
Keesokan hari nya kini mereka sudah berada di kantor.
Alvi yang berada di ruangannya kini sedang mengobrol dengan Johan.
"Lu besok harus pergi ke Singapur Vin, ada problem disana. Tapi sorry gua ga mungkin ikut sama lu. Jadi besok lu cuman sama Melliza" ucapan Johan sontak membuat Alvi terkejut.
"Loh masa gua cuman sama Melliza? Nanti kalau gua minta dibikinin dokumen-dokumen gimana?" ucap Alvi prustasi.
"Lu tenang aja. Nanti dia bisa kabarin gua, nanya ke gua atau dia bisa hubungi Tania, Lagian kalau gua ikut juga kan berkas yang gua buat itu dari Tania, tugas gua cuman ngereview, ngecek file yang dikirim Tania" ucap Johan.
"Tapi kan dia belum tentu bisa juga" sanggah Alvi.
"Lu tenang, dia smart. Gua yakin dia bisa, gua bener-bener ga bisa ninggalin istri gua dalam keadaan hamil ginih" ucap Johan yang akhirnya disetujui oleh Alvi.
Johan pun keluar dari ruangan Alvi memberitahu kepada Melliza.
"Melliza, besok kamu temani Alvi ke Singapur, nanti kalau butuh berkas apapun hubungi Tania atau kalau ada yang tidak ngerti hubungi saya saja. Kamu jangan sungkan" ucap Johan kepada Melliza.
"Baik Pak" jawab Melliza.
Tak lupa Johan pun memberitahu Tania untuk menyiapkan file-file jika nanti diminta oleh Melliza.
Kini waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Melliza pun seperti biasa makan siang bersama Tania.
"Syaa katanya besok cuman kamu sendiri ya yang nemenin CEO kita?" tanya Tania kepo.
"Hmm iyaa Kak, masa aku sendiri coba? Aku kan anak baru ga tau apa-apa" jawab Melliza murung.
"Syaa kamu itu kan sekretaris pribadi nya Pak Alvin, ya kamu harus ikutlah kemana dia pergi, Pak Johan juga dulu dia sendiri yang nemenin Pak Alvin"
"Hmm" ucap Melliza sambil mengunyah makanannya.
"Hmm jauh sebelum aku tau Alvi seorang CEO, aku juga sama seperti mereka Kak. Mengaguminya" ucap Melliza keceplosan, karena yang selama ini tau hanya sahabatnya.
Tania yang mendengar itu penasaran maksud dari perkataan Melliza. "Jadi kamu udah kenal dia sebelumnya?" Tanya Tania heran.
Akhirnya Melliza pun menceritakan semua kejadian dua tahun lalu, dimana dia menyukai Alvi dan juga menceritakan kejadian terciprat air di puncak dan insiden bertabrakan di hotel saat itu kepada Tania.
Melliza percaya kepada Tania, dia orang baik dan dapat di percaya sehingga dia memutuskan untuk bercerita kepada Tania.
Tania yang mendengar itu terkejut.
"Ga nyangka ternyata kamu suka dia dari dulu, dan karena kamu ngatain dia sombong sama ngatain dia om-om kalian sekarang masih sangat canggung? Padahal kalian itu harusnya deket, secara kamu itu sekretaris pribadinya seharusnya kamu lebih tau dia" ucap Tania.
"Hmm iyaa Kak, bahkan tadinya aku takut dia dendam gara -gara aku ngatain itu, tapi kan ini emang salah dia yang ngatain duluan kan? Terus aku harus gimana supaya ga canggung lagi?" ucap Melliza.
"Lagian kamu sih Syaa, bisa-bisanya ngatain dia om-om. Dia kan keren gituh, dia kan ngatain kamu gadis kecil berarti kamu itu imut. Kalau kata aku sih kamu minta maaf aja sama dia, bilang aja ga bermaksud. Awas loh nanti di Singapur dia ngerjain kamu" ucap Tania tersenyum meledek Melliza.
Melliza pun kepikiran atas kata-kata yang Tania ucapkan. Mungkin benar kata Tania, dia harus meminta maaf kepada Alvi, agar Alvi tidak mempersulitnya nanti.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen.