
Acara reuni telah berakhir pukul sebelas malam, Alvi pun mengantarkan Melliza menuju apartement nya. Ketika telah sampai, sebelum Melliza keluar Alvi mengucapkan kata terima kasih untuk yang pertama kalinya walau pun tetap dengan raut wajah dingin nya.
"Makasih udah nemenin gua"
"Hmm iyaa"
Tak lupa Melliza pun mengingatkan Bos nya untuk jadwal besok.
"Pak jangan lupa besok ada pertemuan dengan Pak Ben jam delapan pagi, tadi sekretarisnya menghubungi saya dan mengajak anda untuk bermain golf bersama sambil merayakan kerjasama perusahaan"
Alvi menghela nafasnya, bagaimana tidak besok adalah weekend harusnya dia bisa bersantai di rumah setelah hari hari yang lelah tapi dia tetap harus bertemu dengan partner bisnisnya.
Ketika Melliza keluar dari mobilnya, tiba-tiba Alvi mengatakan "Yaudah, besok lu harus udah ada disana sebelum gua datang"
Melliza melihat Alvi dari luar mobil dan berkata "Tapi saya ga bisa ikut"
Seketika Alvi menatap Melliza "Kenapa?"
Besok adalah weekend rasanya Melliza sudah rindu sekali dengan orang tua dan kedua temannya
"Besok saya akan pulang"
Tapi bukan Alvi jika dia tidak bisa memaksa.
"Gua ga mau tau! Pokonya besok lu harus disana sebelum gua datang!!"
Alvi pun pergi meninggalkan Melliza.
Saat akan masuk ke dalam apartemen nya, Melliza merasa sedih karena dirinya besok tidak bisa pulang bertemu dengan Ayah Ibu, dan kedua sahabatnya yaitu Audi dan Salsa.
Melliza kini hanya bisa melakukan videocall dengan mereka, meminta maaf jika dirinya tidak bisa pulang. Tapi untung saja orang tua dan kedua sahabatnya mengerti jika sekarang posisi Melliza sebagai sekretaris pribadi itu pasti akan sangat sibuk sekali.
Dalam panggilan video call Salsa dan Audi memberitahu Melliza jika akan ada acara kampus, perpisahan bersama angkatan mereka yang akan di adakan sabtu depan.
"Syaa tapi lu nanti harus datang ya" ucap Audi kepada Melliza Anantasya.
"Iyaa bener tuh, acaranya sabtu depan pokonya kita ga mau tau lu harus datang!" sambung Salsa kepada Melliza.
"Iyaa gua janji nanti sabtu depan gua balik dan bakalan datang"
Tidur Melliza terganggu karena suara handphone nya terus berbunyi dari tadi, dia menjawab panggilan telponnya itu dengan mata yang masih tertutup karena dirinya merasa pusing dan badannya demam.
"Hall-" dengan suara khas bangun tidur, belum juga dia selesai bicara tapi orang yang menelpon sudah begitu cerewetnya.
"Lu lama banget sih angkat telponnya, lu tau ini jam berapa? Gua kan kemarin nyuruh lu datang sebelum gua, sekarang lu dimana? Dan dimana Pak Ben? Gua ga liat dia"
Melliza melihat jam ternyata sudah pukul delapan pagi.
"Hmm maaf Pak, tapi saya benar-benar tidak bisa datang, saya sedang tidak enak badan, nanti saya akan telpon sekretarisnya"
"Gua tau ini cuman alasan lu kan, bilang aja lu mau balik terus pura-pura sakit. Boss lu ini ga bisa di boongin"
"Pak saya benar-benar ga enak badan" kata Melliza lirih.
"Gua ga mau tau, lu harus datang ke sini sekarang! Kalau dalam waktu satu jam lu belum sampe sini, berarti gua anggap ngundurin diri, dan lu tau kan? Itu artinya lu harus bayar sesuai dengan kontrak"
Telpon pun di matikan begitu saja oleh Alvi, terpaksa Melliza bangun dari tidurnya dan bergegas untuk mandi dan bersiap-siap. Tapi sebelum itu Melliza menghubungi sekretaris Pak Ben, ah ternyata Pak Ben terlambat datang, dengan segera Melliza menghubungi Alvi kembali dan itu membuat Alvi tambah kesal, karena biasanya dia tidak suka untuk menunggu orang lain.
Sebenarnya jika Melliza dipecat bahkan jika harus membayar uang denda karena mengundurkan diripun, dia masih mampu membayarnya karena dia memiliki orangtua yany kaya. Tapi Melliza benar-benar ingin memulai karirnya sendiri tanpa bantuan kedua orangtuanya.
Tiga puluh menit kemudian Melliza telah siap, namun badannya cukup lemas dan kepalanya sedikit pusing, hingga dia memutuskan untuk memesan taksi online karena takut terjadi sesuatu jika dirinya mengemudi sendiri. Melliza keluar dengan wajah sedikit pucat dan memasuki taksi online yang telah di pesannya.
.
.
.
.
.
Melliza ketika menemui Alvi.