
setelah selesai berfoto dan hendak pulang ke rumah, Ayah Melliza mengajak Alvi untuk mampir ke rumah mereka "Pa Alvin, jika anda tidak keberatan bagaimana kalau mampir dulu ke rumah kami? saya akan sangat senang jika anda mau" ucap Raka
Alvi merasa bingung jika dia menolak itu seperti sombong dan tidak menghargai ajakan orangtua Melliza tapi jika dia ikut dia merasa sungkan
"iyaa Pa, mari mampir dulu ke rumah kami, sebagai ucapan terimakasih kami kepada Pa Alvin" ucap Icha
"hmm baiklah Pa, Bu" jawab Alvi
Melliza kaget dia tidak menyangka bahwa Alvi akan menerima tawaran kedua orangtuanya
"Ayo Sayang" ucap Raka
"hmm iyaa Pa" jawab Melliza yang akan masuk kedalam mobil bersama kedua orangtuanya
"masa kamu ikut sama Papah Mamah, Pa Alvi kan ga tau rumah kita" ucap Raka
"duh gue bego nih, sampe gagal fokus" ucapnya dalam hati
"eh iyaa hehe" jawab Melliza malu
Melliza pun akhirnya masuk ke dalam mobil Alvi, diperjalanan suasana terasa hening, hanya ada alunan musik yang Alvi putar.
"apa ini masih jauh?" tanya Alvi yang mencoba membuyarkan suasana hening, padahal dia baru saja belum jauh pergi dari kampus Melliza
"sekitar sepuluh menit Pa" jawab Melliza
"ini orang baru juga jalan udah nanya masih jauh, aneh" omel Melliza dalam hati
"lu tuh ya kebiasaan, kan kata gua kalau bukan dikantor ga usah panggil Pa" ucap Alvi
"iyaa lupa vin" jawab Melliza
"gua ga nyangka loh cewe kaya lu bisa jadi mahasiswi terbaik dikampus" ledek Alvi
"kenapa bisa ga nyangka?" tanya Melliza
"lu kan manja kadang lelet lagi hahaa" jawab Alvi
Melliza hanya diam dan tanpa dibuat buat bibirnya cemberut karena ucapan Alvi barusan, dengan raut wajah seperti itu membuat dirinya terlihat sangat gemas dimata Alvi. Alvi pun tanpa sadar kini mencubit pipi Melliza
"aww" rengek Melliza kesakitan
mendengar suara rengekan Melliza membuat Alvi menatapnya dan sambil mengelus pipi Melliza, kini mereka berdua saling pandang untung saja ini ketika lampu lalu lintas berwarna merah
mereka berdua terhanyut dalam tatapan itu dan tanpa disadari wajah mereka semakin dekat seolah Alvi akan mengkiss Melliza
tuuuuttttttt......
suara klakson menyadarkan mereka, keduanya kini kembali duduk tegak melihat ke depan, ternyata lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau
"Yaampun barusan gua deket banget sama Alvi"
"eh tadi dia mau apa ya?" Ucap Melliza dalam hati membuat wajahnya menjadi merah merona
"gila nih kenapa gua sampe ga kontrol ginih? sadar vin! masa lu suka sama sekretaris lu sendiri, apalagia dia yang dulu rese banget sama lu" ucap Alvi dalam hati
"ini masih lurus atau belok?" tanya Alvi
"hah? apa?" ucap Melliza kaget karena dirinya sedang mengingat kejadian tadi
"terus lurus atau belok Melliza Anantasya?" tanya Alvi
"ohh lurus lurus, nanti di depan belok kanan" jawab Melliza
akhirnya Melliza dan Alvi pun sudah sampai dikediaman kedua orangtua Melliza, terlihat rumah yang sangat mewah dan luas serta beberapa mobil mewah terparkir digarasi rumah Melliza
"kenapa Melliza malah pilih kerja jadi sekretaris gua? sedangkan kedua orangtuanya bisa mencukupi kebutuhan dia" ucap Alvi dalam hati yang melihat kemewahan rumah orangtua Melliza
"silahkan masuk Pa Alvin" ajak Raka
Alvi pun masuk ke dalam rumah Melliza, dia kini diajak ke halaman belakang rumah Melliza yang terdapat kolam renang dan juga ikan, Raka sengaja mengajal Alvi kesana agar suasana dapat lebih relax dan tidak canggung lagi
kini mereka duduk didepan kolam ikan tersebut, sedangkan Melliza dan Icha dibantu pelayannya sedang memasak makanan untuk mereka.
Melliza yang memang sedang memasak dapat terlihat jelas oleh Alvi melalui jendela besar yang menjadi pembatas antara dapur dan halaman belakang rumah tersebut.
