
Besok harinya setelah acara pertunangan selesai Melliza pulang bersama Alvi karena hari Senin mereka harus kembali bekerja. Tapi bukannya kembali ke appartement, Melliza malah mengajak Alvi untuk pergi jalan-jalan.
"Kita udah lama tau ga jalan-jalan" ucap Melliza dengan manja mengelus pipi Alvi dan memperhatikan kekasihnya yang tampa sedang mengendarai mobil.
"Yaudah kita mau kemana dulu nih?" ucap Alvi peka.
Ketika ditanya seperti itu Melliza langsung berpikir tempat apa yang belum dia kunjungi bersama tunangannya. Kebetulan saat ini mereka sedang berada dikawasan tempat bermain berbagai wahana. Dengan spontan Melliza pun mengatakan ingin masuk ke sebuah tempat wahana yang pintu masuk gerbangnya hanya beberapa puluh meter dari jarak mobil mereka.
Awalnya Alvi mengerutkan keningnya karena keinginan Melliza pergi ke tempat wahana bermain seperti anak kecil. Tapi Alvi tak bisa menolak keinginan kekasihnya itu, mereka pun pergi ke tempat wahana yang sangat luas dan terkenal.
Tak disangka sesampainya disana Melliza malah mengajak Alvi untuk menaiki wahana yang super tinggi dan pastinya membuat ketakutan yang besar bagi setiap orang yang akan menaikinya.
"Syaa kamu yakin mau naik rollercoaster?" tanya Alvi.
"Yakin! Kamu kenapa? Takut?" ucap Melliza tersenyum sambil memperhatikan wajah Alvi yang mulai pucat.
"Jantung gue deg-degan Syaa, kalau aja ga jaga harga diri depan tunangan, mana mau gue" ucap Alvi dalam hati.
"Enggalah, aku berani! Aku cuman pastiin aja kalau kamu beneran mau naik itu, awas ya kalau nanti teriak-teriak histeris terus muntah-muntah karena pusing" jawab Alvi.
"Ga bakalan, paling juga kamu yang pusing sayang" ledek Melliza.
Benar saja apa yang dikatakan Melliza, setelah menaiki rollercoaster ternyata wajah Alvi langsung pucat dan dia jalan dengan sempoyongan sehingga membuat Melliza merasa bersalah, Alvi pun disuruh duduk oleh Melliza.
Tapi saat ditanya Alvi bersikeras berkata jika dirinya baik-baik saja karena malu dan rasa gengsi jika harus berkata jujur, tapi Melliza tau jika tunangannya itu berbohong dan langsung saja dengan penuh perhatian Melliza mengoleskan minyak esensial diujung kening Alvi dan memijatnya perlahan.
"Ga apa-apa, mungkin badan aku kurang fit jadi aku ngerasa sedikit pusing ginih" elak Alvi, padahal dirinya sejak dulu memang tak suka menaiki wahan seperti itu.
Karena merasa bersalah Melliza pun mengajak Alvi untuk pulang. Tapi Alvi menolaknya karena dia merasa pusing dikepalanya hilang begitu saja setelah Melliza mengoleskan minyak esential dan memijat kepalanya dengan penuh cinta.
Mereka pun melanjutkan bermain wahana lainnya, tentu saja bukan wahana yang ekstrim. Dengan bermain ke tempat seperti itu mereka berdua terlihat seperti pasangan remaja yang baru saja lulus SMA.
Hari ini Melliza merasa senang karena telah pergi ke tempat yang belum dia dan Alvi kunjungi sebelumnya karena biasanya mereka hanya pergi jalan-jalan ke Mall, nonton, makan atau pun hanya pergi ke pantai.
Tapi disatu sisi Melliza pun merasa kesal karena sedari tadi para wanita-wanita terutama anak remaja, mereka selalu menatap Alvi dengan tatapan genit. Ditambah lagi dengan sikap Alvi yang tersenyum ramah ketika wanita-wanita itu tersenyum padanya. Dulu saja ketika pertama Melliza bertemu dengan nya, Alvi malah terlihat sangat cuek dan sombong. Sungguh itu membuat hati dan perasaan Melliza kesal sekesal-kesalnya.
"Udah ah ayo pulang" ajak Melliza kesal.
"Ko pulang, kan tadi katanya pengen.." belum juga melanjutkan ucapannya tapi malah terpotong oleh Melliza.
"Ga jadi, pulang aja" ucapnya ketus dan jalan mendahului Alvi.
"Aku tau nihh kenapa, ciee cemburu yaa? Aku baru tau loh kalau kamu cemburu tambah lucu" ledek Alvi sambil mencubit pipi Melliza.
"Boss ku ini percaya diri banget sih kalau aku cemburu" ucap Melliza dan Alvi terus saja mendesak agar Melliza berkata jujur.
"Iyaa aku cemburu, aku ga suka kamu genit gituh. Dulu aja ke aku cuek, sombong so cool. Eh sekarang disenyumin malah senyum balik" ucapnya kesal.
Mendengar itu Alvi malah tertawa, karena seharusnya Melliza tidak cemburu pada seorang gadis remaja yang dia senyumi. Tidak mungkin seorang Alvi bersama gadis yang usianya saja dibawah adiknya sendiri.