
Saat ini Alvi hanya bisa duduk di sisi ranjang tempat tidurnya, dia memijit pelipisnya, kepalanya terasa sangat pusing. Alvi keluar dari kamar dan mencari Melliza di setiap ruangan namun nyatanya wanita itu tidak ada disini.
Alvi semakin khawatir ketika mobil istrinya tidak terparkir di garasi. Ini sudah larut malam, perempuan itu sedang hamil muda dan dia pergi dari rumah dengan kondisi yang emosi. Tiba-tiba Alvi teringat dengan ucapan Melliza yang memintanya untuk membuka laci yang ada di samping tempat tidurnya.
Dengan segera dia kembali ke kamar dan membuka laci tersebut. Sebuah kotak yang Alvi temukan disana, dengan rasa tidak sabar dia membuka kotak itu. Alvi menemukan sebuah alat tes kehamilan dan sebuah foto USG yang menunjukkan sebuah gambar foto bayi mereka yang baru sebesar biji apel.
Alvi tersenyum getir ketika melihat hasil USG, kemudian dia membaca sebuah surat yang juga ada di dalam kotak. Tak terasa air matanya terjatuh begitu saja ketika membaca surat yang Melliza tulis.
"Maaf, maafin aku Sayang. Aku bodoh, aku udah nyakitin kamu" ucap Alvi sambil menyapu air mata dengan jari tangannya.
Surat itu Melliza tulis saat dia sendiri mengetahui kehamilannya. Surat itu merupakan sebuah ucapan ulang tahun untuknya. Di dalam surat itu Melliza menuliskan dengan detail kapan dia sendiri tau tentang kehamilannya, di dalam surat itu juga Melliza meminta maaf kepada Alvi karena telah menyembunyikan berita bahagia selama satu minggu darinya.
Namun gagal, nyatanya Alvi mengetahui semua rencananya dan malah berakhir dengan sebuah kesalah pahaman yang membuat mereka menjadi bertengkar. Padahal tinggal tiga hari lagi, tapi sayang semuanya sia-sia.
Kemudian Alvi mengambil buku KIA yang tergeletak di lantai, lalu dia membukanya dan melihat tanggal pemeriksaan Melliza. Benar saja, Melliza tau kehamilannya baru empat hari yang lalu dan itu sekaligus pemeriksaan pertamanya.
Betapa bodohnya dia yang tidak bisa menahan emosi, Alvi begitu menyesali amarah dan ucapan yang telah dia lontarkan kepada Melliza. Jika saja dia mau mendengarkan alasan istrinya, mungkin sekarang mereka tidak akan seperti ini.
"Bodoh loe Vin, bodoh" ucapnya pada diri sendiri.
Alvi memang sangat marah ketika dia menemukan sebuah bukti kehamilan Melliza. Alvi benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya, dia begitu berpikiran buruk terhadap Melliza. Bayangan Melliza yang tempo hari ingin menunda kehamilan semakin menguasi pikirannya saat itu.
"Dia lakuin ini semua demi loe, Vin. Demi loe b*ngsat" ucapnya memaki diri sendiri.
"Syaa kamu dimana sayang? Maaf, maafin ucapan aku yang nyakitin kamu. Aku menyesal Syaa, aku emosi" gumamnya sambil menangis.
Alvi pun menelpon Melliza, berharap wanita itu menjawab panggilannya. Namun ternyata ponsel Melliza tidak dapat tersambung dan itu semakin membuat Alvi khawatir.
Tanpa pikir panjang Alvi mengambil kunci mobil dan segera keluar dari kamarnya. "Mau kemana Den?" tanya Bi Imas yang melihat Alvi terburu-buru.
"Nyari Melliza, Bi. Jangan lupa kunci pintu" jawabnya sambil terus berjalan.
Bi Imas sang pembantu rumah tangga mereka merasa bingung dengan Alvi yang ingin mencari Melliza, apa dia salah dengar? Sepengetahuaannya Melliza tadi langsung masuk ke dalam kamar bersama Alvi, dia tidak melihat Melliza keluar dari rumah.
***
Alvi kini melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, tujuan utamanya yaitu appartement Melliza. Sepanjang jalan dia berharap jika Melliza ada disana. Tidak butuh waktu lama, Alvi kini sudah berada di depan pintu appartement. Dengan cepat Alvi menekan tombol password appartement milik istrinya.
Setelah pintu itu terbuka, Alvi segera masuk ke dalam dan mencari istrinya namun tetap saja dia tidak menemukan Melliza disana.
"Dimana kamu Syaa?" gumamnya sambil menebak keberadaan Melliza.
