
Sedihh banget huhuu likenya dikit:(((
Tolong kalau udah di baca di like, kasih komen dan Vote ya teman-teman🙏
Selamat Membaca✨
Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya Melliza dan Mitha telah sampai di salah satu Mall. Mitha langsung mengajak menantunya menuju lantai tiga untuk berkunjung ke salah satu toko brand internasioal.
Para pelayan yang ada disana dengan ramahnya menyambut Mitha dan juga Melliza, memang Mitha sering sekali berbelanja di tempat ini sehingga tak heran Mitha diperlakukan baik karena dia merupakan pelanggan VIP.
Melliza mengikuti kemana pun mertuanya melangkah karena Mitha selalu meminta saran padanya untuk memilih barang-barang yang akan dia beli. Tak hanya itu Mitha pun menyuruh Melliza untuk memilih barang apapun yang dia inginkan, tapi tentu saja Melliza bukan tipe perempuan yang senang mengambil kesempatan.
"Ayo Syaa kamu juga dong ambil apa aja yang kamu mau, ga apa-apa nanti Mamah yang bayar" ucap Mitha yang hanya dibalas senyuman oleh Melliza.
"Jangan sungkan Syaa, jangan anggap Mamah mertua tapi anggap Mamah sebagai Mamah kamu sendiri. Kamu mau apa pun bilang aja. Pokonya bebas deh mau apa aja, Mamah lagi dapat bonus dari Papah" ucapnya pelan ketika diakhirnya kalimat.
Melliza hanya tersenyum karena tidak tau harus membalas seperti apa. Mereka terus berbelanja mulai dari toko satu ke toko lainnya. Tentu saja walaupun Melliza tidak mengatakan ingin sesuatu tapi ibu mertuanya itu membelikan barang untuknya yang menurut Mitha pas dan cocok untuk Melliza. Setelah hampir tiga jam berbelanja, Mitha dan Melliza pergi ke restoran untuk makan siang.
Sementara di kantor, Alvi baru saja keluar meeting. Dia langsung masuk ke dalam ruangannya dengan diikuti Johan dan juga Andre. Wajah tampannya kini terlihat sangat kacau, satu proyek telah selesai tapi muncul lagi yang baru dengan segala permasalahnnya. Meeting dengan investor tadi membuat kepalanya pusing. Semua investor menginginkan lokasi pembangunan Mall dilaksanakan di lahan yang menjadi kawasan Mahendra.
Sebenarnya Johan dan Andre telah berusaha untuk mendapatkan lahan tersebut, tapi keluarga Mahendra itu bersikeras menolak kerjasama dengan alasan bahwa lahan tersebut tidak akan mereka jual kepada siapapun karena lahan itu telah diwariskan kepada anak mereka.
"Kita harus dapatin tanah milik perusahaan Mahendra itu, jika tidak semua investor pasti akan menarik dananya lagi" ucap Alvi pada Johan.
"Gue udah berusaha Vin, bahkan gue nemuin langsung Bapak tua yang sombong itu. Tapi dia tetap ga mau" ucap Andre menjelaskan.
"Loe ga bilang sama dia kalau kita bakalan bayar berapapun yang dia mau?" tanya Alvi.
"Saya bahkan sudah memberitaunya, tapi dia tetap mempertahankannya. Menurut dia lahan tanah itu warisan ayahnya dan dia tidak berniat menjualnya karena dia akan mewariskanl itu lagi kepada anak semata wayang mereka" ucap Johan.
"Kalau gituh cari tau anaknya, gue yang bakalan turun tangan langsung minta ke anaknya" ucap Alvi kesal.
Mendengar ucapan Andre membuat Alvi semakin kesal. Karena para investor hanya memberikan Alvi waktu satu minggu untuk mendapatkan lahan itu.
"Loe tenang aja, gue bakalan terus pantau. Nanti gue bakalan hubungin loe kalau ada kabar lagi" ucap Andre menenangkan sahabatnya yany sedang kacau.
"Harus itu" ucap Alvi dingin lalu menyandarkan kepalanya pada kursi kerjanya.
Sedangkan kini Melliza sudah berada dirumah sahabat Mitha. Dia bergabung dengan ibu-ibu sosialita yang ada disana. Mereka cukup baik pada Melliza, sehingga membuatnya sedikit nyaman.
Tentu ini bukan pertama kali untuknya bergaul bersama ibu-ibu arisan. Dulu sebelum dia menikah, Icha selalu meminta Melliza menemaninya untuk pergi arisan. Sehingga Melliza sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, suasana dimana ibu-ibu sedang bergosip dan memamerkan segala sesuatu yang mereka punya.
Bahkan memamerkan cucu baru mereka, menunjukkan pada Mitha foto cucu mereka yang sangat menggemaskan. Hingga Melliza tau kenapa Mitha selalu meminta cucu karena dia merasa iri dengan sahabatnya.
"Makanya ayo dong Syaa, cepetan kasih mertua mu ini cucu. Kasian loh cuman dia yang belum punya" ucap salah satu ibu sambil tertawa.
Melliza hanya terdiam sambil memaksakan diri untuk memberikan senyumannya indahnya. Bukan dia tidak ingin tapi memang belum waktunya saja, sungguh ucapan teman Mitha tadi sedikit mengganggu kenyannya.
"Ga apa-apa, mungkin belum waktunya. Siapa tau nanti Melliza langsung kasih aku dua cucu kan" ucap Mitha karena melihat menantunya itu seperti sedih ketika ditanya oleh temannya.
****
Jangan lupa di Like, Komen dan Vote
Like, Like, Like, Like
Komen, Komen, Komen
Vote, Vote, Vote, Vote, Vote, Vote
Tengkyuu💛💛💛