
Tak terasa kini kehamilan Melliza sudah memasuki usia bulan ke lima. Hubungan mereka beberapa bulan ke belakang baik-baik saja seperti pasangan pada umumnya, tidak ada pertengkaran. Hanya adu mulut biasa, maklum saja semenjak hamil Melliza menjadi sensitif.
Menurut hasil pemeriksaan dokter, bayi kembar yang ada di dalam perut Melliza berjenis kelamin laki-laki dan juga perempuan. Ketika mendengar itu, Melliza dan Alvi begitu senang dan bersyukur mendapatkan bayi kembar sepasang.
Morning sickness yang biasa terjadi pada Melliza pun kini sudah tidak terjadi lagi. Hanya saja wanita itu masih sering mengidam, bahkan keinginannya menjadi lebih aneh.
Seperti malam kemarin, Melliza meminta Alvi untuk membelikan sop buah yang ditambahi irisan cabai rawit. Menurutnya sop buah dengan irisan cabai rawit akan terasa segar ketika rasa manis, dingin dan pedas menyatu.
Entahlah, semalam Alvi benar-benar menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia menolak permintaan aneh Melliza, tapi perempuan hamil itu malah menangis dan pada akhirnya Alvi keluar mencari penjual sop buah lalu menambahkan cabai rawit saat sampai di rumah.
Namun sayang baru satu suap, Melliza memuntahkannya kembali karena rasanya yang aneh dan juga tidak enak. Bukannya dibuang, tapi Melliza malah menyuruh Alvi menghabiskannya. Dengan sangat terpaksa karena tidak ingin jika istrinya menangis, Alvi memakan sop buah yang memiliki cita rasa aneh tersebut.
Bahkan karena semalam memakan itu, kini Alvi malah merasakan sakit pada perutnya. Laki-laki itu mengalami diare sehingga hari ini tidak bisa datang ke kantor untuk bekerja. "Sayang, ini kamu minum obat dulu" ucap Melliza menghampiri Alvi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Alvi pun segera meminum satu obat tablet yang diberikan istrinya. "Sayang maafin aku ya" ucap Melliza lirih, kini mereka berdua sudah duduk di tepi ranjang.
"Untuk apa sayang?" tanya Alvi bingung menatap Melliza.
"Itu--maaf karena udah bikin kamu sakit perut. Coba kalau semalam aku ga suruh kamu abisin sop buahnya pasti ga akan ginih" ucap Melliza merasa bersalah dan kini sudah terisak menangis.
Dengan cepat Alvi memeluk tubuh istrinya lalu mengusap punggung Melliza. "Sutt, ga apa-apa sayang. Lagian aku baik-baik aja ko" ucap Alvi mencoba menenangkannya.
"Ga apa-apa gimana? Kamu itu keluar masuk toilet karena aku. Coba aja kalau aku-" ucapan Melliza terhenti karena Alvi memotongnya. "Udah ini bukan salah kamu, aku malah bersyukur karena aku sakit, aku jadi punya waktu buat berduaan sama kamu" ucap Alvi sambil menangkup kedua pipi chuby Melliza.
"Kamu jangan nangis, kasian tau si kembar nanti ikut sedih. Nanti mereka marah sama aku karena bikin Momy nya nangis" ucap Alvi sambil mengusap air mata Melliza dengan ibu jarinya.
Mendengar itu, Melliza tersenyum. "Maafin Momy ya, maafin juga udah buat Daddy kalian sakit perut" ucapnya mengelus perut sambil menatap Alvi yang kini sedang tersenyum juga padanya.
"Mungkin mereka denger obrolan kita, katanya iya ga apa-apa Momy, kita sama Daddy udah maafin. Lagian Momy ga salah ko" ucap Alvi dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
"Isst kamu so tau" ucap Melliza tertawa.
"Aku emang taulah, kan aku yang buat mereka" ucapnya tersenyum genit.
"Sayang" ucap Melliza manja yang kini menyenderkan kepalanya pada pundak Alvi.
"Kenapa sayang? Kamu pengen sesuatu?" tanya Alvi.
"Engga ko" jawabnya cepat.
"Terus apa dong?" tanya Alvi sambil menatap Melliza.
"Aku cuman pengen manggil aja" jawabnya tertawa lalu memegang dagu suaminya, dan dengan cepat mencium bibir Alvi.
"Itu maunya si kembar, bukan mau aku ko" ucap Melliza malu setelah sadar bahwa tadi dia mencium suaminya dengan sangat agresif.
"Ga masalah, mau itu si kembar atau pun kamu yang mau. Yang pasti aku senang, menikmatinya dan bahkan mau lagi" ucap Alvi menggoda istrinya.
***
**Haii.. mohon dukungannya terus yaa dengan cara like, komen, vote dan kasih rate bintang lima.
Terimakasih💚💚💚**