. Suka sekali KDRT”. Gerutu Jovan mengelus pundaknya.
“Heiii pria tua. Aku tidak butuh gerutuanmu itu. Cepat kau cari istri kesana dan pulang bawa cucu”. Cibir Syaneth malas.
Sedangkan yang lain menahan tawa. Selalu saja Jovan menjadi bahan amukkan sang Ibu. Hanya dia lagi yang belum menikah padahal usianya sudah sangat matang dan juga siap membangun kehidupan rumah tangga.
“Tenang saja Moe. Jovan akan membawakan calon menantu idaman nanti”. Sahut Jovan dengan malasnya. Apa yang salah jika tidak menikah? Memangnya menikah itu harus?
“Awas saja tidak kau bawa. Akan Moe potong burungmu itu, mungkin saja dia sedang tidur makanya tidak bangun-bangun dari pada tidur mending dipotong biar tidur selamanya”. Ancam Syaneth. Jovan bergidik ngeri. Sungguh Ibunya ini jika bicara tidak disaring-saring.
“Moe, ada anak-anak”. Tegur Joana yang juga malas mendengar perdebatan tidak penting kakak dan Ibu nya itu.
Bukannya tersinggung Syaneth malah memutar bola matanya malas. Sedangkan Van Derg menggeleng kepala. Istrinya memang cerewet dan berisik luar biasa. Itulah sebabnya yang membuat Van Derg jatuh hati pada Syaneth karena kedatangan Syaneth dihidupnya membuat dunianya menjadi ramai.
“Vader, Ara pamit ya”. Ara juga memeluk pria yang sudah dianggap Ayahnya itu.
“Iya Nak hati-hati”. Van Derg mengelus punggung Ara.
“Ado, ayo pamitan sama Opa dan Oma”. Suruh Shella pada putranya. Aldo menggeleng tidak mau sifatnya masih saja sam.
“Ado, ayo”. Perintah Ara dengan senyum.
“Iya Bunda”. Yang lain menggeleng kepala. Aldo akan menurut hanya pada Ara, bahkan pada Mami-nya sendiri dia tidak mau.
“Opa, Oma. Ado pamit”. Aldo menyalimi kedua orangtua itu secara berangantian.
“Iya Nak”.
“Iya sayang”. Syaneth mengelus kepala Aldo dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Oma, jangan elus kepala Ado”. Tolak Aldo dia langsung berlindung dibelakang Ara.
Lagi-lagi Shella menghela nafas. Lima tahun tak cukup merubah Aldo, sikapnya masih saja sama ketika dia berusia lima tahun. Itu malah menurun pada putra Ara bernama Naro.
**Bersambung.....
Kayhan ❤️ Kimara**