
Baru saja Alvi akan mencari suatu bukti di meja yang ada di kamar mereka, tapi hal tersebut gagal karena Melliza masuk ke dalam kamar untuk mengajaknya makan malam.
"Lagi apa sayang?" tanya Melliza ketika melihat Alvi seperti mencari sesuatu.
"Ah ini aku lupa berkas yang waktu itu aku simpan dimana ya" jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mungkin di ruang kerja kali" ucap Melliza.
"Ohiyaa mungkin, yaudah ayo kita makan" ucap Alvi menghampiri istrinya.
Mereka pun keluar kamar dan pergi menuju meja makan untuk makan malam bersama. Tidak ada perbincangan yang seperti biasanya, kini mereka hanya diam dan menikmati makanan masing-masing.
Melliza merasa aneh dengan sikap suaminya hari ini, terlebih dia takut jika suaminya itu curiga dan semua rencana yang dia buat hancur berantakan. "Sayang, kamu kenapa sih diam aja? Ga seperti biasanya deh. Ada masalah di kantor?" tanyanya pada Alvi.
"Engga ko sayang, semua baik-baik aja. Aku cuman lagi cape aja" jawab Alvi.
Setelah makan malam selesai, pasangan suami istri itu langsung masuk kembali ke dalam kamar. Alvi merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Melliza kini masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sebelum tidur.
Alvi pun memanfaatkan situasi itu, dengan cepat dia bangun dan mencari suatu bukti. "Dimana ya kira-kira? Mungkin di laci meja riasnya? Atau laci di samping tempat tidur?" gumamnya.
Alvi pun menuju laci meja rias Melliza, dia langsung membuka satu persatu dan ternyata disana ada beberapa map coklat yang berisikan beberapa data pribadi Melliza. Dan pada tumpukan map coklat yang terakhir, Alvi menemukan sebuah buku berwarna pink yang halaman depan buku itu bertuliskan nama Ny. Melliza Anantasya.
Alvi begitu terkejut dan wajahnya kini mulai memanas menahan amarah ketika dia membaca isi dari buku pink yang di dalamnya terdapat informasi dan rekam medis terkait perkembangan bayi yang berada di dalam kandung Melliza.
Usia kandungan Melliza sudah lima minggu. Ah mungkin sekarang usianya sudah memasuki minggu ke enam. Alvi terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri bagaimana bisa Melliza menyembunyikan hal sebesar ini darinya.
"Bagaiaman bisa kamu menyembunyikan ini dariku, Syaa? Apa maksudnya?" gumam Alvi prustasi.
**
Melliza begitu terkejut ketika dia membuka pintu kamar mandi ternyata Alvi sudah berada di depan menunggunya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dan Melliza semakin terkejut lagi ketika Alvi mengangkat tangannya menunjukkan sebuah buku berwarna pink. Buku Kesehatan Ibu dan Anak yang kini ada pada tangan Alvi.
"Apa ini maksudnya?" tanya Alvi dengan menatap tajam Melliza.
"A-aku bisa jelasin" jawab Melliza gugup dan takut.
"Apa jelasin apa? Apa lagi huh?" ucap Alvi dengan nada suara yang mulai meninggi dan seketika membanting buku itu tepat di kaki Melliza.
"Aku ga bermaksud menyembunyikan itu. Aku punya alasan, aku mohon jangan salah paham dulu" ucap Melliza takut Alvi salah paham dan kini matanya mulai memerah.
"Ternyata kamu ga berubah ya, kamu tetap dengan pendirian kamu yang ga mau punya anak. Oh jangan-jangan kamu menyembunyikan ini semua karena kamu berniat menggugurkannya ?" ucap Alvi melepaskan tangannya kasar pada dagu Melliza.
Melliza membelalakan matanya, sungguh Melliza tidak mengerti dengan jalan pikiran Alvi. Kini wanita itu sudah tidak bisa lagi membendung kesedihannya. Bagaimana bisa laki-laki yang dia cintai berpikiran seperti itu tentang dirinya. Karena kesal tanpa sengaja Melliza melayangkan sebuah tamparan pada pipi mulus suaminya.
Alvi memegangi pipinya yang ditampar oleh Melliza, sedikit perih jika dirasa. Tapi Alvi kini malah menatap kembali Melliza dengan tajam dan malah tersenyum smirk kepadanya.
"Serendah itukah aku dimata kamu? Aku akui dulu aku ingin menundanya. Tapi itu dulu sebelum aku memikirkan semua dampaknya. Aku juga punya hati, aku punya perasaan. Mana mungkin aku berani membunuh anak aku sendiri" ucap Melliza dengan air mata yang terus mengalir.
"Asal kamu tau aku lakuin itu semua ada alasan. Aku menutup rapat-rapat tentang kehamilan ini karena..." ucapan Melliza terhenti karena Alvi menyanggahnya, laki-laki itu tidak membirkan dia kesempatan untuk menjelaskan.
"Karena kamu ga mau aku tau kan? Jika aku tidak tau maka kamu bisa merayu aku agar memberikan kamu izin kembali bekerja? Kamu lakukan ini agar kamu bisa menjadi perempuan karirkan? Itukan alasan kenapa kamu ga mau punya anak dulu? Kamu terus-terusan meminta izin ingin bekerja. Sebegitu pentingkah karir untukmu Melliza? Aku menyesal telah menikahi perempuan seperti kamu" ucap Alvi dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Hah apa kata mu?" tanya nya tidak percaya.
"Aku menyesal menikah dengan mu" ucap Alvi penuh penekanan.
Melliza hanya bisa tertawa hambar saat mendengar ucapan Alvi. Hatinya terasa sakit dan kini air matanya semakin terus mengalir. "Huh? Baiklah, maaf karena telah membuatmu merasa menyesal. Aku tidak akan membiarkan rasa menyesalmu semakin bertambah karena menikahiku" ucap Melliza.
Karena sudah merasa tidak kuat menahan rasa sakit atas ucapan Alvi kepadanya, Melliza pun pergi. Tapi saat dia akan membuka pintu, tangannya di tahan oleh Alvi.
"Mau pergi kemana kamu?" tanyanya.
"Bukankah kamu menyesal? Jadi aku akan pergi. Ohya tenang saja jangan khawatir, aku tidak akan melukai anakku sendiri. Aku masih waras. Dan ya, karena aku tidak diberikan waktu untuk menjelaskannya sendiri, maka kamu bisa lihat kotak yang ada di laci samping tempat tidur. Mungkin itu bisa mengubah pandangan mu terhadap aku. Tolong jangan cari aku. Aku butuh waktu sendiri"
Kemudian Melliza menghempaskan tangan Alvi dan dia langsung pergi dari rumah itu menggunakan mobilnya.
**
Huhuu gimana-gimana nih eps kali ini?
Tolong dibantu like, komen, vote dan kasih rate bintang lima ya.
Aku kasih sedikit konflik nih biar gregett gituh hihiii
Semoga eps kali ini dapat kalian sukai dan dipahami yaa๐
Terimakasih๐๐๐๐