
Siang hari kini mereka sudah berada dicafe tepatnya disalah satu ruangan privat yang ada disana. Melliza dan Alvi kesini bukan untuk menongkrong melainkan untuk bertemu klien karena klien tersebut meminta meeting ditempat itu.
Tak lama menunggu datang seorang perempuan dengan wajah cantik dan pakaian yang sexy. Dia adalah Calista putri dari Pak Handoko. Alvi begitu terkejut saat melihat wanita itu membuka kacamatanya. Ternyata dia adalah perempuan yang Alvi tolak dulu. Sama seperti Alvi, Calista pun tidak tau jika yang akan menjadi partner bisnisnya yaitu Alvi lelaki yang dulu dia perebutkan dengan Clara.
"Calista" ucap Alvi berdiri menyambut kedatangan tamunya.
"Cantik banget sekarang" ucap Alvi dalam hati.
"Alvin, jadi kamu partner bisnis Papah?" ucap Calista terkejut.
"Ya, ternyata kamu anak Pak Handoko?" tanya Alvi tersenyum dan mempersilahkan Calista duduk.
"Iyaa, aku putri Pak Handoko. Ga nyangka bisa ketemu kamu seperti ini" ucap Calista tak percaya.
"Tambah ganteng aja nih cowok, andai dia dulu lebih milih gue dibanding Clara" ucap Calista dalam hati.
Alvi dan Calista pun terus saling melontarkan pertanyaan masing-masing. Ternyata Calista tidak ikut ke acara reuni waktu itu karena dia masih berada di Paris untuk pemotretan. Ya Calista adalah seorang model, tapi karena Ayahnya yaitu Pak Handoko dia terpaksa berhenti menjadi model dan beralih untuk melanjutkan perusahaan Ayahnya.
Sedangkan Melliza kini hanya duduk tersenyum menyaksikan Boss sekaligus tunangannya itu bercengkrama dengan seorang wanita, ada rasa cemburu pada diri Melliza tapi dia mencoba untuk berpikir positif.
"Mungkin mereka teman lama" ucap Melliza dalam hati.
Karena sudah merasa terabaikan akan kehadirannya Melliza pun mulai bosan dan geram apalagi saat melihat Calista terus menatap Alvi dengan tatapan genitnya. Dengan ide yang berada dipikirannya Melliza pun pura-pura batuk agar Alvi tak mengabaikannya dan berhenti bernostalgia bersama wanita itu.
"Ohhya Ca, ini sekretaris pribadi aku" ucap Alvi.
"Calista" ucap Calista menyodorkan tangannya.
"Melliza, Bu" ucap Melliza tersenyum menyalami Calista.
"Ya sudah kita mulai aja gimana?" tanya Alvi.
Akhirnya mereka pun mulai membahas tentang pekerjaan. Dan akhirnya Calista dan Alvi saling mendatangani sebuah kertas kontrak kerja sama perusahaan mereka.
Setelah itu Melliza dan Alvi pergi kembali menuju kantor. Di dalam mobil Melliza terus memandang keluar jendela menikmati jalanan yang sangat ramai. Dia tak ingin melihat ke arah Alvi bahkan mengajaknya mengobrolpun rasanya malas. Alvi yang melihat Melliza sedari tadi terdiam kini mulai bingung dan bertanya-tanya kenapa kekasihnya.
"Kamu kenapa? Ko diam aja" tanya Alvi melihat ke arah Melliza.
"Ga kenapa-kenapa" balas Melliza.
Kemudian tiba-tiba ponsel Alvi berdering dan ternyata ada panggilan dari nomor tak dikenal. Dia pun langsung menjawabnya dan bertanya siapa orang tersebut.
"Ohh Calista, iyaa ada apa?" tanya Alvi ditelpon.
Melliza yang mendengar kekasihnya menyebut nama itu langsung segera menoleh ke arah Alvi dengan tatapan tak suka. Tapi Alvi malah terus bertelponan dan mengatakan jika dia pasti menyimpan nomor Calista. Setelah itu panggilan telpon pun diakhiri oleh Alvi.
"Seneng ya bisa ketemu dia lagi? Sampai kamu kasih kontak pribadi segala" ucap Melliza ketus.
"Apaan sih, dia itu dulu teman aku dan ga enak dong kalau dia minta kontak masa ga di kasih, lagian dia kan klien aku" bela Alvi.
"Tapi kan biasanya juga kalau sama klien ngasihnya kontak kerja bukan kontak pribadi" ucap Melliza.
"Tapi kan dia teman aku juga Syaa, ya wajar aku kasih kontak pribadi" bela Alvi kembali
"Iyaa sih wajar banget, kayanya akrab juga sampai aku disana aja dicuekin saking asiknya kalian berdua" kesal Melliza.
"Kamu ini kaya anak kecil deh. Udah ah jangan cemburuan gituh. Lagian namanya juga sama teman lama ya wajar kalau ngobrol gituh" bela Alvi yang membuat Melliza samakin kesal.
Melliza pun tak membalas perkataan Alvi lagi karena dia merasa benar-benar kesal pada Alvi yang tak mengerti perasaan dirinya.
Visual Calista
Jangan like, komen dan vote ya biar author semakin semangat upnya. Semakin banyak vote semakin semangat juga aku nulis.