I Love You My Boss

I Love You My Boss
ILYMYB Episode 170



Kini Melliza semakin kesal ketika suaminya sudah di tatap lapar para mamah muda komplek. Memang mereka tidak jadi pulang karena Melliza ingin mencicipi nasi uduk yang dijual di komplek itu.


Namun dia tidak menyangka jika suaminya akan di puji dan menjadi sorotan mamah muda disana. Dia hanya bisa mendesis kesal ketika Alvi malah tersenyum dan membalas pertanyaan mereka. "Ternyata Mas Alvi tinggal disini ya? Saya ga pernah liat Mas selama ini." ucap salah satu dari mereka yang merupakan istri rekan bisnisnya.


"Saya dan istri memang jarang keluar Bu." ucap Alvi.


"Oh pantesan. Nanti sering-sering ya Mas keluar, olahraga di taman ginih." ucapnya dengan nada manja.


"Iya Bu, diusahakan." jawah Alvi tersenyum ramah.


"Bu, yang tadi di bungkus aja ya." ucap Melliza pada penjual.


"Loh kenapa di bungkus sayang? Kan katanya mau makan disini?." tanya Alvi bingung karena memang sebelumnya Melliza ingin makan di tempat itu langsung.


"Ga jadi deh, aku mual disini." ucapnya bohong, dan dengan nada bicara ketus. Padahal selama ini Melliza sudah jarang merasa mual, bahkan sudah tidak lagi.


"Iya mual, mual liat tatapan genit ibu-ibu ke kamu." ucap Melliza dalam hati.


"Yah Mbak, padahal makan disini aja. Biar kita bisa ngobrol lebih lama, kan jarang-jarang liat Mas Alvi yang ganteng ini. Ya, ga, Bu?." tanyanya yang disetujui oleh temannya yang lain.


Melliza hanya diam dan hanya membalasnya dengan senyuman. "Lain kali ya Bu, maklum istri saya lagi hamil. Masih suka ngerasain mual." jawab Alvi tersenyum manis karena tidak enak pada mereka.


"Ih kenapa sih harus pake senyum manis gituh di depan mereka, ga liat apa mata ibu-ibu mau keluar gituh." ucapnya kesal pada Alvi dalam hati.


Tingkat ketampanan Alvi memang meningkat ketika dia hanya menggunakan kaos hitam dan jogger pants serta tak lupa sepatu putih. Membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona, suami Melliza ini bahkan terlihat seperti anak remaja.


"Ini Mbak." ucap ibu penjual memberikan pesanan Melliza.


Kemudian Alvi pun membayarnya dan berpamitan pada ibu-ibu yang tadi menyapanya. "Saya permisi dulu ya, Bu." ucapnya tersenyum sedangkan Melliza tak peduli, dia berjalan meninggalkan suaminya yang masih dibelakang.


"Kamu kenapa sayang? Ko ketus gituh? Ga boleh gituh dong sama mereka, kan tetangga." ucap Alvi yang tidak suka dengan sikap ketus istrinya.


"Kamu tuh yang kenapa? Genit, seneng gituh huh di puji-puji sama ibu komplek? Pake senyum-senyum lagi." jawabnya cemberut.


"Bukan gituh sayang, aku kan cuman ga enak sama mereka." jawab Alvi jujur.


"Alah bilang aja kamu suka kan digituin sama mereka?."


"Syaaa." ucap Alvi memegang tangan istrinya hingga kini Melliza menatap kearahnya.


"Apa?." tanyanya datar.


"Ga usah cemburu gituh ah." ucap Alvi tersenyum ketika melihat wajah istrinya cemberut membuatnya terlihat menggemaskan.


"Siapa? Aku cemburu? Enggalah." elaknya sambil tertawa remeh.


"Gengsi amat sih bilang iya aja." ucap Alvi terkekeh geli.


