
Waktu cepat sekali berlalu, rasanya baru kemarin Melliza dinyatakan hamil oleh Dokter. Sekarang perempuan itu diprediksi oleh Dokter akan melahirkan dalam minggu ini. Rasanya dia sangat bahagai saat diberitahu itu, dia begitu tidak sabar untuk bertemu dengan bayi kembarnya.
Tapi dibalik rasa bahagia itu, nyatanya tersimpan ketakutan yang luar biasa di dalam dirinya. Karena Melliza takut jika dalam waktu satu minggu ini dia belum melahirkan maka besar kemungkinan Dokter akan menyuruhnya untuk melakukan operasi sesar.
Sungguh Melliza sangat ingin melahirkan secara normal, dia tidak ingin melakukan apa itu operasi. Sehingga pagi ini dia melakukan saran yang Dokter bilang tiga hari lalu untuk rutin olahraga dengan berjalan di sekitar komplek perumahannya bersama Alvi.
Setelah selesai, Melliza segera membersihkan diri. Dia begitu terkejut ketika melihat ada lendir berdarah yang keluar dari kewanitaannya. Dia juga merasakan sakit pada punggungnya, ditambah dengan rasa kram, dan dia juga merasakan kedua bayinya yang didalam sana tidak mau diam.
Melliza dengan cepat menyelesaikan mandinya, dia keluar dengan menggunakan bathrobe. Wajahnya kini berkeringat dan juga terlihat sangat pucat karena merasakan nyeri. "Sayang kamu kenapa? Ko pucet gituh?." tanya Alvi ketika melihat istrinya.
"Sakit sayang. Tapi kayanya bukan mau lahiran deh, cuman kontraksi bohongan." ucapnya sambil menutup mata dan berpegangan pada tangan suaminya. Melihatnya, membuat Alvi tidak tega, dengan segera dia menggendong Melliza ala bridal style menuju tempat tidur.
"Kita ke rumah sakit aja ya. Aku khawatir, aku yakin kali ini kamu mau lahiran sayang." ucap Alvi khawatir yang kemudian pada akhirnya diangguki Melliza. Tapi sebelum pergi ke rumah sakit, Alvi memilihkan pakaian untuk istrinya dan memakaikannya.
"Bi, Bibi." teriak Alvi ketika sudah memakaikan Melliza baju.
Dengan cepat kini Bi Imas sudah ada di hadapannya. "Ada apa, den?." tanyanya panik karena mendengar panggilan Alvi yang kencang.
"Bi tolong bantu bawa tas itu ya masukin ke dalam mobil saya, kayanya Melliza mau lahiran." ucap Alvi, beruntung sekali dia dan Melliza sudah mempersiapkan segala kebutuhan persalinan ke dalam tas.
Bi Imas pun menuruti perintahnya, dan sekarang Alvi dengan sangat hati-hati menggendong kembali istrinya ala bridal style menuju mobil. "Sabar ya, sayang." ucapnya mengecup kening Melliza lembut.
"Den, Bibi ikut ya." ucap Bi Imas karena merasa kasian jika Alvi harus berada dirumah sakit sendirian.
"Yaudah ayo, Bi."
Kini akhirnya Melliza sudah berada kamar inapnya, benar apa yang dikatakan suaminya. Perempuan itu akan segera melahirkan. Saat ini Melliza masih pembukaan delapan, sebentar lagi, sebentar lagi mereka akan segera bertemu. Sambil menunggu pembukaan siap, Alvi terus mengusap punggung Melliza dan menggenggam tangannya.
"Sayang aku takut." ucap Melliza sambil meneteskan air mata karena tak kuasa menahan rasa sakit dan sekaligus takut.
"Ada aku, aku akan selalu nemenin kamu sayang." jawab Alvi yang dengan bertubi-tubi mencium wajah istrinya.
"Mamah dimana? Kamu udah ngabarin Mamah?." tanyanya yang ingin sang ibu berada disampingnya.
"Mamah udah aku suruh Bibi telpon, mereka bilang akan cepat sampai disini. Kamu ga usah khawatir sayang, semua akan baik-baik saja." ucap Alvi menenangkan istrinya.
Setelah tiga jam lebih kini kontraksinya semakin sering dan semakin membuat Melliza merasakan sakit. Dokter datang dan mengatakan jika sudah siap bagi Melliza melahirkan, tapi tunggu wanita itu masih menunggu ibunya. Diruangan ini hanya ada Alvi, Mamah Mitha dan juga Papah Putra.
Saat Melliza akan dibawa ke dalam ruang persalinan, dengan nafas terengah-engah, Mamah Icha datang dan segera memeluk anaknya. "Mamah." ucap Melliza menangis saat di dalam pelukan ibunya.
"Makasih Mah. Maafin Melliza ya Mah, selalu bikin Mamah kesal, marah. Melliza mohon doa Mamah, Melliza sekarang tau seperti apa sakitnya saat kontraksi." ucap Melliza menangis.
"Tanpa kamu bilang, Mamah akan selalu memaafkan anak Mamah, Mamah juga akan selalu mendoakan anak Mamah ini. Pokoknya kamu harus kuat, kita yakin kamu bisa." ucapnya yang diangguki Melliza.
Kemudian kini Melliza dibawa ke dalam ruang persalinan. Hanya Alvi, Melliza, Dokter serta beberapa perawat yang ada di ruangan itu. Sementara orang tua mereka menunggu di depan ruang persalinan.
Sekuat tenaga Melliza menggenggam tangan Alvi untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan. Wajahnya kini terus mengeluarkan buliran air keringat. "Sakit, sayang." ucap Melliza.
"Sabar sayang, sebentar lagi." ucap Alvi sambil mengusap kepala Melliza dan mencium keningnya.
***
Terdengar tangisan suara bayi, bayi laki-laki yang pertama keluar lalu disusul oleh seorang bayi perempuan. Di dalam ruangan Melliza dan Alvi menangis tak kuasa saat mendengar tangisan dari kedua bayi mereka.
Alvi terus mengecup seluruh wajah Melliza dan mengelus kepalanya lembut. Dia begitu berterima kasih kepada perempuan yang dia cintai karena telah melahirkan anak kembar mereka dengan selamat, sempurna, dan begitu menggemaskan.
"Terima kasih sayang, terima kasih udah jadi ibu dari anak-anak aku." ucapnya yang diangguki Melliza dengan senyuman.
***
"Uh cucu Mamah ganteng dan cantik." ucap Mamah Mitha saat melihat cucu mereka.
"Selamat sayang." ucap orang tua mereka.
"Yang perempuan mirip banget Melliza waktu bayi ya Pah?." tanya Mamah Icha sambil menggendong cucu perempuannya lalu diangguki Pak Raka.
"Mereka hebat loh, bisa bikin yang satu mirip Melliza yang satu mirip Alvin." ucap Mamah Mitha sambil menggendong bayi laki-laki yang membuat mereka semua tertawa.
"Jadi siapa namanya sayang?." tanya Mamah Icha kemudian Melliza melirik ke arah suaminya.
"Gabrian dan Gabriella, Mah. Bisa dipanggil Brian dan Gaby." jawab Alvi tersenyum. Itulah nama bayi mereka, nama yang telah mereka setujui bersama.
***
Ga kerasa sebentar lagi kita akan berpisah dengan Alvi dan Melliza. Terimakasih atas dukungan kalian selama ini, jangan lupa di like, komen dan vote 💚💚💚