
Halloooo......
Mana nih yang nungguin kelanjutannya? Ditekan dong tombol jempolnya👍
Sorry yaa gengs aku telat up. Udah tau kan alasannya kenapa? Biasa kemarin ga sempet up karena aku nugus dulu gengs. Duhh ko jadi curhat ya:( Monmaaf🙏
Mau ngingetin kalian semua nih, jangan bosen yaa 😊
Aku minta bantuannya untuk terus Like setiap Episode biar jumlah likenya sama gengs, terus komen juga, dan yang yang paling penting tolong di vote pakai POIN ya.
Terimakasih, semoga kalian sehat selalu💛
Selamat Membaca✨
****
Pagi ini Melliza begitu semangat pergi ke kantor tapi di satu sisi dia pun begitu sedih. Hari ini adalah hari terakhir dia bekerja, sebenarnya Melliza sudah merasa nyaman bekerja disini. Pasti dia akan sangat merindukan kesibukannya menemani Alvi pergi meeting kemana pun, dia juga pasti rindu dengan Tania dan tentunya masih banyak hal yang akan Melliza rindukan lagi jika dia telah tidak bekerja di perusahaan ini.
Seandainya peraturan perusahaan mengizinkan suami istri bekerja dalam satu kantor, pasti Melliza sangat senang. Ah tapi sudahlah walaupun memang peraturan itu tidak ada tetap saja Alvi pasti melarangnya bekerja.
"Sudahlah Melliza, nikmati saja menjadi Nyonya Alvin Sanjaya! Kamu cukup menjadi istri yang baik" ucapnya dalam hati sambil memasuki lift untuk menuju ruangan kerjanya.
Baru saja pintu lift terbuka ponsel Melliza berbunyi dan ternyata itu adalah pesan dari calon mertuanya, Mitha. Langsung saja Melliza mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya sambil berjalan menuju ruangan kerjanya.
"Hallo, Selamat pagi Syaaa" sapa Mitha disebrang saja.
"Selamat pagi juga Tante" jawab Melliza.
"Ish ko masih manggil Tante sih? Mamah Syaa, Mamah" ucap perempuan itu dengan penekanan diujung kalimatnya.
"Hmm iyaa Mah, maaf." jawab Melliza.
"Nah begitu dong. Kamu bisa ga Sya nanti sebelum jam makan siang ke rumah Mamah?" tanya Mitha.
"Sepertinya bisa Mah, karena Melliza ga ada jadwal keluar meeting sama Alvi"
"Oke Mamah tunggu ya dirumah, ajak Alvi juga sayang" perintah Mitha calon mertua Melliza.
"Oke baik Mah" jawabnya.
Setelah itu panggilan telpon pun di akhiri dan Melliza kini bersiap bekerja dengan mulai menyalakan komputernya. Melliza sangat penasaran sekali mengapa calon mertuanya itu menyuruhnya datang ke rumah, bersama Alvi lagi. Karena biasanya Mitha menelpon Melliza selalu untuk menemaninya shopping atau sekedar mempersiapkan keperluan pernikahan mereka.
Apa mungkin calon mertuanya itu akan memberikan wejangan untuk Melliza dan Alvi sebelum Melliza melakukan pingitan. Pingitan adalah sebuah tradisi yang dilakukan saat akan melangsungkan pernikahan, dimana biasanya calon pengantin perempuan dilarang bertemu dengan calon pengantin laki-laki selama waktu yang telah ditentukan.
"Kemana dia? Tadi bilangnya lagi dijalan ko masih belum sampai" gumam Melliza saat teringat jika tadi dia tidak melihat mobil Alvi.
Panjang umur sekali Alvi, baru saja Melliza bergumam tentangnya sekarang orang tersebut sudah berada di depannya dengan memasang senyuman tampan.
"Morning calon istri"
Goda Alvi sambil mencium pipi Melliza. Sial, padahal sudah sering dia mendengar Alvi memanggilnya 'calon istri' tapi kenapa selalu saja panggilan itu membuat kedua pipinya merah merona.
"Ish apaan sih, main cium aja. Ini tuh kantor Alvin!" kesal Melliza.
"Emang kantor sayang, siapa yang bilang ini taman kanak-kanak huh?" goda Alvi dengan memasang wajah datarnya.
"Ga lucu" kesalnya.
"Aku ga ngelucu sayang. Tapi ada yang lebih lucu, ngeliatin pipi kamu yang merah kalau malu" ucapnya tersenyum sambil mencolek dagu Melliza dan berlari pergi menuju ruang kerjanya.
"Ish menyebalkan" ucap Melliza berdecak kesal.
***
Saat ini mereka sudah berada di rumah kedua orang tua Alvi. Saat tiba disana Melliza langsung disapa hangat oleh calon mertuanya, jika seperti ini Melliza benar-benar merasa menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia. Sudah mendapatkan pria tampan, pintar, kaya dan satu lagi yang paling Melliza syukuri mendapatkan calon mertua yang begitu baik dan menyayanginya.
Karena sudah jamnya makan siang, Mitha pun mengajak mereka untuk makan bersama. Di meja makan beberapa kali calon mertuanya menanyakan perihal kesiapan mereka berdua menjelang pernikahan. Dengan jujur keduanya mengakui jika saat ini mereka sama-sama merasa gugup.
Alvi pun mengeluh pada Ibunya tentang pingitan yang akan dilakukan oleh Melliza, rasanya dia berat sekali jika selama satu minggu tidak bertemu dengan kekasih hatinya, apalagi jarak mereka yang jauh membuatnya prustasi.
