
Aku kembalii lagi nih...
Makasih untuk readers ku sayang yang sudah sabar dan setia menunggu cerita ini up. Jangan lupa ya like di komen di share dan di Vote yang banyak yaa🙏
Selamat Membaca✨
**
Akhirnya Melliza pun telah selesai membantu Ibu mertuanya memasak sarapan. Dia langsung pergi ke kamar untuk membangunkan suaminya. Namun ternyata Alvi sudah bangun, terlihat dia keluar dari pintu kamar mandi dengan pinggang yang terlilit handuk dan rambutnya yang basah.
"Aku kira kamu masih tidur" ucap Melliza menghampiri suaminya dan hanya dibalas senyuman oleh Alvi.
Alvi kini sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk di depan cermin. "Sini biar aku keringkan" tawar Melliza langsung menghubungkan kabel pengering rambutnya. Lalu diusap-usap rambut sang suami, karena bantuan alat tersebut tak perlu waktu lama kini rambut Alvi telah kering.
Setelah itu Melliza langsung membuka lemari pakaian dan memilih kemeja, celana, jas dan dasi untuk Alvi bekerja hari ini. Sedari tadi Alvi tak henti tersenyum senang karena di perlakuan bak Raja oleh istrinya. Dia benar-benar laki-laki beruntung yang telah mendapatkan seorang istri cantik dan pengertian seperti Melliza.
"Terima kasih, istriku" ucap Alvi yang dibalas senyuman.
Setelah itu Alvi pun langsung memakai baju. "Hmm tunggu, dasinya aku yang pasangin sayang" ucap Melliza dengan mengambil dasi ditangan Alvi.
Alvi memperhatikan wajah Melliza yang terlihat serius saat memasangkan dasi dilehernya. Sunggu perempuan yang didepannya ini sangat cantik dilihat dari sisi manapun.
Melliza pun telah selesai memasangkan dasi pada Alvi, dia menatap Alvi yang kini masih memperhatikannya. "Kamu kenapa liatin aku nya gituh? Apa ada kotoran diwajahku" tanyanya sambil meraba-raba wajahnya sendiri.
Alvi menggelengkan kepalanya lalu dia tersenyum. "Kamu bisa ga sayang, kalau sehari aja ga cantik?" tanyanya membuat Melliza bingung dan menaikkan alisnya.
"Aku ga kuat liat kecantikan kamu, aku cape tau jatuh cinta terus menerus sama kamu setiap harinya" ucap Alvi membuat Melliza tersenyum saat mendengarnya.
"Gombal" ucap Melliza mencubit perut Alvi.
"Awww... Aku serius sayang" ucapnya sambil kesakitan saat merasakan cubitan istrinya.
"Ohhya? Masa sih? Ga mempan tau gombalan kamu itu" ucap Melliza. Padahal dalam hatinya dia sangat senang mendengar gombalan Alvi.
"Ga mempan tapi ko tadi senyum-senyum gituh sih? Kamu suka kan aku gombalin?" tanyanya dengan menggelitiki perut Melliza.
Melliza tertawa karena merasakan geli pada perutnya. Melliza kini tertidur di atas ranjang dengan Alvi yang terus menggelitikinya. "Hentikan geli" ucapnya sambil tertawa.
"Tidak akan sebelum kamu bilang menyukainya" ucap Alvi tertawa dan terus menggelitiki perut Melliza.
"Baiklah, aku menyerah. Aku menyukainya" ucap Melliza yang seketika menghentikan gelitikan Alvi pada perutnya.
"Tuhhkan" ucap Alvi tersenyum lalu mencium pipi Melliza.
"Iyaa aku suka, tapi aku ga akan suka kalau kamu bilang gituh ke perempuan lain" ucap Melliza menatap tajam mata Alvi.
"Tentu saja aku ga bakalan ngelakuin itu sayang" ucapnya membalas tatapan Melliza agar perempuan itu yakin padanya.
Kemudian terdengar suara ketukan pintu. "Maaf nyonya mengganggu, Tuan sudah menunggu" ucap pembantu dibalik pintu.
Pasangan pengantin baru itu akhirnya turun menuju meja makan untuk sarapan bersama. Terlihat sudah ada kedua mertua Melliza menunggu mereka disana.
Melliza pun langsung mengambilkan nasi serta lauk pauk ke piring suaminya itu, lalu dia pun mengambil untuknya dan duduk disamping Alvi.
Setelah selesai sarapan, mereka masih berada disana. Karena Putra menanyakan beberapa hal pada anaknya tentang pekerjaan kantor.
"Gimana proposal pembangunan perumahan itu?" tanya Putra.
"Lancar Pah, nanti siang Alvin ada meeting dengan investor" jawabnya.
"Selesaikan dengan baik Vin kalau kamu pengen cepat-cepat pergi bulan madu" ucap Putra.
Alvi memilih untuk langsung bekerja setelah menikah, karena dia memiliki beberapa pekerjaan penting yang tidak bisa ditunda. Jika dirinya memilih langsung berbulan madu, maka akan sia-sia karena nanti pikiran Alvi akan fokus pada pekerjaan.
Oleh sebab itu dia memilih menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, baru setelah semua urusan pekerjaan itu selesai dia bisa menikmati bulan madu tanpa gangguan atau bayang-bayang pekerjaan.
"Syaa, nanti temenin Mamah ya liat anak teman Mamah lahiran" ucapnya pada Melliza.
"Iyaa Mah" ucap Melliza menganggukan kepalanya serta tersenyum ke arah Mitha.
"Tuhh temen Mamah sekarang udah punya cucu semua, tinggal Mamah nih yang belum" ucapnya sedih.
"Yaudah sih Mah santai aja, baru juga kan nikah" jawab Alvi santai.
"Tapi kalian ga nundakan?" tanya Mitha menatap Melliza dan Alvi bergantian.
"Enggalah Mah" jawab Alvi.
"E-engga ko Mah" jawab Melliza sedikit ragu.
"Syukurlah sayang" ucap Mitha lega.
Setelah pembicaraan itu, Melliza mengantar Alvi sampai ke depan rumah. Sebelum pergi Melliza mengecup punggung tangan Alvi begitupun Alvi mengecup kening Melliza.
"Aku janji akan menyelesaikan pekerjaan ini secepatnya, biar kita bisa pergi bulan madu" ucapnya.
"Iyaa sayang, semangatt ya" ucap Melliza.
"Yaudah aku pergi ke kantor dulu yaa"
"Hati-hati Pak Suami" ucap Melliza tersenyum genit.
***
Jangan Lupa di LIKE, KOMEN, SHARE & VOTE.
Terimakasih🙏💛