
Disaat perjalanan Melliza terus menatap keluar memandangi jalanan yang sore itu tampak sedikit lengang.
Ntah kenapa hatinya merasa resah saat tadi bertemu dengan Calista. Melliza sebagai perempuan mengerti jika tatapan dan tingkah Calista kepada Alvi itu seperti sebuah ketertarikan, bukan hanya Melliza mungkin semua orang pun akan berpikir begitu jika melihat tingkah Calista tadi kepada Alvi.
Sementara Alvi merasakan jika kekasihnya itu masih marah padanya. Karena tidak biasanya Melliza terdiam seperti itu, walaupun jika tidak ada hal yang perlu dibicarakan setidaknya Melliza tidak pernah memalingkan pandangan darinya.
"Yangg masih marah?" tanya Alvi.
"Engga" ucap Melliza tetap tak menoleh padanya.
Alvi pun langsung memegang tangan Melliza dan meletakkan di dadanya.
"Aku sama Calista itu dulu cuman teman biasa ko, dia bukan mantan aku. Kamu jangan khawatir aku ga bakalan tergoda sama dia, lagian aku kan udah punya kamu. Kita juga udah tunangan dan bentar lagi nikah" ucap Alvi yang kemudian mencium punggung tangan Melliza.
Melliza hanya diam tak membalas perkataan Alvi.
"Syaa, jangan diamin aku gituh dong" ucap Alvi memohon.
"Iya... Bukannya aku mengekang kamu, tapi aku merasa dia itu suka sama kamu, aku ga suka kamu dekat-dekat dia" ucap Melliza mengungkapkan isi hatinya.
"Iyaiyaa sayang tenang aja, aku sama dia cuman partner bisnis aja ga akan lebih" jawab Alvi menatapnya.
Tak lama mereka pun sampai di tempat tujuan. Ternyata sesampainya disana, sudah ada seseorang yang menunggu mereka. Keduanya mulai memilih beberapa desain baju pengantin yang telah direkomendasikan oleh desainer ternama itu.
Setelah dua jam berada disana akhirnya Alvi mengantarkan Melliza ke appartementnya. Karena merasa lelah dan sudah lama tidak berkunjung ke dalam appartement kekasihnya, Alvi pun memutuskan untuk mampir terlebih dahulu. Paling tidak untuk merebahkan tubuhnya agar tidak terlalu sakit akibat aktivitas hari ini.
Alvi sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Melliza yang melihat itu tau jika Alvi mungkin merasa lelah, dilihatnya jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Melliza pun pergi ke dapur untuk memasak karena mereka belum makan malam.
Sebenarnya sebelum pulang Alvi mengajaknya untuk makan malam diluar tapi Melliza menolak karena dia ingin sekali cepat sampai di appartementnya lagian tadi dirinya belum merasa lapar.
Saat memasak Melliza merasa ada yang meniup kupingnya dari belakang lalu tak lama ada sebuah tangan yang memeluknya dari belakang. Itu adalah Alvi, dia menghampiri Melliza karena mencium aroma lezat yang muncul dari masakan yang dibuat kekasihnya.
"Ih kamu ini bikin aku kaget tau ga" ucap Melliza kesal.
"Sana gih rebahan lagi, nanti aku panggil kamu kalau udah matang" ucap Melliza.
"Pengen cepat sah deh, ga sabar dimasakin tiap hari sama kamu" ucap Alvi kembali memeluk tubuh Melliza dari belakang dan membuat Melliza tersipu malu.
"Oh jadi nikah sama aku cuman karena pengen di masakin aja?" ucap Melliza.
"Engga dong, aku nikah ya karena cinta sama kamu" ucap Alvi mencium pipi Melliza.
"Hmm masa? Yaudah tunggu disana gih" ucap Melliza mengusir agar Alvi kembali ke sofa, karena jika Alvi terus berada disana akan sangat lama bagi Melliza untuk menyelesaikan masakannya.
Alvi pun melepaskan pelukannya dan kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Sedangkan Melliza kembali fokus pada masakan yang dibuatnya.
Setelah semua masakannya matang, Melliza langsung menatanya di atas meja makan. Lalu dia tak lupa memanggil tunangannya.
"Ayo makan sayang" ucap Melliza.
Alvi pun menuju Melliza yang berada di meja makan lalu dia pun duduk. Seperti pasangan yang sudah menikah saja, Melliza memasakan makanan lalu mengambilkan makanan tersebut juga untuk Alvi.
"Enak banget Yangg" ucap Alvi sambil mengunyah makanannya.
"Serius nih?" tanya Melliza tak percaya.
"Serius, makannya makan tuh jangan ngeliatin aku mulu. Aku tau ko aku tampan" ucap Alvi genit karena memang sedari tadi Melliza belum menyentuh makanannya.
"Ish pede banget, aku itu nungguin respon kamu takutnya ga enak" ucap Melliza lalu memakan makanannya.
Alvi pun tersenyum melihat wajah kesal Melliza karena tingkah dirinya yang kepedean. Mereka pun melanjutkan makan malamnya. Pukul setengah sembilan akhirnya Alvi pun pulang dari appartement Melliza.
.
Aku ga akan bosan nih buat minta dukungan kalian dengan like dan vote sebanyak-banyaknya. Terima kasih💕