Alvi tampak terpesona melihat Melliza yang sedang memasak, Melliza hanya menggunakan pakaian casual biasa dan wajah yang tadinya menggunakan riasan kini tampil natural tanpa sentuhan bedak sedikitpun
"ternyata dia nutural gituh malah tambah cantik"
"sitt kenapa gua merhatiin dia terus" gerutu Alvi dalam hati
Raka kini memulai obrolan dengan Alvi agar tidak canggung dan agar dirinya mengetahui perkembangan Melliza di kantornya
"silahkan diminum dulu Pa" tawar Raka
Alvi pun meminum minuman yang telah ditawarkan Raka
"Pa Alvin ini masih muda sudah sukses" Puji Raka
"Saya hanya diberi kepercayaan dari orangtua untuk mengambil alih perusahaan, Saya yakin Bapa dulu sukses lebih muda dari pada Saya, terlihat Bapa sekarang masih muda dan segar" sanjung Alvi sambil tersenyum karena melihat kedua orangtua Melliza yang masih muda bahkan dirinya pun sempat salah paham akan hal itu dulu
Ayah Melliza hanya tersenyum, pasalnya memang benar dia dulu sudah sukses diusia sangat muda walaupun dalam ruanglingkup kota kecil
"waah ternyata Bapa bisnis perkebunan? menarik" tanya Alvi
"iyaa Pa, Saya memiliki bisnis perkebunan dan juga Saya membudidaya ikan" jawab Raka
"wahh pantes saja ada kolam ikan disini hehee, Pa panggil saja Saya Alvi tidak usah memanggil Saya "Pa" itu terlalu formal " ucap Alvi tersenyum karena dirinya merasa tidak enak bagaimana pun walau dirinya atasan Melliza tapi tidak sebaiknya Ayah Melliza memanggil dirinya Pa
"hmm baiklah, ohhiyaa apakah Melliza bekerja dengan baik? maafkan anak Saya jika dia kurang maksimal dalam bekerja" ucap Raka
"Melliza bekerja dengan baik ko Pa" jawab Alvi
Mereka pun terus mengobrol mulai dari obrolan tentang Melliza sampai Alvi yang menanyakan bisnis perkebunan dan perikanan yang dijalani Raka karena dirinya merasa tertarik
"ayoo makan dulu" ucap Icha
Mereka pun akhirnya makan bersama
Setah itu Melliza yang berniat akan menginap mengurungkan niatnya, karena tidak enak jika membiarkan Bossnya itu pergi sendiri
"aku pergi dulu yah Mah Pah, jangan lupa janji kalian" ucap Melliza tersenyum mengingatkan orangtuanya sambil mengedipkan salah satu matanya
"duhh iyaiyaa sayang" jawab sang Ayah sedangkan Ibunya hanya tersenyum
"Terimakasih banyak ya Alvi sudah mau meluangkan waktunya" ucap Raka dan Ica
"iyaa sama sama Pa, Bu" jawab Alvi
merekapun akhirnya pergi bersama menggunakan mobil sport mewah itu
Saat dalam perjalanan Melliza terus menunduk memainkan ponselnya, kini dia sedang mengupdate beberapa foto wisuda dirinya yang bersama keluarga, sahabat dan beberapa bunga serta hadiah yang dia posting di instagram storynya
dalam hatinya dia ingin sekali memposting foto dirinya bersama Alvi tadi, tapi Melliza tak berani karena takut Alvi tidak suka dan takut menjadi bahan gosip orang kantor
kini dia mulai tersenyum melihat banyak sekali komentar positif dan juga ucapan kepada dirinya
"kenapa senyum senyum?" tanya Alvi
"aah ini cuman baca komentar teman teman di instagram" jawab Melliza
"oh" jawab Alvi singkat
"cowo tadi naksir lu ya?" tanya Alvi spontan
"hah tumben banget dia nanya yang kaya gituh?" ucap Melliza dalam hati
"yang mana?" tanya Melliza kembali karena memang banyak lakilaki yang meminta foto kepadanya
"sial kenapa gua pake nanya itu segala? bodoh" ucap Alvi dalam hati
"yang waktu itu ketemu kita di Singapur" jawab Alvi
"ohh Endy" jawab Melliza
yaa memang benar tadi setelah foto bersama Alvi, Melliza berfoto dengan Endy karena Endy memintanya, dia juga tak lupa memberikan ucapan dan sebuah buket bunga pada Melliza, Endy pun tampil sangat keren saat diwisuda tadi, sehingga membuat Alvi tersaingi
"iyaa mungkin itulah namanya" jawab Alvi
"Endy memang pernah menyatakan cintanya tapii.." ucap Melliza terputus karena dilanjutkan oleh Alvi
"Lu nolak dia?" sambung Alvi
"iyaa" jawab Melliza menganggukan kepalanya
"bagus deh" jawab Alvi
"huh?" tanya Melliza bingung kenapa Alvi mengucapkan itu
"ngga" jawab Alvi kini kembali fokus menyetir
"ohh ya orangtua lu selain pembisnis mereka juga Dokter?" tanya Alvi
"hahaa udah banyak sekali yang bilang kaya gituh" ucap Melliza tertawa
Alvi merasa bingung karena Melliza tertawa dan berbicara seperti itu, saat Alvi dirumah Melliza dia melihat beberapa foto orangtua Melliza bersama para dokter didepan sebuah rumah sakit, walaupun memang hanya kedua orangtua Melliza yang tidak menggunakan jas putih identitas Dokter itu
"pasti liat foto foto tadi dirumah ya? hehee. Papah sama Mamah itu bukan Dokter mereka dari dulu bisnis kecil kecilan dari perkebunan dan pertanian sampe akhirnya bisa maju kaya ginih, terus dari keberhasilan itu mereka buat rumah sakit karena keluarga Papah sebagian besar bekerja didunia kesehatan, Papah pengen nyiptain lapangan kerja yang dekat buat sodaranya, yah walaupun rumah sakitnya tidak terlalu besar"
"terus kenapa lu malah kuliah ekonomi? kenapa ga jadi dokter? enakkan udah punya rumah sakit" tanya Alvi
"basic ku bukan disitu, lagiankan tetap mengelola rumah sakit harus pake ilmu manajemen, lagian aku mau mandiri ga mau terus terusan ngandelin Papah sama Mamah makanya aku lebih milih kerja jauh jadi sekretaris" jawab Melliza
"ternyata gua salah nganggep dia cewe manja" ucap Alvi kagum dalam hati
.
.
.
.
hayoo ada yang inget ga nih janji apa yang dimaksud Melliza?
komen dibawah ya!!😉
Jangan bosen buat terus Like Komen dan Vote
karena itu bikin author semangat buat nulis
Love💕💚