
Akhirnya pukul empat sore setelah jam kerja selesai mereka langsung pergi menuju Bandara, cukup dengan waktu kurang lebih dua jam mereka pun sampai di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Alvi langsung dihampiri oleh dua orang pria yang usianya kira-kira empat puluh lima tahun, kedua orang pria itu langsung membungkukkan tubuhnya memberi salam pada atasannya.
Kedua pria tersebut adalah supir yang sudah siap mengantar mereka berempat selama dibali. Mereka pun pisah, Alvi dan Melliza satu mobil sedangkan Andre dengan Tania menaiki mobil satunya lagi.
Tak lama Alvi dan Melliza pun sampai di sebuah hotel mewah yang berada di dekat pantai, hotel itu milik keluarga Alvi. Sedangkan Andre dan Tania masih di jalan belum sampai, mungkin supir yang membawa mereka sangat pelan mengendarai mobilnya.
Terkadang jika seperti ini Melliza merasa tidak seimbang bersama Alvi karena mengingat Alvi adalah seorang CEO muda yang sangat terkenal, tampan dan juga kaya tentunya. Sedangkan Melliza dia hanya seorang gadis dari kota kecil usaha kedua orang tuanya jauh dari usaha yang kedua orang tua Alvi miliki.
***
"Ayoo Sayang" ajak Alvi setelah mendapatkan cardlock khusus untuknya.
"Kemana?" ucap Melliza bingung.
"Ke kamarlah" jawab Alvi sesantai mungkin.
Jujur saja saat ini perasaan Melliza takut dan gelisah, dia berpikir jika Alvi akan mengajaknya tidur satu kamar. Sungguh dia tidak ingin seperti itu sampai dirinya dan Alvi resmi menikah.
"Aku mau satu kamar sama Kak Tania aja" ucap Melliza ragu.
Mendengar ucapan tunangannya Alvi sebenarnya ingin sekali tertawa karena tertanya Melliza malah berpikir yang tidak-tidak. Tapi Alvi sekarang malah sengaja ingin menggoda Melliza.
"Memang kenapa kalau sekamar sama aku?" tanyanya.
"Ih ga mau lah, jangan ngaco deh! Kita kan belum nikah" ucap Melliza dengan gugup dan wajah merahnya.
Karena sudah tidak bisa menahan lagi akhirnya Alvi tertawa karena melihat wajah Melliza yang memerah akibat gugup dan ketakutan. Dengan segera Melliza mengerutkan keningnya bingung.
"Kamu ini pikirannya kotor, siapa juga yang mau ngajak kamu satu kamar" ucap Alvi gemas sambil mencubit hidung Melliza.
"Lepas, sakit tau" ucap Melliza kesal dan malu sambil menahan tangan Alvi yang mencubit hidungnya gemas.
"Terus kenapa tadi ngajak ke kamar? Kan aku takut jadi mikir yang engga-engga" ucapnya kembali dengan suara pelan.
"Sayang aku ngajak kamu ke kamar itu biar kita nunggu Andre dan Tania disana. Udah deh ayo jangan berpikir yang aneh-aneh" ucap Alvi mengelus kepala Melliza sambil tersenyum kepadanya.
Melliza pun mengikuti langkah Alvi dari belakang, mereka mulai memasuki lift dan mereka sekarang berada di lantai paling atas hotel tersebut. Ternyata saat sampai disana, satu lantai tersebut khusus untuk Alvi.
Satu lantai itu bisa dikatakan seperti appartement karena ruangan itu memiliki dua kamar, ruang tamu, dan juga dapur. Sungguh sangat mewah bukan. Lantai ini sengaja dibuat khusus oleh Ayah Alvi untuknya, istri dan anak-anak mereka yaitu Alvi dan Elvina.
"Disini ada dua kamar, terserah kamu mau tidur dikamar mana sayang" ucap Alvi tersenyum.
Sebenarnya di kamar mana pun tetap saja viewnya sama-sama indah yaitu berhadapan langsung ke arah pantai. Melliza mendengar itu merasa bodoh dan malu dirinya sudah berpikir negatif pada tunangannya sendiri, padahal Alvi mengajaknya masuk ke dalam kamar ya memang karena di dalam ruangan besar itu terdapat dua kamar.
"Aku terserah kamu aja" ucap Melliza tersenyum malu.
Tak lama suara bel pun berbunyi dan Alvi langsung membukannya, ternyata itu Andre dan juga Tania yang baru sampai.
Ohya Melliza dan Tania sebelumnya tidak pernah kesini, sedangkan Andre sudah pernah ya karena dia sudah sahabatan sejak lama dengan Alvi. Melliza dan Tania waktu itu saat acara kantor mereka tidak menginap di hotel ini tapi disebuah vila Alvi yang juga berada di Bali.
.
.
.
Di like yaa episode ini dan juga yang sebelumnya dan kasih Vote yang banyak. Biar aku semangat upnya💕