"Iya aku cemburu. Puas? Aku ga suka ya kamu di puji-puji gituh." ucapnya kesal.


"Ya ampun, masa cemburu sama ibu-ibu komplek sih sayang." ucapnya heran.


"Gimana ga cemburu kalau ibu kompleknya masih muda dan seksi kaya mereka tadi? Kamu ga tau apa sedari tadi pas kita baru datang di taman sampai detik ini aja kamu tuh jadi perhatian cewek-cewek." ucap Melliza kesal yang kini berjalan meninggalkan Alvi.


"Iya ganteng, tapi ga usah kecentilan juga." jawabnya yang kembali berjalan terburu-buru.


"Kecentilan apa sih Sya? Aku kan cuman senyum karena ibu-ibu nya nyapa. Masa aku salah?." ucap Alvi yang kini ditatap Mellliza.


"Salah, kamu tuh salah banget. Harusnya jawab aja ga usah pake ngeluarin senyum manis segala."


"Iyaa maaf sayang. Ga lagi deh." ucap Alvi meyakinkannya.


"Udah dong jangan marah, bilang nak ke Momy kalian jangan ngambek lagi sama Daddy." ucap Alvi sambil mengusap perut buncit istrinya.


"Duh manis banget deh, berapa bulan istrinya Mas?." tanya ibu-ibu yang kini sedang melihat mereka.


"Baru lima bulan Bu." jawab Alvi datar tidak tersenyum karena takut istrinya marah.


"Wah ko besar banget ya. kirain udah waktunya lahiran Mas." jawab ibu tersebut.


"Istri saya hamil anak kembar Bu, jadi lebih besar dari wanita hamil biasa." jawabnya.


"Selamat kalau gituh ya, pasti nanti wajah anaknya ganteng kaya Mas Alvi deh." ucap Ibu tersebut sambil tersenyum pada Alvi, dan sialnya bibir Alvi pun ikut tersenyum, hingga kini wajah Melliza sudah kembali kesal.


"Kamu tuh ya, baru aja bilang ga akan senyum. Tapi barusan aja malah gituh lagi, genit banget sih kamu, udah mau jadi bapak aja masih tebar pesona." kesalnya ketika ibu-ibu tadi sudah pergi meninggalkan mereka.


"Ya maaf sayang, aku tuh beneran ga enak. Nanti di bilang sombong gimana?."


"Tau deh, terserah kamu lah. Sana balik lagi ke taman, samperin tuh ibu-ibu ajak arisan sekalian." ucapnya ketus.


"Jangan marah dong please. Nanti aku beliin yang kamu mau deh sayang." bujuknya dan ternyata mempan pada Melliza.


"Serius nih?." tanyanya yang diangguki oleh Alvi.


"Kalau gituh, aku mau tas Gucci series terbaru. Aku mau itu secepatnya." jawab Melliza.


"Ko tas lagi sih?." tanya Alvi.


"Kan tadi bilangnya yang aku mau. Ya aku mau itu, itu juga bukan cuman mau aku ko. Mau mereka juga." ucapnya mengusap perut buncitnya.


"Ngawur, mana mungkin anak aku mau kaya gituh. Ngerti juga engga." ucapnya.


"Yang lain aja deh sayang, kan tas kamu udah ada banyak. Ga mungkin di pake semua barengan juga kan." ucap Alvi.


"Yaudah kalau ga mau beliin, ga usah nawarin mau apa." ucapnya berjalan meninggalkan Alvi.


"Iya iya aku beliin sayangku." ucap Alvi mengalah.


Melliza sangat senang ketika Alvi mengalah seperti ini, semenjak hamil memang suaminya itu sering mengalah kepadanya. Ingin rasa nya Melliza terus hamil agar Alvi seperti ini terus, ah tapi tidak deh. Membayangkan nanti proses lahiran saja dia takut.


****


Jangan lupa ya di like, komen, dan vote.


Terimakasih💚💚💚