"Dia tidak kenal siapa-siapa disini, temannya hanya Tania. Apa mungkin dia di appartement Tania?" ucap Alvi kemudian membuka ponselnya dan menelpon Tania. Beruntung saja Tania langsung menjawab panggilannya.
"Hallo" ucap Tania di sebrang sana.
"Apa Melliza ada menghubungi kamu? Oh apa dia ada bersama mu?" tanya Alvi to the point.
"Tidak ada Pak, memangnya kenapa?" jawabnya.
"Benarkah? Jika kamu tidak jujur maka aku akan memecatmu" ancam Alvi.
"Aku sudah berkata jujur Pak, terakhir kali Melliza menghubungiku kemarin. Dan dia tidak ada disini" ucap Tania takut.
Alvi semakin prustasi ketika Melliza tidak bersama Tania. Dia benar-benar merasa bersalah dan mengkhawatirkan istri dan juga anak yang dikandungnya.
"Ada apa dengan Melliza? Kenaap Pak Alvin menanyakan dia kepada ku? Jelas-jelas dia suaminya" gumam Tania setelah melakukan panggilan dengan Alvi.
***
Appartement Salsa.
"Gue boleh nginap disini kan Sal?" tanya Melliza.
"Syaa, gue ga bermaksud buat nolak loe. Tapi menurut gue, ga baik kalau loe menghindar dari Alvi kaya ginih. Gue paham, gue tau perasaan loe. Itu pasti sakit, loe belum siap untuk ketemu dia. Tapi Syaa, dengan cara loe seperti ini ga akan bisa menyelesaikan masalah" ucap Salsa mengingatkan jika dengan Melliza yang kabur dan menghindar seperti ini merupakan cara yang salah.
"Loe harus bisa menyelesaikan kesalah pahaman ini, gue yakin kalau Alvi udah baca surat yang ada di kotak itu dia bakalan sangat menyesal. Dia bilang gituh karena dia lagi emosi, loe ga boleh banyak pikiran Syaa. Loe ga boleh sedih, kasian dedek bayinya" sambung Salsa yang sudah mendengar cerita kotak yang akan Melliza berikan pada Alvi.
***
Setelah dari appartement Melliza, Alvi melanjutkan perjalanannya. Dia menyusuri setiap jalan berharap melihat mobil sang istri. Namun tetap saja Alvi tak melihatnya.
"Kemana dia? Apa dia pulang ke rumah orang tuanya?" gumam Alvi.
"Apa gue telpon Mamah Icha ya? Tapi kalau dia ke sana, dia pasti belum sampai" ucap Alvi.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah untuk berganti pakaian karena saat ini laki-laki hanya menggunakan kaos dan celana pendek, setelah itu dia bermaksud pergi kembali menyusul Melliza ke rumah orang tuanya.
Saat sampai di rumah dengan cepat Alvi mengetuk pintu dan muncul lah Bi Imas yang membukanya. "Den, Non Melliza sudah pulang" ucapnya.
"Huh? Melliza pulang Bi?" tanya Alvi tak percaya, dia takut salah dengar karena di garasi, dia tidak melihat mobil Melliza terparkir disana.
"Iyaa udah pulang, sekarang ada di kamar. Tadi di anter sama temennya, perempuan. Terus mobil Non dibawa lagi sama dia" jawabnya.
"Siapa temen Melliza? Mana mungkin Tania berbohong" ucap Alvi dalam hati.
Alvi pun tidak mempermasalahkan itu karena baginya yang terpenting Melliza sudah kembali ke rumah. Dengan cepat dia berlari menuju kamar. Dan begitu lega dan bahagianya ketika dia melihat tubuh Melliza meringkuk di atas tempat tidur.
Perlahan Alvi pun menaiki tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Melliza. Dia mengusap lembut punggung Melliza.
"Sayang, aku minta maaf. Aku tau aku bodoh banget, aku salah udah nyakitin kamu. Aku mohon maafin aku Syaa, kamu boleh marah sama aku. Tapi aku mohon jangan pernah berniat ninggalin aku. Sumpah Syaa, aku ga bener-bener serius atas ucapan aku yang bodoh tadi. Aku terbawa emosi Sayang, aku minta maaf" ucap Alvi pelan namun masih dapat terdengar jelas oleh Melliza.
****
Aku udah tambahin ya, lumayan panjanglah yaa.
Semoga tetap suka ya.
Terima kasih untuk orang baik yang selalu memberikan like, komentar positif dan menyumbangkan poin nya untuk cerita aku ini.
Jangan bosen ya dan kalau bisa tolong kalau udah selesai baca di like yaa, komen juga, vote juga boleh banget🙏
Dan kasih rate bintang lima✨✨✨✨✨
Tengkyuu💚💚💚💚