
"Loe ini tiap liat cewek bening dikit langsung bilang cantik" ucap Alvi sedikit kesal pada Andre.
"Ya artinya gue normal lah Vin" jawabnya tak mau kalah.
"Eh tunggu deh tunggu, bukannya dia Raffi yah?" tanya Andre ketika melihat seorang laki-laki berjalan beriringan dengan perempuan itu.
Alvi mengernyitkan keningnya, seolah mengingat siapa Raffi. "Itu loh teman SMP kita, masa loe lupa" ucap Andre mengingatkan Alvi.
"Kayanya mereka saling kenal deh" sambungnya.
"Baguslah, kesempatan buat kita. Siapa tau Raffi bisa bantuin kan" ucap Alvi sambil tersenyum penuh harap.
Mereka berdua pun segera menghampirinya.
"Hai, loe Raffi kan?" tanya Andre.
"Iyaa, wait-wait" jawab Raffi sambil memegangi kepalanya seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Yaampum Andre, Alvi?" ucapnya yang diangguki oleh mereka berdua.
"Apa kabar kalian bro?" tanyanya.
"Seperti yang loe liat, kita baik" jawab Alvi tersenyum.
"Oh ya kenalin, ini tunangan gue namanya Aurel" Alvi pun mengulurkan tangannya hendak berkelan.
"Alvin" ucapnya tersenyum.
Setelah perkenalan itu selesai, Andre langsung mengajak mereka untuk mengobrol santai sambil menikmati sebuah kopi. Awal perbincangan, mereka buka dengan sebuah basi-basi dimana Alvi menanyakan kabar dan aktivitas teman lamanya itu.
Ternyata temannya itu tinggal di London dan mereka baru saja melakukan pemotretan untuk foto prewedding.
"Oh selamat bro, nanti kalau nikah jangan lupa buat undang kita" ucap Andre.
"Siap brother. Loe sendiri gimana Dre, Vin?" tanya Raffi.
"Gue udah nikah, Andre lagi otw" ucapnya tersenyum.
"Wah bahkan gue ga tau, lupa ya loe sama temen sendiri" ucap Raffi dengan nada dibuat sedih.
"Gue ga tau alamat loe Raff, sorry" ucap Alvi tak enak.
"Oke bro santai, ngomong-ngomong kalian ada maksud apa nih?" tanya Raffi yang bingung dengan kedatangan Alvi dan juga Andre.
Akhirnya Andre menjelaskan kepada Raffi dan terutama kepada Aurel anak Mahendra tentang maksud dan tujuan mereka. Sepertinya Aurel sedikit mempertimbang tujuan dari mereka.
"Udahlah sayang kasih aja ke mereka. Lagian kan setelah menikah kamu akan ikut aku ke London. Dan satu lagi kesempatan untuk kamu meminta harga berapa pun pada Alvi" ucapnya sambil tersenyum.
"Bukannya aku tidak mau, tapi aku merasa tidak enak. Itu seperti warisan yang diberikan Ayah padaku, bahkan Ayah masih ada pun aku sudah berani menjualnya" ucap Aurel sedikit tak enak.
"Saya sudah menemui Ayah anda, beliau bilang semua keputusan ada ditangan anda karena sertifikat lahan tahan itu sudah menjadi atas nama dan hak anda" ucap Alvi.
Aurel menatap tunangannya dan Raffi menganggukan kepalanya. Sepertinya Raffi sendiri merasa tidak enak jika Aurel menolak kerjasama yang dilakukan teman lamanya.
"Kalau begitu, saya minta waktu sebentar untuk menghubungi Ayah saya" ucap Aurel yang diangguki oleh Alvi.
Aurel pun pergi menghubungi Mahendra, ketiga laki-laki itu mengobrol membahas bagaimana mereka selama tidak bertemu. Bahkan Raffi masih tidak menyangka jika Alvi telah menikah. Dan tak lama akhirnya Aurel kembali.
"Bagaimana?" tanya Alvi langsung.
"Baiklah, aku setuju" jawab Aurel.
"Tapi apakah betul sesuai yang aku inginkan?" tanya Aurel yang masih tak percaya jika Alvi menawarkan harga sesuai yang dia mau.
"Ya, sesuai kemauan anda" jawabnya.
"Tidak perlu, aku akan jual sesuai harga pasar saja. Tapi aku minta satu syarat" ucapnya membuat Alvi mengernyitkan keningnya bingung.
"Aku ingin memiliki saham di proyek itu, bagimana?" tanya Aurel yang membuat Raffi tersenyum.
"Kau pintar sayang" ucap Raffi pada tunangannya.
"Berapa persen?" tanya Alvi serius.
"Tidak perlu banyak, terserah berapa pun. Lima persen pun cukup" ucap Aurel.
"Luar biasa tunangan mu ini dia pintar sekali" ucap Andre.
"Siapa dulu tunangannya, jadi bagaimana Vin?" ucapnya dengan sedikit tertawa.
"Baik lah, akan aku urus dengan sekretarisku" jawabnya.
***
Akhirnya permasalahan mengenai lahan untuk proyek baru telah selesai. Tapi walaupun begitu Alvi semakin disibukkan oleh pekerjaannya karena dia hanya dibantu oleh Johan dan dia kewalahan, untuk itu Alvi terus meminta agar perekrutan sekretaris baru di percepat.
Bahkan sudah tiga minggu ini Alvi tidak memiliki waktu untuk Melliza, di hari libur pun Alvi selalu berada diruang kerjanya. Melliza terus merengek meminta di ajak jalan-jalan tapi lagi dan lagi Alvi menolaknya.
"Sayang, tolong dong ngertiin aku. Kamu tau kan kerjaan aku kaya apa" ucap Alvi pada Melliza yang sekarang sedang duduk dipangkuannya mencoba mengganggu Alvi yang sedang bekerja di hari libur.
"Tapi ini tuh udah tiga minggu loh kamu ginih terus, aku tuh bosen tau ga di rumah sendirian. Giliran kamu di rumah, kamu kerja terus. Aku tuh ga ada temen, aku tuh pengen keluar ga mau di rumah aja" ucap Melliza lirih.
"Iyaa maaf sayang, aku janji nanti kalau udah selesai proyek ini. Aku bakalan ajak kamu liburan, nanti kita jalan-jalan ke negera yang kamu mau ya" bujuk Alvi agar istrinya tidak marah.
"Tapi kapan? Aku tuh bosan, aku mau kerja lagi aja ya" ucap Melliza yang membuat Alvi menatapnya tajam.
"Ga boleh" jawabnya tegas.
***
Hayoo siapa yang udah berpikiran negatif? hahaa
Tunggu terus ya kelanjutannya.
Jangan lua di like, di komen dan di vote.
Aku telat up karena sedih, ga semangat liat like yang cuman dikit padahal jumlah yang baca banyak. Kan sedih akutu:((
eh udah ah malah curhat.
Pokonya kalau mau cepat up jangan lupa di like, komen, dan vote yang banyak.
Maaf ya banyak maunya, Maaf banget loh🙏
Eh lupa, mau promosi juga.
Baca yu ceritaku satu lagi, judulnya Unexpected Love.
Thankyou💚💚