I Love You My Boss

I Love You My Boss
ILYMYB Episode 161



Pagi ini Alvi sudah berada di kantornya, pekerjaan yang dulu sangat banyak kini akan bisa sedikit berkurang karena sekretaris baru sudah masuk bekerja terhitung mulai hari ini. Alvi dan teamnya memilih kandidat nomor tiga, Dia adalah Beno.


Bukan tanpa alasan Alvi lebih memilihnya dari pada Nayshila, Beno lebih berpengalaman dan lebih memiliki keunggulan lainnya dari pada Nayshila. Selain itu Alvi tidak memilih perempuan itu karena Alvi memang menghindarinya.


Sejak pertemuan dikantor Alvi merasa dia bersikap genit kepadanya, Alvi tidak suka itu. Dia tidak ingin mendapatkan masalah jika menerima sekretaris seperti itu. Oleh sebab itu Alvi lebih memilih Beno yang memang lebih baik dari pada Nayshila.


"Permisi Pak, semua sudah ada di ruang meeting dan menunggu Pak Alvin" ucap Beno mengingatkan Alvi untuk segera memimpin meeting.


"Baiklah, ayo" jawabnya dengan berjalan menuju ruangan meeting.


Semua orang yang berada di ruang meeting kini menatap ke arah pintu melihat Alvi yang baru saja datang. "Selamat pagi semuanya. Maaf telah menunggu" ucapnya yang kemudian duduk.


Alvi mulai memimpin rapat itu, membahas segala persoalan yang terjadi. Berdebat argumen dengan para stafnya untuk menemukan suatu keputusan yang tepat. Meeting itu berlangsung sampai waktunya jam makan siang.


"Apa semua sudah dicatat Ben?" tanya Alvi pada Beno sekretaris barunya.


"Sudah Pak, semua sudah saya catat sesuai dengan hasil meeting tadi" ucapnya.


Alvi dan teamnya benar-benar tidak salah pilih memilih Beno. Walau pun usianya masih muda tapi dia sudah memiliki pengalaman dan lihat saja cara bekerjanya sangat baik dan begitu cekatan.


Dari jauh Alvi memperhatikan seorang wanita yang kini sedang asik mengobrol dengan Tania, perlahan dia menghampirinya dan merangkul pinggal wanita itu. "Sedang apa kamu disini sayang?" tanya Alvi pada wanita itu yang tak lain adalah Melliza.


"Nih aku bawa makanan buat kamu" ucap Melliza tersenyum sambil menunjukkan sebuah tas jinjing yang berisi makanan.


"Wahh yaudah ayo kita ke ruangan aku" ajak Alvi.


"Kak aku masuk dulu ya, nanti kita lanjut lagi" ucap Melliza yang dijawab sebuah senyuman dan juga anggukan oleh Tania.


"Lagi ngobrolin apa sih?" tanya Alvi ketika mereka masuk ke dalam ruangannya.


"Biasa perempuan sayang" jawab Melliza.


"Kamu ko tumben sayang ke kantor?" tanya Alvi bingung karena setelah menikah Melliza tidak pernah lagi datang ke kantornya.


"Kenapa sih ga boleh? Kamu malu ya aku dateng?" tanya Melliza dengan lirih.


Alvi hanya diam mencerna kata-kata yang diucapkan istrinya, takut jika dia salah dengar. Bagaimana bisa seorang Melliza berbicara seperti itu? Seperti bukan dirinya saja. "Ko kamu nanya gituh sih? Tentu boleh dong sayang" ucap Alvi.


"Mana katanya tadi kamu bawa makanan sayang. Tau aja nih kalau aku lagi laper" sambung Alvi menghindari pertanyaan aneh Melliza yang berikutnya.


Melliza pun dengan segera membuka makanan yang tadi dia masak dari rumah lalu menghidangkannya di meja ruang kerja Alvi.


"Iyaa dong, eh tapi di bantu bi Een juga sih" ucapnya sambil mengambilkan makanan tersebut ke dalam piring untuk Alvi.


"Ayo dong kamu juga makan" ucap Alvi saat Melliza memberikan makanan untuknya.


"Aku mau satu piring berdua aja ya, pengen di suapin sama kamu juga boleh ga?" ucapnya malu.


Alvi tersenyum saat mendengar permintaan istrinya, entah mengapa kini Melliza tidak hanya sensitif tapi dia juga begitu manja. Mungkin itu semua karena hormon ibu hamil, tapi Alvi sangat bersyukur dan sangat suka jika istrinya bersikap manja seperti ini, itu membuatnya terlihat sangat manis.


"Tentu dengan senang hati sayang" ucap Alvi tersenyum dan dengan perlahan menyuapi Melliza.


**


Setelah acara makan selesai, Melliza tidak langsung pulang ke rumah. Tapi perempuan itu malah menunggu suaminya bekerja, dia hanya duduk di sofa sambil memperhatikan suaminya yang sibuk dengan layar komputer yang berada di depannya.


Sebenarnya Melliza sudah merasa bosan hanya saja entah kenapa dia tidak ingin jauh dari Alvi. Perlahan Melliza mendekati Alvi dan berdiri dibelakang kursi yang sekarang sedang Alvi duduki, lalu dia mengalungkan tangannya dan menempelkan dagu pada pundak kiri Alvi.


"Kenapa sayang? Bosen ya?" tanya Alvi sambil mengelus tangan Melliza.


"Heem sedikit" ucapnya jujur.


"Mau aku anter pulang?" tanyanya.


"Kamu ngusir aku?" tanya Melliza yang kemudian melepaskan tangannya.


"Engga sayang, kan tadi katanya bosen. Aku takut kamu pengen pulang" ucap Alvi yang kini berhadapan dengan Melliza.


"Duh kenapa jadi salah ngomong terus sih gue?" ucap Alvi dalam hati.


Kemudian Alvi pun menarik tangan Melliza agar duduk diatas pangkuannya dan untung saja perempuan itu tidak menolaknya. "Sayang jangan salah paham, aku seneng kamu disini nemenin aku. Aku takut aja kamu bosen cuman diam nungguin aku kerja. Aku ga ada maksud apapun sumpah" ucap Alvi sambil memeluknya.


"Heem iya iyaa" jawab Melliza yang dengan manja bersandar pada dada bidang suaminya.


Entah mengapa rasanya nyaman seperti ini, bahkan dia enggan untuk mengubah posisi ini. Hingga sampai akhirnya Melliza terus duduk dipangkuan Alvi dengan posisi kepala yang dengan nyaman menyender di dada suaminya. Sementara Alvi tidak keberatan sama sekali dan dia tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa merasa terganggu.


***


Jangan lupa di like, komen dan vote yaa🙏