Love Story' CEO.

Love Story' CEO.
Bab 39. Mulai dari Nol



Tersenyum adalah caraku menutup luka, jika terlihat dipaksakan kuharap jangan ada yang mencibirku, aku hanya tak ingin terlihat lemah dimatamu yang selalu membuatku terasa melemah....


Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹


Roger sarapan sendirian dimeja makan yang dulu biasanya dipenuhi dengan canda dan tawa. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja diperusahaan besar yang bergerak di bidang IT. Ya Roger memang ahli IT, kemampuan pria tampan ini dia miliki sejak kecil namun tak pernah dikembangkan lantaran ketidakmampuannya membeli barang elektronik.


Pria tampan dengan postur tubuh atletis itu akan memulai hidupnya dari nol. Dia berjanji akan membahagiakan adiknya Ara, karena hanya Ara yang dia miliki saat ini. Roger tahu jika keluarga Bagaskara tidak akan bisa menerima kondisi Ara. Roger hanya bersiap-siap jika sampai berani menyentuh dan menyakiti adiknya maka dia takkan memberi ampun pada mereka.


Roger menaiki sepeda motor peninggalan Ayahnya yang biasa dipakai Mey ke sekolah. Roger menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, semangatnya membara untuk memulai hidup baru.


Roger memarkir motornya di parkiran sebuah gedung pencakar langit.


"Hai Roger". Sapa salah satu pria yang baru saja turun dari sebuah mobil sport mewah dengan harga milyaran rupiah.


"Apa kabar Jovan? Terima kasih sudah menerimaku bekerja disini". Mereka berdua bersalaman lalu saling berpelukkan.


"Tidak perlu sungkan, aku adalah sahabatmu". Balas Jovan pada Roger "Ayo masuk, aku akan memberitahukan apa pekerjaan mu". Ajak Jovan.


"Ayo". Mereka berdua berjalan melalui pintu lift, langsung saja kedua pria itu menjadi pusat perhatian para karyawan. Bagaimana tidak? Jovan yang memang blasteran Indonesia-Belanda terlihat sangat gagah dengan setelan jas ditubuhnya. Sedangkan Roger yang mengenakan kemeja berwarna Dongker dengan celana warna hitam, menampilkan tubuh atletis miliknya. Sudah pasti ketampanan kedua pria itu tak perlu diragukan lagi.


"Ini ruanganmu, disana sudah lengkap dengan semua berkas yang akan kau kerjakan". Jelas Jovan saat mereka sudah diruangan yang akan menjadi meja Roger.


"Jadi, aku manager desain?". Tanya Roger tak menyangka.


Jovan mengangguk dengan senyum.


"Terima kasih Jovan". Ucap Roger tulus sambil memperhatikan ruangannya.


"Baiklah, selamat bekerja". Jovan menepuk pundak Roger "Jika butuh apa-apa hubungi saja sekretaris ku". Ucap Jovan berpamitan pada Roger.


Roger meletakkan tas kerjanya, dan duduk dikursi kebesaran yang sekarang akan menjadi kursinya. Roger tak menyangka jika dia bisa diterima sebagai manager di perusahaan milik sahabatnya.


Sebenarnya sudah lama Jovan menawari Roger pekerjaan, hanya saja pria itu menolak dan tidak mau karena menurutnya tidak penting bekerja selagi ada yang memberinya uang.


Tapi setelah banyak kejadian yang menimpanya, sampai kehilangan orangtua dan adiknya membuat Roger sadar akan hidupnya, dan akhir memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan milik Jovan, sahabatnya.


Roger mengerjakan semua dokumen yang tersedia dimeja kerjanya, dia tampak serius dan telaten. Roger sama seperti Ara yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Jika Ara ahli melukis dan menulis, maka Roger ahli IT. Dua Kakak beradik ini memang terkenal memiliki bakat luar biasa sejak mereka duduk dibangku SD. Hanya saja sayang ketika menginjak usia dewasa Roger berubah menjadi pemberontak.


Jam makan siang tiba, Roger membereskan meja kerjanya dan semua pekerjaannya juga selesai.


"Roger". Jovan masuk kedalam ruangan Roger.


"Iya Van?". Tanya Roger mengambil tasnya.


"Makan siang yuk". Ajak Jovan


"Ayo". Mereka berdua keluar dari ruangan Roger.