"Alvin, kalau Melliza berada disini namanya bukan dipingit. Yang ada kamu bakalan diam-diam nemuin Melliza" ucap Mitha.
"Ada-ada kamu Vin" ucap sang Ayah.
Sedangkan Melliza yang mendengarkan itu hanya tersenyum tak habis pikir dengan ucapan Alvi.
"Syaa, nanti setelah makan kamu ikut mamah ya ke kamar" ucap Mitha.
"Iyaa Mah" jawab Melliza dengan mengangguk.
Seperti yang dibilang tadi, setelah selesai makan Melliza mengikuti Mitha menuju kamar pribadinya. Ini adalah pertama kalinya dia memasuki ruangan pribadi calon mertuanya, suatu kehormatan bisa melihat betapa luas dan megahnya kamar milik orang tua Alvi.
Setelah berada didalam kamar Mitha mengajak Melliza menuju walk in closetnya. Sungguh sangat besar sekali, barang-barang sangat tertata rapih dan terlihat semua barang yang ada disana pasti mahal.
"Duduk sini Sayang" ucap Mitha menyuruh Melliza duduk di sofa yang ada disana.
Melliza pun duduk di sofa sesuai perintah calon mertuanya. Sedangkan Mitha sekarang berjalan menuju sebuah laci yang ada disana. Tampak wanita paruh baya yang tetap stylish itu kini berjalan dengan membawa sebuah kotak menghampiri Melliza.
"Kamu nanti pakai ini yaa Sya" ucapnya sembari membuka kotak yang berada ditangannya. Melliza begitu terkejut ketika melihat isi kotak tersebut merupakan satu set berlian yang sangat indah dan dapat dia yakini bahwa harganya sangat mahal.
"T--tapi itu " ucap Melliza terpotong.
"Ga ada tapi-tapian, Mamah yakin kamu bisa jaga ini. Ini adalah perhiasan kesayangan Mamah. Dulu susah banget dapat ini dan Mamah sudah berniat akan memberikan ini untuk calon istri anak Mamah, oleh karena itu Mamah kasih ini ke kamu. Mamah mau kamu pakai ini pas nanti pernikahan ya?" ucapnya.
"Mah beneran ini? Apa ini g-gaa?" tolaknya terpotong.
"Beneran. Udah pokoknya ini buat kamu, anggap saja itu kado sebelum pernikahan dari Mamah" ucap Mitha.
Dengan paksaan dari Mitha, Melliza pun menerima satu set berlian yang sangat indah itu. Sejujurnya dia merasa sedikit tidak nyaman karena calon mertuanya itu selalu memberikan hadiah-hadiah yang sangat mewah. Bukannya tidak senang, hanya saja Melliza tidak ingin dianggap sebagai perempuan yang materialistis oleh orang lain.
Mereka pun akhirnya kembali menghampiri kedua pria yang kini sedang mengobrol di ruang tamu. Setelah itu Melliza pun kembali ke kantor bersama Alvi. Di dalam perjalanan, Melliza pun menceritakan tentang dirinya yang diberikan satu set berlian oleh ibu dari calon suaminya itu, dia pun mengadukan ketidak nyamanan dirinya karena selalu mendapatkan barang-barang mahal dari Mitha.
"Sudah sayang jangan memikirkan perkataan orang. Lagian Mamah yang ngasih, kamu ga minta" ucap Alvi mencoba menenangkan dan dibalas deheman oleh Melliza.
Ucapan Alvi memang ada benarnya karena selama ini dia tidak pernah meminta apapun. Hanya saja Melliza suka begelut dengan pemikirannya sendiri, takut jika orang kantor bergunjing seperti dulu lagi yang mengatakan dirinya hanya menginginkan harta Alvi saja.
****
Setelah pulang kerja kini mereka tidak langsung kembali ke rumah, tapi para pegawai yang berada dalam satu lantai dengan Melliza itu kini berkumpul di salah satu restoran korea yang berada di dekat kantor.
Awalnya suasana disana menyenangkan karena sudah lama sekali rasanya tidak berkumpul santai, tapi saat diujung acara suasana menjadi begitu haru karena mulai besok sosok wanita cantik yang selalu mengekori Alvi itu tak akan tampak lagi di kantor.
Beberapa karyawan disana pun mengucapkan rasa terima kasih mereka karena selama ini Melliza telah membantunya. Begitupun dengan Alvi sang Boss sekaligus calon suami Melliza pun memberikan sepatah dua patah kata untuknya.
"Terimakasih banyak Melliza selama ini telah mejalankan tugas sekretaris dengan baik. Untuk yang akan datang selamat menjalankan tugas menjadi seorang istri" ucap Alvi menatap kearah Melliza.
Para karyawan perempuan yang ada disana bersorak gembira terkejut dengan perkataan Alvi, mereka benar-benar iri kepada Melliza, bagaimana bisa Melliza yang tadinya seorang anak magang sebentar lagi akan menjadi seorang istri CEO. Sungguh Melliza sangat beruntung.
.
.
.
.
Udah segitu dulu yaaa, tahan tahan dulu nanti juga nikah ko😜
Mungkin setelah eps ini mereka nikah, mungkin yaa..Bisa juga eps selanjutnya.
Jadi tunggu terus aja kelanjutannya ...
Mau ngingetin lagi nih takut kalian lupa hihii
Di Like, Komen, di Vote pakai Poin yang banyakkk.
Tengkyuuuu gengs💛💛💛💛