I Love You My Boss

I Love You My Boss
Izin Orang Tua



Setelah pulang kini Audi dan Salsa telah tertidur lelap. Sedangkan Melliza, entah kenapa dia belum juga bisa tertidur. Dia terus melihat handphone membuka media sosial instagramnya. Melliza menambahkan beberapa foto bersama kedua sahabatnya di akun instagram.


Namun ketika dia akan tidur, tiba tiba ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Siapa lagi kalau bukan Alvi? Ntah kenapa setelah bertemu Alvi satu hari yang lalu, dikepalanya kembali terbayang Alvi. Namun ini bukan perasaan suka tapi perasaan kesal tak menerima perlakuan yang diberikan Alvi kepadanya.


"Ya Tuhan, kenapa sih bisa bisanya kepikiran dia lagi? Udah tau tuh cowo songong, belagu, so kaya, sebel gua! bisa bisanya dia kaya gituh?" gumamnya dalam hati sambil mencoba menutup kedua matanya karena Melliza mulai mengantuk.


Cahaya matahari membangunkan mereka bertiga lewat celah jendela kamar, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Mereka pun mulai mengemas barang barangnya, mandi dan bersiap siap.


Sebelum pergi mereka menikmati sarapan yang telah dibuatkan oleh Bi Asih.


"Neng mari sarapan dulu, Bibi sudah siapkan dibawah"


Salsa tak menjawab karena dia masih berada dikamar mandi, sedangkan Audi dia berada di balkon asik telponan dengan Reno kekasihnya


"Ohhiyaa Bi makasih, nanti kita ke bawah" jawab Melliza.


Saat sudah siap akhirnya merekapun turun ke bawah untuk sarapan sambil membawa tas masing masing.


Tak lama hanya butuh waktu dua puluh menit akhirnya merekapun selesai sarapan, dan hendak berpamitan kepada pasangan suami istri itu yang tak lain Bi Asih dan Mang Udin.


"Bi, Mang makasih yaa. Maaf udah ngerepotin kalian" ucap Melliza sambil bersalaman.


"Sama sama Neng, Neng Melliza sama Neng Audi sering sering ke sini yaa, biar Neng Salsa jadi sering kesini juga" ucap Bi Asih.


"Iyaa bener, Neng Salsa itu sekarang jarang ikut ke villa sama Ibu Bapa" ucap Mang Udin membenarkan perkataan Bi Asih.


Salsa hanya tersenyum, pasalnya memang selama ini dia jarang ke villanya karena kesibukan kuliah.


"Pasti Bi, Mang. Nanti kita minta Salsa buat main lagi ke sini" ucap Audi sambil bersalaman.


"Yaudah makasih ya Bi, Mang. Salsa nanti bakalan sering sering ke sini ko. Kita pamit dulu yaa" ucap Salsa.


"Iyaa hati hati ya Neng"


"Salam buat Ibu dan Bapa"


Merekapun meninggalkan villa milik Salsa.


Melliza pun melajukan mobilnya. Sesuai dengan apa yang dia katakan semalam, mereka pun pergi ke tempat semalam. Disana, Melliza, Salsa, dan Audi berfoto foto. Ntah berapa ratus foto yang telah mereka abadikan dengan kameranya. Setelah puas akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.


Empat hari setelah pulang dari puncak tiba tiba ada nomor telpon baru yang menghubungi Melliza. Ternyata itu dari Perusahaan tempat Melliza melamar pekerjaan. Begitu terkejut Melliza saat orang yang sedang berbicara di panggilan telpon itu memberitaunya, jika dia diminta datang untuk melakukan Interview pekerjaan secara langsung di PT. Sanjaya Sentosa Land.


Walaupun dirinya belum 100% diterima di perusahaan itu, tapi Melliza tetap merasa senang. Namun tiba tiba Melliza ingat akan suatu hal bahwa dirinya belum memberitahu kedua orangtua, jika dia telah melamar pekerjaan. Dengan segala ke khawatiran akhirnya ketika makan malam Melliza pun memberanikan diri untuk berbicara kepada orang tuanya.


"Pah, Mah. Ada yang mau aku omongin" ucapnya dengan wajah gugup.


"Apa sayang? Ko serius gituh?" tanya Raka takut anak nya kenapa-kenapa.


"Iyaa nihh, Mamah jadi takut kamu kenapa kenapa"


"Aku baik baik aja ko Mah. Cuman aku mau minta izin ke Mamah sama Papah"


"Izin apaan Sayang? Jangan bilang kamu mau nikah" goda Ibunya.


"Ihh Mamah apaan sih, cowo aja ga punya" ucap Melliza kesal.


"Anak Mamah ini cantik, tapi sayang ga laku" ledek Ibunya tersenyum.


Sedangkan Raka yang melihat sang Istri yang sedang menggoda anaknya hanya tersenyum melihat kedua wanita yang ia sayangi itu.


"Udah Mah, kasian anak Papah. Emang mau minta izin apa sayang?"


"Pah, Mah, jadi sebenarnya aku udah ngelamar pekerjaan di kota B, salah satu perusahaan real estate terbesar di Indonesia, dan hari Senin aku disuruh datang buat interview, boleh kan?"


Icha Ibu Melliza yang melihat sang Suami terdiam, dengan segara memberikan kode "Anggukan" kepada Raka agar dia mengizinkan sang putri semata wayangnya itu.


"Yaudah Papah izinkan sayang, tapi sebenarnya Papah ingin kamu mengelola rumah sakit kita, ataupun bisnis Papah yang lainnya"


"Maaf Pah, Melliza bukannya ga mau. Melliza cuman pengen mandiri, ga mau terus terusan dibantu sama Papah ataupun Mamah. Melliza pengen sukses dengan usaha Melliza sendiri" ucapnya sambil memasang muka melas.


"Iyaa sayang, Papah ngerti ko. Tapi suatu saat nanti mau tidak mau, kamu harus menggantikan Papah ketika Papah sudah tua. Bagaimana pun kamu anak kita satu satunya harapan kita"


"Iyaa Pah, Melliza ngerti. Hanya untuk saat ini Melliza belum siap" Melliza memasang muka melas, karena ia tau sang Ayah sedang membujuknya untuk mengelola perusahaan keluarga.


Icha yang merasa kasian kepada Melliza, karena selama ini semua keputusan, mulai dari pilihan sekolah selalu ditentukan oleh sang Suami, tanpa memikirkan keinginan anak mereka, akhirnya Icha segera membuat kesimpulan agar Suaminya itu tidak merayu Melliza untuk berubah pikiran.


"Papah sama Mamah ngizinin kamu ko sayang, Mamah akan selalu dukung kamu, mendoakan untuk semua kebaikan mu" ucapnya sambil mengusap bahu Melliza.


Akhirnya terlihat senyuman bahagia diwajah Melliza karena restu dari orang tuanya.


***


Jangan Lupa di Like, Spam Komen dan Vote yang banyak pake poin🙏