Para karyawan disana melonggo dan langsung meleleh ketika melihat kedua pria tampan itu berjalan beriringan, benar-benar tampan.


Jovan dan Roger menuju restourant yang tidak jauh dari kantor. Kedua pria itu memesan makanan kesukaan mereka.


"Bagaimana kondisi Ara?". Tanya Jovan, mereka berdua sedang menunggu pesanan datang.


Kening Roger berkerut saat Jovan menanyakan Ara. Karena Roger tak pernah menceritakan tentang Ara pada Jovan.


"Apa suaminya baik padanya?". Bukannya menjawab Jovan malah melanjutkan pertanyaannya.


"Suaminya baik. Aku hanya meragukan Keluarga suaminya". Jelas Roger.


Jovan menatap Roger dengan alis saling bertautan "Maksudmu, keluarga Bagaskara tidak menyetujui pernikahan mereka?". Seru Jovan.


Roger mengangguk "Iya". Sahut Roger singkat.


"Kenapa kau membiarkannya?". Tanya Jovan tak habis pikir.


Roger menghela nafas "Aku tidak mungkin menghalangi kebahagiaan Ara. Dia sangat mencintai Kayhan". Roger menyenderkan punggungnya "Itulah sebabnya aku ingin menjadi orang sukses, dan ketika mereka menyakiti Ara aku bisa membawanya pergi". Ungkap Roger.


Jovan mengangguk "Aku mendukungmu dan aku akan membantumu". Jovan menepuk pundak Roger sambil tersenyum.


"Terima kasih Jovan". Ucap Roger.


Makanan mereka berdua pun datang. Mereka makan dalam diam dan fokus pada makanan masing-masing.


Jovan adalah sahabat SMA Roger, mereka berdua terkenal paling tampan dan juga jenius disekolah nya. Jovan memang anak seorang pengusaha dari Belanda. Ayahnya orang Belanda dan Ibu nya Indonesia, dan Jovan memilih menetap di Indonesia melanjutkan bisnis keluarga nya yang ada disini.


Jovan sangat mengenal keluarga Roger termasuk Ara. Jovan menyukai kecerdasan yang Ara miliki, gadis yang beda usia cukup jauh dengan nya itu memiliki bakat yang luar biasa. Hanya saja sayang keterbatasan ekonomi membuat Ara tidak bisa melanjutkan sekolahnya.


Di Mansion mewah keluarga Bagaskara. Ara membereskan kamarnya dan mencuci bajunya bersama sang suami. Ara tidak ingin orang lain mengurus keperluan suaminya, dan Ara ingin dia sendiri yang turun tangan.


Ara keluar dari kamarnya dan membawa beberapa baju kotor didalam ember.


"Hei, kau". Teriak suara memanggil Ara.


Ara membalikkan badannya dan melihat ada Erna dan Wena yang berjalan kearah Ara.


"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?". Tanya Ara sopan kearah mertuanya.


Erna menatap Ara dengan sinis "Mulai, sekarang tugasmu membersihkan semua Mansiaon ini. Dan ingat harus bersih, satu lagi jangan sampai Kayhan tahu jika kami yang menyuruhmy melakukannya". Tegas Erna menatap Ara jijik. Sungguh selera Kayhan sangat rendahan, gadis yang lebih cocok dijadikan pembantu dari pada dijadikan istri.


Ara terdiam sejenak dan melihat kearah dua wanita didepannya "Baik Nyonya". Sahut Ara sambil membungkukkan badan memberi hormat. Dirinya adalah menantu, tapi dijadikan seperti babu.


"Cepat kerjakan tugasmu". Perintah Wena dengan nada membentak.


Ara mengerjakan semua yang ada di Mansion, para pelayan sengaja diliburkan oleh Erna dan Wena.


Ara meringgis kesakitan dengan memegang perutnya bekas operasi tiga bulan lalu masih saja terasa sakit ketika dia mengangkat benda-benda berat.


"Kau pasti bisa Ra". Ara menyeka air matanya dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


Pekerjaan Ara tidaklah ringan, Mansion semewah dan seluas itu dibersihkan sendiri. Bukan hanya membersihkan Mansion, Ara juga harus memasak untuk seluruh orang yang tinggal di Mansion itu dengan masakkan khas Australia.


**Bersambung........


Hai guys, yuk dukung terus kisah Ara dan Kay.


Salam hangat.


Kayhan ❤️ Kimara**