
Melliza tersentak kaget ketika ada tangan yang memeluk tubuhnya dari belakang. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan menghambur ke dalam pelukan orang tersebut, yang tak lain adalah Alvi.
Punggung Melliza gemetar, Alvi merasakan jika istrinya sedang menangis dalam dekapannya itu. "Sutt, ko kamu nangis sih sayang?." tanya Alvi bingung.
"Aku tuh khawatir tau ga, aku takut hal buruk terjadi sama kamu." ucapnya melepaskan pelukkan dan menatap suaminya. Menangkup pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya, memastikan jika wajah dan tubuh Alvi baik-baik saja.
"Ga ada hal buruk terjadi sama aku, aku baik-baik aja karena doa istriku." jawabnya menghapus air mata Melliza.
"Terus kenapa telponnya susah dihubungi? Aku kirim pesan ke Pak Johan sama Beno juga ga di balas." tanya Melliza.
"Maaf, ponsel aku mati. Mungkin mereka panik jadi ga liat ponsel, mereka baru liat ponselnya pas baru sampai bandara. Mereka juga bilang ko kalau kamu nanyain dan aku bilang aja ga usah di balas karena kan sebentar lagi juga kan aku sampai rumah." ucapnya.
"Pantesan. Ko panik? Panik kenapa?." tanya Melliza khawatir.
"Tadi pesawat yang kita tumpangin tiba-tiba harus mendarat darurat karena cuaca sangat buruk. Kilatan petir benar-benar terlihat jelas, diiringi hujan dan angin kencang. Jadi kita terpaksa harus nunggu selama lebih dari dua jam." jelas Alvi menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Syukurlah, kamu ga kenapa-kenapa." ucap Melliza.
"Ga perlu ditakutin sayang, ga akan ada hal buruk terjadi sama aku. Itu hormon ibu hamil aja." ucap Alvi.
"Tapi tadi tangan aku terluka sama pisau terus berdarah. Aku kepiran kamu dan takut itu pertanda buruk." ucapnya mengungkapkan ketakutannya tadi.
Mendengar itu, Alvi hanya terkekeh. "Kamu ini ada-ada aja, itu karena kamu ga hati-hati sayang." ucap Alvi.
"Aku khawatir malah ketawa. Aku kan cuman takut kamu ninggalin aku terus aku ngurus si kembar sendirian, huhf aku rasa aku ga bakalan sanggup kalau itu sampai terjadi." ucap Melliza yang semakin membuat Alvi terkekeh.
"Kamu ini jangan kebanyakan nonton ftv makanya. Jadi ginih nih pikirannya." ucap Alvi menggelengkan kepala.
Mendengar itu Melliza hanya mendengus kesal. Lalu Melliza pun menyuruh Alvi duduk di kursi meja makan, sementara dirinya memanaskan kembali makanan yang tadi sore dia buat. "Wahh harum banget, enak nih kayanya." ucap Alvi ketika Melliza menghidangkan makanannya diatas meja.
"Pasti dong." ucap Melliza tersenyum bangga.
"Kamu udah makan?." tanya Alvi setelah Melliza menyiapkan makanan ke dalam piring untuknya.
"Aku udah tadi sama Salsa, maaf ya." ucap Melliza tidak enak mendahului suaminya.
"Ga masalah sayang, justru kamu harus tepat makan. Kalau telat kasian kan anak-anak kita di dalam sana pasti kelaparan. Lagian aku yang seharusnya minta maaf karena telat pulang jadi kita ga bisa makan bareng." ucap Alvi.
"Ga apa-apa sayang. Aku ngerti ko, kamu pulang dengan selamat aja aku udah bahagia." ucap Melliza.
"Besok kita dinner ya, udah lama juga ga dinner diluar kan?." ucap Alvi yang membuat Melliza menggangguk dan tersenyum bahagia.
Tiba-tiba Salsa datang untuk mengambil air. "Udah pulang, Vin? Istri loe tuh dari tadi khawatir banget, sampai makan pun tadi ga mau karena mau nunggu loe aja." ucap Salsa.
"Iya karena dipaksa sama gue dan Bibi." ucap Salsa yang mendapatkan senyuman dari Melliza.
Memang benar tadi Melliza menolak untuk makan, dia terus keras kepala ingin menunggu suaminya. Tapi dengan susah payah Salsa dan Bi Imas menyuruh dia makan, mengingatkan wanita itu kalau di dalam tubuhnya ada anak yang sedang dia kandung.
"Bagus, Sal. Thanks udah jagain istri gue yang keras kepala ini." ucap Alvi menyindir istrinya.
"Yu siap, dia juga kan sahabat gue. Yaudah deh kalau gituh gue mau pulang sekarang ya Syaa, Alvi udah pulang juga kan." ucapnya.
"Loe nginep aja disini, kan udah malam juga." ucap Melliza.
"Engga deh. Gue takut ganggu yang mau kangen-kangenan kalau disini." ledeknya.
****
Setelah kepergian Salsa, kini Melliza sedang berada di kamar sambil tertidur dengan kepala bersender pada dada bidang suaminya. "Sayang, kamu udah nyiapin nama belum buat mereka." ucap Melliza mengusap perut buncitnya.
"Udah ada sih, tapi belum fix sayang." jawah Alvi ikut mengelus perut istrinya.
"Pokoknya kamu cari yang banyak, nanti kita tentuinnya berdua." ucap Melliza.
"Iya sayang pasti berdua, aku bakalan minta pendapat kamu juga ko. Aku kan bukan suami yang egois." ucap Alvi yang mendapat tatapan dari Melliza.
"Kenapa natap aku? Benerkan?." tanyanya.
"Iyaa bener ko, kamu itu suami paling paling pengertian banget." ucap Melliza dengan nada berlebihan. Kemudian Alvi memeluk tubuh istrinya dengan manja.
Mereka terus mengobrol membahas seputar kehamilan Melliza. Karena merasa ngantuk, kemudian Melliza membenarkan posisi tidurnya agar terlentang, namun ditahan oleh Alvi. "Mau ngapain?." tanya Alvi.
"Mau bobo, ngantuk." jawabnya manja.
"Ga kangen sama aku gituh kamu?." tanya Alvi dengan penuh maksud.
"Kangen bangetlah sayangku." ucap Melliza mengelus pipi suaminya.
"Yaudah kita kangen-kangenan dulu, jangan tidur sayang." ucap Alvi kemudian membawa tubuh Melliza kembali ke dalam dekapannya.
*****
Hallo... Aku mau nanya dong sama kalian. Adegan apa yang paling kalian inget dari ILYMYB? Komen di bawah ya, terus jangan lupa di like, dan vote juga.
Terimakasih💚💚💚