
Alvi merasakan pegal pada tubuhnya karena saat ini Melliza masih berada diatas pangkuannya, bahkan wanita hamil itu kini malah tertidur. "Duh istri gue lagi hamil auranya tambah cantik, makin gemes juga kalau sikapnya terus manja kaya ginih" gumam Alvi sambil memperhatikan wajah pulas istrinya.
Perlahan Alvi pun menggendong Melliza untuk dia bawa ke dalama kamar pribadi yang berada di ruangannya. Dia tarik selimut sampai menutupi bagian dada istrinya, lalu dia kembali mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.
Tiga puluh menit kemudian Melliza terbangun dari tidurnya, dia merasa kesal karena Alvi malah memindahkannya ke tempat tidur, sedangkan perempuan itu ingin tertidur diatas pangkuan Alvi karena merasa nyaman.
Melliza keluar dari kamar itu dengan wajah cemberut. "Sayang kamu kenapa sih pindahin aku? Kan aku tuh pengen tidur dipangkuan kamu, meluk kamu" ucap Melliza diambang pintu kamar, tidak memperhatikan jika didepan suaminya sedang ada orang lain.
Laki-laki yang kini sedang bersama Alvi merasa malu ketika mendengar perkataan dari istri bos nya itu. Laki-laki itu adalah Beno, dia hanya bisa tersenyum dan membungkukkan badannya saat melihat Melliza.
Melliza seketika kembali ke dalam kamar dan langsung menutup pintu ketika menyadari ada orang lain yang sedang bersama suaminya, sungguh demi apapun dia merasa malu bertingkah manja di depan orang lain seperti itu.
"Duh ini mulut kenapa ga kontrol banget sih, kan jadi malu. Tadi siapa lagi? Ditaro dimana coba muka kamu Syaa" ucapnya malu sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri.
Sementar kini Alvi sudah membaca berkas yang di berikan Beno dan juga sudah memberikan tanda tangan di atas dokumen tersebut. "Maaf tadi istri saya, maklum ya dia lagi hamil" ucap Alvi tersenyum.
"Tidak apa-apa Pak, kalau begitu saya permisi" pamit Beno meninggalkan ruangan Alvi.
Kemudian Alvi menghampiri Melliza yang masih berada di dalam kamar, dia buka pintu itu dan kini Melliza sedang duduk di tepi ranjang. "Ko kamu udah bangun sih sayang?" tanya Alvi duduk disamping istrinya.
"Tadi siapa? Kenapa ga bilang kalau ada orang ih" tanya Melliza tanpa memperdulikan pertanyaan Alvi.
"Aku kan ga tau kamu udah bangun. Dia Beno sekretaris baru aku" jawabnya.
"Sutt, kamu ga perlu malu sayang. Tenang aja dia bisa di percaya ko, lagian wajar sayang kalau wanita hamil bersikap kaya gituh. Bahkan aku suka dan sangat bersyukur kalau kamu bersikap manja ke aku, kata Johan bahkan ada wanita hamil yang ga mau deket sama suaminya. Kalau kamu gituh bisa-bisa aku prustasi" ucap Alvi memeluk tubuh istrinya.
"Ohya emang ada?" tanya Melliza.
"Iya ada, kata Johan dulu istrinya pas lagi hamil muda sempat ga mau dekat-dekat sama dia. Kan kasian ya" ucapnya sambil tertawa.
Alvi semenjak mengetahui kehamilan Melliza, dia lebih sering bertukar cerita dengan Johan yang telah berpengalaman dibanding dirinya dan juga Andre.
"Tapi sih kadang aku juga suka merasa sebel, kesel gituh kalau dekat sama kamu" ucap Melliza manatap suaminya.
Alvi menatap kembali Melliza, dia terkejut dengan jawaban istrinya. "Kamu serius?" tanyanya dan diangguki oleh Melliza.
"Tapi ya lebih sering pengen dekat sama kamu terus sih" ucap Melliza yang membuat Alvi tersenyum lega.
***
Jangan lupa di like, komen, vote dan kasih rate bintang lima.
Terimakasih💚💚💚